Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Renata 2


__ADS_3

Hari ini Renata sudah berada di dalam ruangan seorang dokter yang akan menangani proses operasinya.


"Bagaimana,apa suami nyonya sudah setuju?" ini bukan kali pertama sang dokter menanyainya. Tapi kali ini pun jawabannya tetap akan sama.


"Suami saya sangat sibuk, ia setuju dengan semua keputusanku!" ucap Renata dengan tangan yang menggengam erat berkas laporan kesehatannya.


"Baiklah, mulai hari ini nyonya bisa melakukan prosedur medis hingga tiba saya operasi besok!"


"Baik dok!"


"Suster akan mengantar nyonya ke ruangan nyonya. Mulai malam nanti nyonya bisa melakukan puasa!"


"Baik dok terimakasih!"


Kini seorang perawat sudah mengantarnya ke ruangan, ia juga sudah berganti dengan pakaian seorang pasien. Beberapa alat medis sudah mulai di tancapkan ke tubuhnya untuk memastikan jika tidak ada masalah untuk melanjutkan proses operasi esok hari.


"Silahkan istirahat dulu nyonya, jika butuh sesuatu nyonya bisa memanggil kami!"


"Hmmm!"


Renata menatap nanar ruangan VIP rumah sakit itu. Ia mendapatkan fasilitas mewah tapi hatinya sekarang tengah kosong.


Bahkan keluarganya, tidak satupun yang menemani. Apalagi suaminya, ia bahkan memberi alasan bahwa ia akan pergi berlibur selama satu atau dua Minggu ini.


Keluarga kandungnya dimana? Berkat kesombongannya, ia bahkan memutuskan hubungan dengan keluarganya sendiri. Ia malu mengakui jika ia lahir dari keluarga miskin. Saudara perempuannya dan ibunya, ia telantarkan.


Hehhhh .....


Helaan nafas berat memenuhi ruangan itu, memang ini yang ia inginkan. Ia tidak akan bisa hidup susah hingga ia mampu menggadaikan apapun demi kehidupan mewah yang ia dapatkan saat ini.


Tapi sepi itu tetap ada dan ia hanya akan menghiburnya dengan meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja.


***


Hari yang di tunggu akhirnya datang juga, Renata sudah siap memasuki ruang operasi. Perawat membantu mendorong kursi rodanya. Operasi yang akan dia lakukan bukan operasi kecil, tapi tidak ada satupun keluarga yang menemaninya di saat susah seperti ini.


Pintu ruangan itu sudah tertutup rapat dari dalam, dengan lampu yang menyala di atas pintu menandakan jika operasi tengah berlangsung.

__ADS_1


Beberapa dokter tengah melakukan penanganan di bantu oleh beberapa perawat.


Operasi berlangsung selama dua jam, dan saat para dokter keluar dari ruangan itu, di luar ruangan tidak ada yang menyambutnya dan menanyakan bagaimana keadaan wanita yang belum sadarkan diri di dalam.


Bahkan hingga berhari-hari tidak ada yang datang menjenguknya, beberapa perawat yang memang bertugas untuk merawatnya sesekali saling bertanya, dan mereka mengira pasien wanita itu memang hidup sebatang kara, tidak punya siapapun yang akan menanyakan keadaannya.


Dua Minggu sudah Renata di rumah sakit, bahkan Pramu_, suaminya sama sekali tidak menghubunginya.


Renata bersiap untuk pulang setelah menyelesaikan proses administrasi.


Sebuah taksi yang sengaja ia pesan sudah menunggunya di luar rumah sakit, tidak seperti pasien lainnya yang di jemput keluarganya.


Pemandangan di sekelilingnya sempat membesitkan rasa iri, tapi segera ia tepis karena memang itu pilihannya.


"Jalan pak!"


"Baik nyonya!"


Taksi mulai berlalu meninggalkan pelataran rumah sakit, wanita itu duduk di bangku penumpang sesekali terlihat ia mengetikkan sesuatu di layar ponselnya hendak mengirim pesan pada seseorang, tapi untuk sekian kalinya ia hapus.


"Apa Pramu sudah benar-benar melupakan aku!?" gumamnya pelan sambil menatap foto profil yang ada di kontak suaminya, tampan dan kaya. Siapapun pasti mau jika menjadi istrinya.


Tapi lambat laut, seakan semua itu memudar. Pramu kerap memilih pergi dengan asistennya di bandingkan dengan dirinya, asistennya memang cantik, dia juga seorang janda anak satu, penampilannya juga cukup bisa dipamerkan.


Hal itu tidak membuat Renata kesal, karena memang dari awal ia tidak mencintai pria itu. Ia hanya mencintai uangnya, asal semua kebutuhannya terpenuhi ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Kita ke mana nyonya?" tanya sopir taksi, rupanya Renata sampai lupa jika belum memberitahukan tujuannya.


"Kita ke perumahan blok A, taman indah!"


"Baik nyonya!"


Siapa yang tidak tahu perumahan itu, sekumpulan perumahan mewah yang dihuni oleh orang-orang elit dan berduit. Sepertinya sopir taksi langsung tahu jika penumpangnya adalah orang elit, tapi penampilannya sungguh tidak menunjukkan jika dia orang elit, wajahnya pucat tanpa make up dan rambutnya juga terlihat kucel, sepertinya selama di rumah sakit bahkan Renata malas untuk mempercantik diri.


Hingga akhirnya taksi itu sampai juga di depan rumah mewahnya, Renata menatap ke halaman, ada mobil suaminya.


Pramu di rumah? Tidak biasanya...

__ADS_1


Renata kembali melihat jam yang melingkar di lengannya, dan ternyata masih jam tiga sore. Biasanya suaminya itu akan pulang jika sudah jam tujuh malam.


"Ini pak!" Renata yang cukup penasaran segera menyerahkan selembar uang seratus ribuan, uang itu lebih dari tarif yang harus ia bayar, "Kembaliannya ambil saja."


"Terimakasih nyonya!"


Renata mengambil tasnya yang tidak begitu besar, ia memang tidak membawa banyak baju karena memang tujuannya bukan untuk berlibur.


Renata mulai melangkahkan kakinya, rumahnya terlihat sepi, ia langsung menuju ke kamarnya, tidak ada siapapun, ia meletakkan tasnya begitu saja di lantai. Ia juga memeriksa kamar mandi tapi kamar mandi itu juga kosong.


"Dia tidak di kamar!?" gumamnya kemudian Renata pun memilih memeriksa ruang kerja suaminya,


Tok tok tok


Tangan ringkihnya mengetuk pintu yang tertutup rapat itu,


"Pram, apa kamu di dalam?"


Tapi hingga beberapa kali tidak ada sahutan dari dalam. Hingga ia memutuskan untuk membuka pintu itu dan benar saja tidak ada siapapun di sana.


Renata kembali keluar, tapi dari atas tangga matanya menangkap sebuah kamar tamu yang tidak sepenuhnya tertutup, dengan langkah pelan sambil menahan nyeri sobekan di perutnya akibat bekas operasi, ia menuruni tangga.


Tapi langkahnya semakin ragu saat mendengar pekikan, decitan dan ******* dari dalam ruangan itu. Pikirannya langsung mengarah ke suatu hal, jelas suara pria yang tengah mendesah itu adalah suara suaminya, tapi suara wanita itu?


Renata terpaku tepat di depan pintu saat pintu itu ia buka, pria yang telah menjadi suaminya itu telanjang bulat dan tengah menggagahi seorang wanita.


Bahkan saat tatapan pria itu mengarah ke Renata, bukannya terkejut dan menghentikan pergumulannya, pria itu malah tersenyum dan melanjutkannya, keringatnya bercucuran jatuh ke tubuh wanita yang berada di bawahnya yang juga telanjang bulat.


Mata Renata semakin panas, tapi kakinya tidak mampu beranjak dari tempat itu. Ia menyaksikannya sampai akhir, dengan air mata yang tanpa perintahnya mulai membasahi pipinya. Rasa nyeri di perutnya seakan terkalahkan dengan rasa nyeri di ulu hatinya.


Jika sebelumnya ia hanya mendengarkan cerita orang, tapi kali ini ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia kira ia akan tegar seperti biasanya, tapi pertahanannya yang telah ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap mata.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2