
Indah pun terpaksa menyusul Bima ke kamar, tapi saat ia sampai di kamar ia tidak menemukan pria itu.
"Bima kemana?" gumamnya pelan. Perasaan ia melihat pria yang sudah berstatus suaminya itu masuk ke dalam kamarnya tapi ternyata tidak ada.
"Bukankah ini kesempatan!?" gumam Indah lagi sambil tersenyum, ia pun segera memeriksa laci dan beberapa lemari yang ada di dalam kamar itu, ia ingin tahu apa alasan Bima hingga mau menikah dengannya jika nyatanya dia sudah mempunyai seorang Istri.
"Aku tidak menemukan apapun!" gumamnya setelah tidak menemukan apapun,
"Kira-kira ia menyimpannya di mana ya?"
Indah tidak tahu harus mencarinya di mana lagi.
Ceklek
Hingga pintu kamar terbuka membuat Indah dengan cepat menutup lemari besar yang ada di kamar itu,
"Cari apa Ndah?"
"Ohhh ini mas, aku lagi cari baju ganti!"
"Itu bukan lemari baju, Indah! Lemari bajunya ada di ruang ganti!"
"Ahhh iya, tadi cuma coba cari aja. Ternyata dalamnya bukan baju!"
Bima tersenyum lalu duduk di atas tempat tidur, jika melihat tatapan Bima saat ini, siapapun tidak akan pernah mengira kalau seorang Bima adalah pembohong besar,
"Itu hanya barang-barang lama aku aja!"
Indah yang sudah berdiri membelakangi lemari jadi tertarik untuk kembali melihatnya,
"Boleh nggak aku lihat?"
"Boleh! Ada satu album yang ada foto kecil kamu juga!"
__ADS_1
"Benarkah?" Indah benar-benar antusias.
Bima pun kembali berdiri dan berjalan menghampiri Indah, kedua.lengan kekar Bima tiba-tiba mengungkung tubuh Indah hingga punggung Indah saat ini menempel ke lemari.
"Mas, mau ngapain?" Detak jantung Indah tidak bisa di bohongi, ia selaku saja berdetak lebih cepat saat berada di jarak yang begitu dekat dengan Bima.
Indah, kendalikan perasaanmu ...., Indah selalu berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak semakin jatuh ke dalam pelukan pria di depannya.
Tapi otak dan tubuhnya benar-benar tidak singkron, saat otaknya begitu getol untuk menolak tapi tubuhnya menerima setiap apa yang di lakukan oleh Bima.
Bahkan saat ini bibir Bima sudah menempel di bibirnya, tapi ternyata ia sama sekali tidak melawan atau memberi penolakan. Bibirnya malah larut dalam permainan Bima, seolah ia terhipnotis oleh pesona pria itu.
Hingga cukup lama dan Bima menjauhkan bibirnya, mengusap bibir Indah yang lipstiknya sedikit berantakan.
"Aku mencintaimu!" bisik Bima, sejekap memuluh lantahkan hati Indah, menghancurkan keangkuhan Indah yang baru saja ia bangun.
Lalu tangan Bima meraih sesuatu di belakang Indah.
"Mau lihat ini?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah album foto bersampul hitam yang cukup tebal itu.
Bima pun segara menarik tangan Indah dan membawanya duduk di atas tempat tidur.
Kini mereka duduk berhadapan dengan sebuah album foto di tengah mereka.
"Lihatlah, ini foto kamu. Kamu tahu waktu kecil kamu sangat gemuk dan aku sering memanggilmu babi!" ucap Bima sambil menunjuk sebuah foto yang memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun tengah di kejar seorang gadis kecil yang gendut berusia lima tahun.
"Jadi ini aku?" Indah menunjuk gadis kecil itu.
"Iya, dan ini_!" Bima membuka halaman selanjutnya, mereka berdua yang tengah duduk berdampingan di emperan toko, "Kamu ingat, waktu itu papa aku mengajak kita pergi ke taman hiburan dan itu kamu lagi merengek meminta es krim, tapi penjual es krimnya sudah tutup!"
Indah tersenyum, "Benarkah seperti itu?"
"Hmmm, kamu manja sekali waktu kecil!"
__ADS_1
Bima kembali membuka halaman selanjutnya, "Dan ini, kamu minta gendong aku gara-gara mau aku tinggal main bola tapi kamu malah menangis!"
"Jadi kita pernah sedekat itu?"
"Hmmm!"
"Lalu Kasandra?" Indah ingat jika Bima memiliki seorang adik perempuan, bukan tidak mungkin jika itu foto Kasandra dan Bima hanya mengada-ada.
"Bentar aku cari!" Bima membolak-balik foto-foto itu hingga sampai di foto acara ulang tahun,
"Ini saat Kasandra ulang tahun yang ke tujuh, Sandra tinggal sama nenek. Itulah kenapa sampai sekarang kita tidak pernah dekat!"
Bima menujukkan foto seorang gadis dengan kunciran dua, badannya lebih kecil dari pada Indah,
"Kamu tahu, Sandra dulu sering mengeluh karena mama lebih perhatian padamu di banding dengan Sandra!"
"Benarkah? Tapi kenapa mama sama papa kamu tidak mengadopsi aku saja dari pada membiarkanku tinggal di kampung?"
Mendengar pertanyaan Indah, seketika senyum di bibir Bima menghilang, ia seolah tengah menyembunyikan sesuatu,
"Lupakan!"
Bima segera menutup album foto itu,
"Jangan, aku masih ingin melihatnya!"
"Baiklah terserah kamu, aku keluar dulu ya!" Bima segera turun dari tempat tidur dan meninggalkan Indah begitu saja.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...