Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Wanita paling tega


__ADS_3

Kini di ruang perawatan itu tinggal Bima dan bayinya, serta Renata yang sudah sadar tapi memilih untuk kembali tidur.


Ini sudah lewat satu hari Renata dan bayinya di rumah sakit, kata dokter jika semua baik-baik saja mereka bisa pulang dalam dua hati lagi.


Bima menatap bayi mungil yang tidak berdosa itu, tapi berkali-kali juga ia menatap wanita nan angkuh yang saat ini tengah berbaring di atas tempat tidur.


Semenjak di lahirkan ke dunia ini, bahkan wanita yang seharusnya di panggil ibu itu sama sekali tidak memberikan air susunya.


Berkali-kali pikirannya kembali ke satu jam lalu saat seorang perawat memintanya ke ruang administrasi, sebuah angka yang besar yang harus di bayarkan untuk membawa keluar anaknya.


Karena keegoisan wanita itu, ia harus mencari cari untuk mendapatkan uang sebanyak itu, belum lagi kalau Renata masih harus melakukan operasi kembali pengangkatan rahim.


Ia begitu terharap wanita itu tidak setuju melakukannya agar tidak bertambah biaya rumah sakit yang harus di bayarkan olehnya, sedangkan uangnya sudah raib di bawa pergi perampok.


Untuk keluar dari masalah itu, terpaksa ia meminta Dirman untuk menjual kembali pick up nya.


Dirman yang sudah datang dimintanya untuk pergi kembali bersama pick upnya, ia berharap pria itu dapat dengan mudah membawa kembali uang agar tidak lama-lama berada di rumah sakit.


Semakin lama di rumah sakit, itu artinya semakin banyak juga biaya yang harus ia bayar.

__ADS_1


"Ehhhhkkkk!?" suara anak yang mulai menggerakkan tubuhnya, dengan cepat Bima menghampiri bayinya,


"Hallo Yusuf, ada apa nak?"


"Oekk, oeks, oeks ....!" bukannya menjawab sapaan Bima dnahn senyuman, anak yang di beri nama Yusuf oleh Bima itu malah menangis dengan begitu keras hingga membangunkan wanita yang tengah tertidur lelap itu.


"Ya ampun, berisik sekali sih. Aku lelah, diamkan anak itu!?" gerutu Renata dengan suara tingginya, ia malah memalikkan tubuhnya ke arah lain.


Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan pikiran wanita itu.


Bima kembali menoleh pada bayinya yang semakin menangis,


Bima pun segera mengangkati bayi itu dari ranjangnya dan menggendongnya dengan hati-hati membawanya mendekati Renata,


"Ren, anak kita sepertinya lapar. Kamu sudah cukup kan istirahatnya, bisa beri dua susu?"


"Enggak, bawa pergis aja. Dia bukan akan aku!?"


"Ya Allah ren, kamu boleh tidak menganggapku suamimu lagi. Tapi anak ini butuh kamu, jangan menyiksanya!"

__ADS_1


"Aku nggak peduli ya, mau di mati, mau dia hidup, kalau kamu mau sama dia, belikan susu dong! Banyak di toko susu formula. Pokoknya aku nggak mau ya di repotkan sama dia." Renata tetap berkeras hati.


Ternyata hal itu di saksikan oleh Indah yang sengaja datang untuk menjenguk bayi itu karena kemarin ia belum sempat melihatnya.


"Renata!?"


Ucapan Indah seketika membuat dua orang itu berbalik, Renata perlahan mencoba bangun sambil menahan perutnya yang masih sakit karena bekas operasi.


Renata tersenyum getir, "Baguslah kamu datang," ucap rwnata pada Indah yang masih berdiri di depan pintu, "Kayaknya yang bakal jadi ibu buat anak itu sudah ada, jadi nggak usah repot-repot melibatkan aku lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Renata memilih memalingkan wajahnya. Ia bahkan tidak peduli dengan tangisan bayi itu yang semakin menjadi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2