Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Tidur terpisah


__ADS_3

Kepulangan Indah langsung di sambut oleh Bima, ternyata Bima seharian tidak ke kantor hanya untuk menunggunya.


"Kamu dari mana aja?" tanya Bima yang sudah duduk di ruang tamu saat melihat Indah masuk.


Indah tersenyum, "Tadi keluar sama Aya!"


"Benarkah?"


"Tanya aja sama Aya mas!"


"Aku lapar, bisa kan buatkan makanan untuk aku?"


Indah sebenarnya begitu malas bersikap manis di depan Bima, tapi untuk sementara ini ia harus bersikap demikian sampai ia mengetahui alasan apa yang membuat Bima menikahinya walaupun dia tidak pernah cinta.


"Baik mas, tunggu bentar ya!"


Indah pun segera masuk dan berganti baju, walaupun sebenarnya capek tapi ia ingin segera mengatakan sesuatu pada Bima, ia pun segera ke dapur untuk memasak dan ternyata pria itu sudah menunggunya di sana,


"Mas, kenapa di sini?" Indah cukup terkejut, rasanya apa yang ia lihat kemarin selalu saja muncul saat melihat wajah Bima dan itu membuatnya semakin terluka.


"Aku ingin membantumu!"


"Nggak perlu mas, lebih baik mas Bima duduk sambil nonton tv, nanti kalau aku udah selesai akan aku panggil, bagaimana?"


"Biasanya kamu senang kalau aku temenin!"


"Bukan seperti itu mas, tapi kan memang memasak sudah kewajiban Indah, jadi nggak pa pa kalau mas Bima duduk aja!"


"Ya udah, aku duduk di sini sambil lihatin kamu masak!"


Indah akhirnya menyerah, semakin ia memaksa pria itu pergi maka akan pria itu akan semakin curiga padanya.


"Baiklah!"


Akhirnya Bima pun duduk di kursi yang ada di samping meja dapur, Indah mulai berkutat dengan bumbu-bumbu dan sayuran, sesekali ia melihat ke arah Bima yang terus menatapnya, ia menunjukkan senyumnya yang mungkin terkesan kaku.


"Sudah matang!" Indah segera menghidangkan hasil masakannya, mengambilkan nasi untuk Bima begitu juga dengan sayur dan lauknya.


"Kamu nggak makan?" tanya Bima saat melihat Indah bahkan tidak mengambil piring untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Enggak mas, tadi aku sudah makan di luar!"


"Tahu gitu kamu nggak perlu repot masak, aku bisa delivery order aja tadi!"


"Nggak pa pa mas, sudah cepetan di makan!"


"Terimakasih ya, kamu baik banget sama aku!"


"Sama-sama mas!"


Bima pun mulai menyantap makanannya, Indah berusaha keras untuk tetap bersikap biasa saja meskipun hanya untuk bicara manis di depan pria itu rasanya begitu berat. Rasanya ingin sekali meluapkan segala kekesalan dan kemarahannya saat ini juga, tapi jika itu semua ia lakukan sekarang tidak akan adil bagi dirinya sendiri dan juga dua orang yang sudah menyakitinya.


"Bagaimana mas, enak?"


"Masakanmu memang yang paling enak!" Bima mengeluarkan dua jempolnya untuk Indah.


"Kalau masakan Rena, apa tidak enak?"


Huks huks huks


Bima sampai tersedak mendengar pertanyaan Indah,


"Mas, hati-hati!" Indah berdiri dan segera mengambilkan segelas air putih untuk suaminya, Indah bisa tersenyum puas sekarang, "Minumlah mas!"


"Ndah, kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"


"Ya kan Rena sekretaris kamu mas, bahkan dia biasa keluar masuk rumah ini, pasti dia juga sering kan buatkan makanan untuk kamu mas, aku berterima sekali loh mas sama Rena, dia itu baik banget!"


Mendengar ucapan Indah, wajah Bima menjadi terlihat begitu tidak enak, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang yang jelas Indah melakukan untuk agar Bima semakin merasa bersalah padanya dan meninggalkan Rena.


Kamu harus tahu mas bagaimana rasanya di sakiti ...., atau kamu harus tahu bagaimana baiknya aku hingga kamu tidak akan sanggup untuk meninggalkan aku, hanya aku yang boleh meninggalkanmu bukan kamu ....


Walaupun pemikirannya itu begitu egois, tapi ada boleh buat. Hatinya sudah terlanjur mengeras dengan sikap suaminya sendiri.


Seandainya saja tidak seperti itu, dia tidak di bohongi dengan begitu dalam maka dia akan menjadi wanita yang paling menyayangi suaminya lebih dari apapun di dunia ini bahkan jika itu nyawanya sekalipun.


"Mas, sebenarnya Indah mau mengatakan sesuatu!"


"Apa?"

__ADS_1


"Itu kan ada kamar kosong, bagaimana kalau Indah tidurnya di sana saja!"


Bima lagi-lagi menghentikan makannya, ia segera menarik tangan indah dan menatapnya. Ingin sekali rasanya menarik kembali tangannya tapi itu tidak Indah lakukan, ia harus bisa meyakinkan pria di depannya itu.


Bima menatapnya dengan tatapan sayu, "Ada apa? Kamu nggak mau tidur sama aku?"


"Bukan begitu mas, Indah kan masih sangat muda. Indah takutnya nanti kita kebablasan, kita bisa melakukan hubungan itu nanti saat Indah lulus. Takutnya jika Indah tetap satu kamar sama mas Bima, Indah nggak bisa tahan. Mas Bima nggak keberatan kan?"


"Tapi kita suami istri, Indah! Tidak mungkin kita tidur terpisah!"


Cuma di atas kertas mas ..., di atas kertas dan Indah akan memudahkan agar mas Bima tidak perlu repot-repot untuk menghindar dari Indah .....


"Iya, itu bisa kita lakukan nanti saat aku lulus mas, tinggal tiga setengah tahun lagi kan mas!"


"Ini ada apa sebenarnya, biasanya kamu tidak pernah mempermasalahkan hal ini!" Bima terlihat begitu keberatan karena memang sekarang hatinya sudah mulai terbagi, bahkan mungkin sudah mulai condong kepada Indah.


"Nggak pa pa mas, Indah hanya ingin konsentrasi sama kuliah Indah saja, jadi nanti kalau mas Bima pengen pulang malam atau pulang dua hari sekali, Indah tidak akan mempermasalahkannya lagi!"


Tapi itu sekarang jadi masalah buat aku, Indah ....


Bima berusaha keras untuk membujuk Indah, tapi sepertinya keputusan Indah sudah bulat. Ia ingin tidur di kamar lain.


Indah mulai memindahkan barang-barang pribadinya ke kamar sebelah yang selama ini hanya di jadikan kamar tamu.


"Indah, aku bagaimana?"


"Mas, Indah nggak pindah ke apartemen lain atau ke luar negri, Indah hanya pindah kamar aja, kita setiap hari tetap bisa bertemu, pagi-pagi mas Bima bisa langsung menyapa Indah. Indah juga nggak akan kunci pintu kamar Indah!"


"Baiklah, terserah kamu!" Bima memilih berlalu dan masuk ke kamar utama.


Indah tersenyum puas, sedikit demi sedikit ia ingin membalas apa yang sudah di lakukan suaminya padanya, setengah tahun di bohongi sudah cukup membuatnya terluka.


Pindah kamar hanya cara indah untuk menghindari suaminya, ia benar-benar selalu terngiang dengan peristiwa kemarin, membayangkan bagaimana mereka bermesraan membuatnya begitu terluka.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2