
Kini Bima dan Bram sudah duduk di lantai sambil mengelap keringatnya yang sudah bercucuran.
"Minumlah!" Bram melemparkan minuman kaleng yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin.
Bima segera membual segelnya dan meneguknya hingga habis.
"Kayaknya berat banget masalah loh? Belum puas punya dua istri?"
"Jangan meledekku!"
"Habis gimana, gue yang jelas-jelas populer, banyak banget penggemarnya, cakep, pengusaha sukses, artis papan atas. Satu cewek aja nggak ada yang nyangkut!"
"Lo terlalu pilih-pilih!"
"Ya mau bagaimana, emang gue punya standar tersendiri. Minimal kayak Indah lah, kalau Lo udah nggak mau sama Indah gue siapa deh nampung!"
Bima sudah menyiapkan kepalan yang siap melayani ke wajah Bram,
"Jangan macam-macam ya!"
"Oe ..., sabar dong. Jangan macam-macam ya, wajah ini aset berharga!"
"Gue bakal hancurin wajah Lo kalau sampai lo berani deketin Indah!"
"Kayaknya udah ada yang mulai cemburu nih ya!"
Bima terdiam, mungkin yang di katakan Bram benar. Ia selalu memiliki perasaan terbakar setiap kali melihat Indah dekat dengan pria lain. Dan hal itu tidak pernah ia dapat dari Rena. Ia bahkan membiarkan saja setiap kali Rena pulang malam karena dugem dengan teman-teman yang kebanyakan laki-laki.
"Masalah Lo apa?" tanya Bram setelah mereka cukup lama terdiam.
"Gue tersiksa Bram, Lo tahu kan bagaimana rasanya kalau hasrat kita tidak tersalurkan sebagai seorang laki-laki?"
"Iya, itu menyiksa!"
"Gue saat ini sedang mengalami hal itu!"
"Gila aja, bini lo udah dua, masih kurang?"
"Justru itu Bram masalahnya. Dia selalu hidup setiap kali gue deket sama Indah, tapi Lo tahu kan gue nggak mungkin nyentuh Indah. Sudah cukup gue nyakitin dia dengan berbohong tentang Rena!"
"Trus?"
"Alhasil gue pengen menyalurkan hasrat gue sama Rena. Tapi Lo tahu apa yang terjadi?"
"Ya mana gue tahu, gila aja Lo ngomongin kayak gituan sama bujang!"
"Makanya dengerin dulu, jangan motong pembicaraan orang!"
"Okey lanjut!"
"Saat gue sama Rena, yang ada di bayangan gue malah Indah. Alhasil gue bahkan tidak bisa berhubungan sama Rena meski Rena selalu maksa gue. Ini benar-benar nyiksa. Ini nggak terjadi sekali dua kali, tapi setiap kali gue ingin. Bahkan hanya dengan melihat waja Indah atau mendengarkan suaranya aja udah bikin gue berhalusinasi!"
"Okey fix gue tahu sekarang permasalahannya!"
Bima kali ini benar-benar mendengarkan apa yang akan di keluar dari bibir sahabatnya selanjutnya.
"Ayo cepetan!" Bima benar-benar tidak sabar.
__ADS_1
"Lo udah jatuh cinta sama Indah!"
"Nggak mungkin!"
"Coba gue tanya!"
"Iya?"
"Bagaimana rasanya saat Lo jauh dari Indah?"
"Nggak tahu, rasanya pengen uring-uringan aja!"
"Kalau jauh dari Rena, misalnya dulu pas awal nikah sebelum ada Indah?"
Bima kembali mengingat awal mereka nikah,
"Biasa aja, bahkan saat itu setelah ijab Qabul gue harus pergi ke luar kota selama satu Minggu dan biasa aja. Malah aneh saat pertama kali Rena ngajak berhubungan! Rasanya hambar aja, hanya gue nyalurin kebutuhan kelelakian gue aja!"
"Kalau pas nikah sama Indah?"
"Pas nikah, malamnya pengen banget nglakuin itu tapi aku nggak bisa!"
"Karena?"
"Ya karena ada Rena! Gue nggak mungkin hancurin hidup Indah!"
"Baiklah, pertanyaan ke dua. Gimana perasaan Lo saat deket-deket sama Rena? Minimal pertama kali nyentuh dia deh?"
"Ya biasa aja, kayak aku nyentuh wanita-wanita lain. Lo sendiri tahu kan gimana rasanya?"
Bima tidak memungkiri jika sebelumnya pergaulan mereka bukanlah pergaulan yang baik-baik saja. Mereka lama tinggal di luar negri dengan pergaulan bebasnya. Jika mereka butuh, mereka akan memanggil wanita malam untuk menemaninya.
Sedangkan Bram, sesekali ia masih suka melakukan hal itu.
"Kalau Indah?"
"Sama Indah, bekas bibirnya terus membekas Bram, gue Sampek bingung gimana hilanginya. Jantungku bekerja ekstra saat bersentuhan dengannya!" Indah bercerita sambil memegangi letak jantungnya. Bahkan hanya dengan mengingat kejadian-kejadian yang pernah ia alami dengan Indah saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang.
"Coba pegang, bahkan hanya menceritakan dirinya saja jantungku rasanya mau keluar dari tempatnya!"
Bima sampai menarik tangan Bram agar bisa merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Okey, gue sudah bisa nyimpulin sekarang. Lo beneran jatuh cinta sama Indah!"
"Lo yakin?"
"Yakin seyakin-yakinnya!"
"Trus gue harus gimana?"
"Cuma ada dua, pertahankan dia di sisi Lo atau Lo lepas demi kebahagiaan dia!"
Bima terdiam, ia tidak bisa membayangkan jauh dari Indah untuk saat ini. Bahkan saat di kantor pun jika boleh ia ingin membawa Indah ke sana.
"Itu nggak mungkin!"
"Maka segeralah mengatakan dengan jujur sama Indah sebelum dia tahu dari orang lain, jika sampai itu terjadi bukan tidak mungkin dia akan ninggalin Lo, kalaupun Lo Jujur juga nggak njamin sih kalau dia tidak pergi, tapi setidaknya dia tidak akan terlalu membenci Lo! Atau Lo bisa bilang sejujurnya sama Rena kalau Lo mencintai Indah!"
__ADS_1
"Kenapa sekarang gue malah tambah pusing sih!"
"Ya salah sendiri punya bini dua, ribet kan hidup Lo!"
...***...
Suara bel berbunyi, Indah dengan cepat menghampiri pintu.
"Selamat siang nona!"
"Dio!?"
"Nyonya besar mengirimkan ini untuk nona!"
Dio menyerahkan sebuah paperbag besar pada Indah.
"Terimakasih!"
"saya permisi nona!"
Setelah Dio pergi, barulah Indah masuk dan membawa paperbag itu ke kamar.
Bima yang sudah kembali langsung menuju ke kamar mandi, melihat Indah membawa masuk sebuah paperbag. Bima menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut.
"Itu apa Ndah?"
"Nggak tahu, tadi Dio yang kasih katanya dari mama!"
"Ohhh itu pasti gaunnya! Hari ini aku ke kantor bentar, nanti aku jemput pas mau acara ya!"
"Iya!"
Seperti biasa Bima selalu meninggalkan kecupan di kening Indah tapi Indah dengan cepat mengalungkan tangannya ke leher Bima.
"Indah!"
Indah menjijitkan kakinya agar bisa mencapai bibir Bima dan mengecupnya cukup lama mereka terdiam. Hanya diam menikmati sentuhan bibir mereka.
"Begini yang namanya ciuman mas!" ucap Indah setelah menjauhkan bibirnya.
Bima malah terlihat salah tingkah dengan apa yang Indah lakukan, ia sampai bingung harus melakukan apa.
"Kenapa jadi pipi mas Bima yang merah?"
"Ah masak, enggak!" Bima segera memegangi pipinya yang terasa panas.
"Aku berangkat!"
Bima berlalu begitu saja meninggalkan Indah yang menahan tawa melihat tingkah suaminya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...