Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Kejamnya Renata


__ADS_3

Indah menatap bayi yang terus menangi itu dengan tatapan iba, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib bayi itu jika ibunya terus seperti itu.


"Mas, coba lihat!" Indah mendekati Bima walaupun dalam hatinya ada rasa enggan, tapi melihat bayi yang terus menangis itu benar-benar membuatnya tidak tega.


Bima pun akhirnya menyerahkan bayi yang kelaparan itu pada Indah, terlihat sekali jika anak itu tengah mencari susu.


"Ya ampun mas, dia benar-benar lapar. Apa mas tidak punya susu formula?"


"Ada, sebenar ya aku buatkan!"


Indah pun mengangguk dan Bima Bima pun mencari susu formulanya, setelah ketemu ia malah terlihat bingung. Sejak semalam istri Dirman yang membuatkan susu formula untuk Yusuf. Tapi karena sudah semalam mereka bermalam di rumah sakit, mereka berpamitan pulang untuk melihat anak-anak nya sekalian Dirman ingin mencari orang yang mau membeli mobil pick up Bima. Dan sayangnya ia bahkan belum sempat mempelajarinya.


"Kenapa lama sekali mas, dia keburu lapar!"


"I_iya, sebentar!?"


Bima kembali membaca aturan pembuatan susu, dengan sangat hati-hati ia menuangkan satu sendok susu formula bubuk itu ke dalam botol dot kecil dan mengambil air panas, menutupnya kembali dan mengocoknya persis seperti yang di lakukan istri Dirman.


Bima segara membawa botol susu itu mendekati Indah, indah dengan cepat mengambilnya, tapi saat ingin meminumkannnya pada Yusuf, Indah kembali menghentikannya.


"Kenapa?" tanya Bima heran.


"Ini terlalu panas, mas! Tidak kamu campur air dingin ya?" tanya Indah dan Bima pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Harus di campur air dingin, ya udah biar Indah saja yang buatkan!"


Indah pun menyerahkan baby Yusuf pada Bima. Ia segera membuatkan susu kembali. Walaupun sebelumnya belum pernah membuat susu untuk bayi, setidaknya ia tahu takarannya.


Indah kembali dengan membawa sebotol susu, ia mengambil alih kembali baby Yusuf dan memberinya susu.


Benar saja, setelah meminum susu tangisnya segera reda bahkan ia kembali tertidur.


Setalah benar-benar memastikan baby Yusuf tidur, Indah dan Bima memutuskan untuk mengobrol di luar kamar agar tidak menggangu tidur baby Yusuf.


"Terimakasih ya Ndah, untuk ada kamu jadi Yusuf tidak menangis lagi."


"Tidak masalah mas, tapi akan lebih baik jika mas belajar membuat susu juga untuk Yusuf!"


"Iya pasti."


"Iya?"


"Bagaimana dengan biaya rumah sakit?"


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres. Kalau keadaannya sudah membaik kami akan segera pulang!" Bima sengaja membohongi Indah agar Indah tidak mengetahui kesusahannya. Ia tidak mau menjadi beban Indah lagi, sudah cukup selama ini apa yang telah ia lakukan pada Indah.


"Syukurlah! Tapi jika mas Bima butuh sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada Indah!"

__ADS_1


"Insyaallah, tidak ada. Sekali lagi terimakasih atas semua bantuannya."


Mendengar jawaban Bima, Indah malah merasa tidak enak. Ia tahu pria di sampingnya itu tengah menyembunyikan beban beratnya. Bahkan walaupun tahu, Indah tidak bisa memaksa apapun. Itu sudah menjadi keputusan Bima.


"Kalau begitu Indah permisi dulu ya mas, kalau butuh bantuan apapun jangan sungkan untuk menghubungi Indah!"


"Iya!"


Indah pun segera berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya, menyandarkannya di bahu kiri,


"Hati-hati di jalan!" ucap Bima sebelum Indah benar-benar pergi.


"Iya!"


Akhirnya Bima hanya bisa menatap punggung Indah yang semakin menjauh, rasanya ingin sekali memanggilnya dan mengatakan untuk jangan pergi tapi ia tidak punya hak lagi untuk itu, bahkan ia merasa sangat tidak pantas untuk wanita sebaik Indah.


Aku rela jika dia bahagia dengan yang lain, semoga nanti kamu akan menjadi satu-satunya untuk pria yang benar-benar mencintaimu ...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2