Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Indah mencari tahu


__ADS_3

"Mas, mas Bima beneran mau ke kantor?" Indah melihat khawatir pada keadaan Bima yang masih terlihat beberapa memar di wajahnya.


"Ada hal yang harus segera aku selesaikan, kamu tidak pa pa kan berangkatnya sendiri?"


"Nggak pa pa mas, tapi gimana dengan mas Bima?"


"Jangan khawatir, ini hanya luka ringan!"


Hari ini Bima harus segera meluruskan tentang perkelahiannya dengan Dava, ia tidak mau sampai nama perusahaannya tercoreng akibat gosip miring itu.


Selain itu, Rena sedari semalam terus saja menghubunginya. Ia tidak bisa mengabaikan ancaman Rena saat ini. Rena bias benar-benar nekat kalau soal ancaman.


Indah pun akhirnya berangkat sendiri, kali ini ia memesan taksi karena memang sudah terlalu siang.


Sesampai di kampus, ia langsung di sambut oleh Aya.


"Ndah, kamu tidak pa pa kan?"


"Tidak, ada apa?"


"Sudah baca ini belum?" Aya menunjukkan group chat kampusnya yang semuanya membicarakan tentang Dava.


"Ya ampun, seserius itu!?"


"Iya, kasihan tahu Dava!"


"Aku juga harus bikin perhitungan sama dia, dia di mana?"


"Tadi sih di taman belakang kampus!"


Indah pun meninggalkan Aya begitu saja.


"Mau kemana?" teriak Aya karena Indah tidak berpamitan dengannya padahal sebentar kelas di mulai.


"Mau temui dia dulu, ijinkan sama dosen!"


Aya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Indah yang semakin berlalu itu.


Langkah indah semakin di percepat saat melihat Dava sedang berdiri di sisi taman yang sepi.


Tangannya dengan cepat memukul punggung Dava,


Bukkkkk

__ADS_1


"Auhggggg! Apa-apaan sih?" keluh Dava sambil memegangi punggungnya.


"Kamu yang apa-apaan, anggap saja ini balasan atas tindakanmu semalam!"


Bukannya marah, Dava malah tersenyum smirt membuat Indah semakin kesal saja olehnya,


"Seharusnya Lo terimakasih sama gue!"


"Atas hal apa aku harus terimakasih sama kamu, kamu itu sudah jahat!"


Dava kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Lo itu polos atau bodoh, jika dia benar suami Lo bisa-bisanya suami Lo bohong dan Lo nggak tahu!"


"Maksudnya?"


"Bukan urusan gue juga, lagi pula urusan kita kan sudah hampir selesai tentang surat kontrak itu, jadi mulai sekarang gue bebasin Lo dari kontrak itu!"


Melihat Dava hampir pergi tanpa memberi keterangan apapun membuat Indah semakin penasaran apa lagi Dava terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Dava tunggu!" ia segera menahan tangan Dava agar tidak pergi.


"Apa lagi?"


"Apa yang kamu tahu?"


Dava kembali menoleh dan menatap Indah dengan tatapan penuh sangsi,


"Ya kalau gitu buktikan dong!"


"Baiklah, sekarang ikut gue!"


"Kemana?"


"Bisa nggak, nggak usah banyak tanya!"


Akhirnya Indah hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Baiklah aku ikut kamu!"


Mereka pun akhirnya meninggalkan taman itu, berjalan beriringan menuju ke tempat parkir motor Dava.


"Pakai ini!" Dava menyerahkan sebuah helm untuk Indah, "Bisa pakek kan?"


"Ya bisa lah!"


"Syukur deh!"

__ADS_1


Dava segera memakai sendiri helmnya, Indah pun melakukan hal yang sama. Mereka segera keluar dari kampus dengan motor Dava, Indah pasrah saat Dava mengajaknya. Ia ingin tahu apa yang di ketahui oleh Dava tentang Bima, ia tahu Dava tidak mungkin melakukan hal itu jika memang tidak ada alasan yang kuat.


"Bisa nggak pegangan?"


"Mana bisa!?"


Mendengar jawaban Indah membuat Dava kesal, ia mempercepat laju motornya membuat Indah terpaksa melingkarkan lengannya di pinggang Dava.


Dia sengaja sekali .....


Walaupun mengeluh tapi tetap saja Indah juga menuruti permintaan Dava karena ia takut jatuh dari motornya.


Hingga setelah lima belas menit mereka sampai di sebuah bahu jalan,


"Kenapa kita berhenti di sini?" Indah segera turun dan membuka helmnya.


"Bisa diam dan tunggu sebentar kan!" keluh Dava, ia pun juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Indah.


Dava terlihat Menganti sebuah rumah yang ada di seberang jalan dan tersenyum,


"Lo lihat, Lo kenal kan sama mobil itu?" Dava menunjuk sebuah mobil yang terparkir di salah satu halaman rumah elit itu.


Indah memperhatikan dengan seksama mobil itu, memang terlihat tidak asing,


"Itu bukankah mobilnya mas Bima!?"


Indah kembali menoleh pada Dava, "Kalau iya itu mobil mas Bima, berarti mas Bima sedang menemui kliennya!"


"Lo bodoh banget sih, sini gue tunjukin!"


Dava segera menarik tangan Indah,


"Kita mau ke mana?"


"Pengen tahu nggak?"


Indah hanya mengangukkan kepalanya dan menuruti permintaan Dava.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2