
POV Indah
Lega, ya benar perasaan lega itu ada. Aku lega dengan status baruku yang akan aku sandang dalam waktu beberapa Minggu lagi.
Sedih, Ya mungkin aku juga sedih. Bukan karena aku terlalu tidak punya pendirian. Tapi aku benar-benar menyayangkan sebuah hubungan yang sudah terjalin harus terputus dan mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk kembali karena aku terlalu jenuh dengan semua yang sudah terjadi.
Angkot yang aku tumpangi kini telah berhenti tepat di depan kontrakan Aya, kontrakan aku juga. Entah apa yang membuatku ingin memakai kendaraan umum yang berbeda.
Kenapa bukan taksi, alasannya karena taksi hanya bisa di pesan satu orang saja sedangkan aku sedang tidak ingin sendiri.
Bibirku sedikit melengkung ke atas saat melihat sahabatku yang serba bisa itu tengah duduk di teras dengan majalah yang ada di tangannya,
Kadang aku merasa iri dengan Aya karena hidupnya seperti tanpa beban.
Ahhhh benarkah? Mana ada hidup tanpa masalah..., aku kandang merasa butuh wejangan dari Aya untuk menghadapi hidup agar tidak banyak mengeluh.
Begitu melihat kedatanganku, Aya terlihat berdiri dan meletakkan majalahnya di atas meja yang ada di sebelahnya, aku mempercepat langkahku.
"Indah, bagaimana? Apa semua baik-baik saja?"
Inilah yang aku suka dari Aya, dia selalu menanyakan kabarku meskipun aku tidak pernah menanyakan kabarnya, bahkan aku juga tidak tahu kenapa Aya sampai memilih tinggal di kontrakan sedangkan rumah orang tuanya tidak begitu jauh dari tempat kami tinggal.
"Baik, semoga lebih baik!" ucapku sambil memeluk Aya. Aku saat ini hanya butuh sebuah pelukan, rasanya pelukan itu mampu mencairkan kembali hatiku yang beku.
Aya mengusap punggungku, "Kamu pasti bisa melewati semuanya!"
Aku bisa tersenyum sekarang, setidaknya karena Aya aku tidak akan pernah merasa sendiri lagi.
Mbok, bagaimana kabar mbok di kampung? Aku sengaja tidak memberitahunya tentang apapun yang terjadi padaku. Cukup aku yang tahu.
"Terimakasih Aya, kamu kekuatanku saat ini!"
"Iya!"
Setelah puas berpelukan, seperti biasa Aya akan mengajakku masuk, menyuguhiku camilan dan minuman. Dia benar-benar bisa menjadi ibu bagiku.
"Siap untuk cerita?" tanyanya, aku juga tahu semua yang ia lakukan untuk merayuku agar mau bercerita padanya, tapi aku suka.
Aku pun akhirnya menceritakan semuanya pada Aya, tidak ada satupun yang terlewatkan.
"Ternyata mas Bima mu itu gentle juga ya!?" ucap Aya, aku tahu semalam ini sosok mas Bima memiliki kesan yang buruk dalam pandangan Aya. Tak apa, aku pun sempat berpikir seperti itu.
Semoga kedepannya ia memang jadi ayah dan suami yang baik untuk istri dan anaknya.
POV Indah Off
...***...
Nyonya Rose begitu murka, ia melempar semua yang ada di depannya membuat semua pelayan ketakutan dibuatnya.
"Bima benar-benar ya. Aku tidak pernah berharap akan melahirkan anak sebodoh dia, dia benar-benar seperti bapaknya, sama-sama bodoh!"
__ADS_1
Ternyata keributan itu sampai juga di depan, tampak sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah besar itu.
Bima keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah berkas di tangannya.
"Ada apa di dalam?" tanyanya pada penjaga yang membukakan pintu mobil untuk Bima.
"Nyonya besar sedang mengamuk, tuan!"
"Mengamuk?!" gumam Bima, ia pun dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah dan benar saja, rumah begitu berantakan dengan banyak pecahan keramik dan kaca yang berserakan di lantai.
Ia juga bisa mendengar suara teriakan seperti orang gila dari ruang keluarga.
Bima pun kembali berjalan menuju ke tempat keributan itu,
"Hentikan, ma!" teriak Bima Sabil menahan tangan nyonya Rose yang hampir melemparkan vase keramik dari tangannya.
"Bagus, masih peduli juga kamu sama mama."
"Duduk ma!"
"Enggak, aku akan menghancurkan semuanya seperti kamu menghancurkan apa yang sudah mama rencanakan bertahun-tahun."
"Cukup ya ma, jangan sampai kesabaran Bima habis. Sebaiknya mama tidak membuang-buang waktu, segera gunakan waktu yang sedikit ini untuk mengemasi barang-barang mama!"
"Apa maksudmu?"
Bima pun menyerahkan berkas yang ada di tangannya kepada sang mama.
Nyonya Rose pun segera memeriksa isi berkas itu,
Nyonya Rose pun dengan begitu marah dan menyobek berkas itu menjadi serpihan kecil-kecil.
"Sudah hancur, sekarang kamu bisa apa tanpa berkas ini!?" nyonya Rose melempar serpihan itu di atas kepala Bima hingga tampak seperti hujan kertas.
Tapi bima malah terlihat tersenyum smirtt, tidak ada wajah khawatir sama sekali.
"Jangan khawatir ma, itu hanya copiannya saja, sedangkan aslinya di bawa oleh pengacara Hadi."
"Kamu benar-benar ingin membunuh mama pelan-pelan ya!"
"Sudah lah ma, semua bukan milik kita. Sudah waktunya semua ini kembali ke pemiliknya yang sebenarnya!"
"Ini hasil kerja keras mama, kamu jangan macam-macam dengan semua milikku!"
"Ayolah ma, kita awalnya tidak punya apa-apa. Jadi seharusnya mama bisa menerima kalau semuanya juga akan kembali ke orang yang paling berhak."
"Tidak, aku tidak setuju."
"Mama mau setuju atau tidak, tetap saja. Keputusan sudah terjadi, segeralah berkemas karena mungkin lima atau enam jam lagi pengacara Hadi akan datang untuk mengambil kembali rumah ini."
Bima pun segera berlalu meninggalkan mamanya yan GB terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Nyonya Rose pun langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai setelah Bima benar-benar meninggalkannya.
"Aku harus apa sekarang?" gumamnya, ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ia sungguh akan malu jika sampai pengacara Hadi datang dengan para pengacara lain untuk membantu Indah.
Nyonya Rose pun akhirnya bersedia untuk mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam sebuah koper besar.
Hingga akhirnya waktu yang di tunggu pun tiba, baru saja nyonya Rose hendak meninggalkan rumah, pengacara Hadi sudah lebih dulu datang dengan dua orang di sampingnya, Meraka berpakaian begitu rapi.
"Nyonya Rose!?"
"Pak Hadi, silahkan masuk pak!" nyonya Rose pun mengurungkan niatnya untuk pergi, ia mempersilahkan pengacara Hadi dan kedua temannya untuk masuk dan duduk. Beruntung pelayan sudah membersihkan rumah jadi tidak berantakan lagi seperti tadi.
Pengacara Hadi tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar,
"Kenapa aku rasa rumah tampak kosong ya, nyonya Rose!"
"Ohhh ini, aku hanya menyisihkan barang-barang lama saja dan akan menggantinya dengan yang baru."
"Ohhh begitu, oh iya nyonya kedatangan kami ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu, kami tengah melakukan pengalihan kepemilikan rumah kepada orang yang benar-benar memiliki hak atas rumah ini."
Nyonya Rose masih terlihat menampakan wajah tegasnya, tidak terlihat jika dia baru saja marah-marah dan mengamuk seperti orang gila, dia benar-benar pandai berakting.
Nyonya Rose tersenyum tipis, "Sebenarnya saya menyayangkan hal ini, seandainya saja Indah tidak egois dan bisa sedikit lebih adil. Apa pak Hadi tidak merasa kalau Indah begitu serakah?"
"Maaf nyonya, tapi ini semua memang sesuai prosedur yang ada. Dari perjanjian yang anda dan suami anda tanda tangani dua belas tahun silam, di sini jelas-jelas menyatakan kalau rumah akan jatuh ke tangan Indah saat Indah sudah dewasa. Jadi saya meminta keikhlasan nyonya Rose untuk meninggalkan rumah ini!"
"Tapi rumah ini sudah saya rawat selama ini!?"
"Kalau masalah itu, kami akan memberi subsidi biaya renovasi sebesar dua puluh lima persen. Dan kami akan segera menstranfer nya. Saya rasa pak Bima juga sudah memberitahukan hal ini pada nyonya, jadi bagaimana apa anda sudah siap untuk meninggalkan rumah ini?"
"Jadi anda mengusir saya!?"
"Ini sudah sesuai prosedur nyonya, akan lebih baik jika nyonya tidak membuat masalah dalam hal ini, karena jika itu terjadi maka kami akan melibatkan polisi."
"Siapa bilang saya tidak pergi, saya sudah bersiap-siap. Saya akan pergi, saya masih bisa hidup layak meskipun tidak tinggal di sini!"
Nyonya Rose pun mengambil koper yang ia sembunyikan di balik sofa besar dan menariknya keluar.
"Nyonya!!" panggil pak Hadi.
"Apa lagi?"
"Tolongin serahkan kunci rumah ini, karena penghuni baru akan segera datang!"
"Issstttt!" dengan kesal nyonya Rose melemparkan kunci rumah pada pengacara Hadi. "Ingat, saya tidak akan tinggal diam. Saya pasti akan melakukan sesuatu untuk mengambil rumah ini lagi."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...