Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Perkelahian


__ADS_3

Bukkkkk


Hal itu membuat tubuh Bima terhuyung dan jatuh ke lantai, tidak hanya sekali bahkan Dava memukuli Bima hingga berkali-kali, walaupun tubuh Bima jauh lebih kekar tapi ia sedang dalam keadaan yang tidak siap.


"Brengsek Lo, bangun! Ayo bangun!"


Bukkk


Lagi Dava melayangkan pukulannya,


"Gue nggak akan biarin Lo sakiti Indah, ayo bangun dan balas gue! Cemen Lo!"


Indah yang menyaksikan itu hanya bisa teriak histeris.


"Dava ... berhenti! Tolong, siapapun tolong!"


Semua orang berkerumun di sana, tapi tidak satupun yang berusaha melerai, Bima yang sudah bisa menguasai diri segera bangkit dan membalas pukulan Dava.


Baku hantam pun terjadi, tapi Bima tidak terlalu banyak membalas karena memang ia menyadari jika dirinya salah.


Tidak ada yang berani untuk mendekat dan melerai perkelahian mereka karena dua-duanya adalah orang yang cukup di segani.


Hingga akhirnya Indah mengumpulkan keberaniannya saat melihat Bima benar-benar babak belur, ia pun menarik tubuh Dava,


"Dava, apa yang kamu lakukan?"


Teriakan Indah berhasil menghentikan Dava, ia menatap tajam pada Indah,


"Kamu denger Indah, pria ini tidak pantas bersanding dengan kamu, dia pria brengsek!"


"Cukup, jangan pernah berani berbicara seperti itu tentang suami saya. Kamu bukan siapa-siapa buat aku, kamu hanya penggangu dan sekarang kamu dengan lancang memukul suamiku!"


"Pergi, pergi ...., aku Indah benar-benar membenci kamu! Pergi ..., cepet pergi!!!"


Dava terdiam, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang selain pergi. Ia tidak mau membuat Indah semakin membencinya.


Pipi Indah sudah berlinang air mata saat ini, menatap kepergian Dava.


Indah dengan cepat menghampiri suaminya yang babak belur karena memang


"Mas, mas Bima tidak pa pa?"


Bima menggelengkan kepalanya walaupun saat ini bahkan seluruh wajahnya lebam, bibirnya berdarah begitupun dengan pelipisnya.


"Kita pulang saja!"


Indah pun langsung memapah tubuh Bima, ia juga menghubungi Dio agar menjemput mereka.


Dio yang memang belum terlalu jauh segera memutar balik mobilnya.


"Tuan muda, apa yang terjadi?"


"Nanti saya jelaskan!"


"Kita ke mana nona?"


"Ke rumah sakit!"


"Jangan, kita pulang saja!"


Dio beralih menatap Indah meminta persetujuan darinya,


"Baiklah, kita pulang!"


Mobil yang mereka tumpangi segera melaju meninggalkan tempat pesta.


Hingga akhirnya mobil mereka sampai juga di depan apartemen, Dio membantu memapah tubuh bima sedangkan Indah yang memencet tombol lift.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka sampai juga,


"Di sini saja!" Indah mengintruksikan pada Dio.


"Apa saya harus memanggil dokter?"


"Nggak perlu, kamu pulang saja!"


"Tapi tuan!"


Indah pun menganggukkan kepalanya,


"Baiklah, kalau terjadi sesuatu. Hubungi saya nona!"


"Iya, pasti!"


Dio pun segara pergi, Indah mengambil lap dan es batu untuk mengompres memar di wajah Bima.


"Biar aku lepas!" Indah membantu melepaskan jas yang di kenakan oleh Bima. Melepaskan kemejanya juga.


"Di tahan ya mas! Aku akan mengompres ke berbagai memar di wajah dan tubuh mas Bima!"


Bima hanya bisa mengangukkan kepalanya, Indah beberapa kali menempelkan kain itu ke luka Bima.


"Aughh, pelan!"


"Maaf!"


"Mas Bima ada masalah apa sih sama Dava, kenapa Dava sampai segitu marahnya sama mas Bima?"


Bima bingung harus menjawab apa, selama ini memang mereka sudah kerap bersaing tapi Dava tidak pernah berlaku fisik padanya tapi hari ini ia tahu jawabannya. Karena apa yang ia lihat tadi sore.


"Pokoknya Indah nggak bakalan maafin dia, dia sudah sangat keterlaluan!"


Indah mendekatkan wajahnya, menempelkan kain itu ke sudut bibir Bima dan sesekali meniupnya agar Bima tidak kesakitan.


"Indah!"


"Hmmm?"


"Aku mencintaimu!"


Seketika Indah menghentikan kegiatannya, ia menatap wajah Bima. Bima mendekatkan bibirnya pada bibir Indah dan menempelkannya di sana. Cukup lama dan tidak melakukan pergerakan, ia hanya ingin menikmati dinginnya bibir Indah.


Indah segera menjauhkan bibirnya saat teringat dengan luka di bibir Bima, pasti rasanya sangat sakit.


"Mas, bibir mas Bima masih terluka!"


Indah kembali mencelupkan lapnya di air dingin lalu menempelkan lagi ke bibir Bima.


"Indah, apa kamu mencintaiku?"


"Mas Bima sudah tahu jawabannya, tidak mungkin Indah bertahan sejauh ini kalau Indah tidak mencintai mas Bima!"


"Kalau suatu saat aku melakukan kesalahan, apa kamu akan memaafkan aku dan tidak akan pergi meninggalkan aku?"


"Cinta Indah murni untuk mas Bima, jika pun nanti Indah harus pergi, makan Mas Bima yang akan memintanya!"


Srekkkk


Bima menarik tubuh Indah ke dalam pelukannya, ia tidak peduli dengan tubuhnya yang sakit. Untuk saat ini ia hanya ingin memeluk Indah dan berharap malam ini tidak cepat berlalu.


Walaupun hanya sekedar berpelukan, baginya ini sudah lebih dari cukup.


"Kamu percaya kan kalau aku mencintaimu?"


Indah mengangukkan kepalanya, "Indah percaya!"

__ADS_1


"Terimakasih!"


...****...


Ternyata perkelahian itu juga di saksikan oleh para karyawan Bima.


"Aku pikir pak Bima bakal menikah dengan nona Rena, tapi ternyata sama wanita lain!"


"Iya, mereka pasti tadi sedang memperebutkan wanita itu. Bagaimana ya perasaan nona Rena kalau tahu hal ini?"


"Memang dia tidak datang?"


"Nona Rena kan sudah tiga hari tidak masuk kerja karena sakit!"


"Ahhh sayang sekali, aku pengen tahu ekspresi nya bagaimana!?"


"Iya!"


"Kenapa tidak kasih tahu aja nona Rena sekarang, setelah itu kita lihat reaksinya besok!"


"Benar juga!"


Salah satu dari mereka pun segera melakukan panggilan pada Rena.


"Hallo!"


"Hallo nona Rena!"


"Ada apa?"


"Nona masih sakit ya?"


"Iya sedikit, ada apa?"


"Sayang nona tadi tidak hadir, di sini terjadi insiden!"


"Insiden apa?"


"Pak CEO baru saja berkelahi dengan putra group E!"


"Karena?"


"Karena seorang gadis yang oleh pak CEO di perkenalkan sebagai istrinya!"


Rena mematikan sambungan telponnya begitu saja. Ia sampai meremas ponselnya tidak percaya.


"Bima, teganya kamu lakukan itu sama aku!?"


"Siapa putra group E? Apa dia temannya Indah? Atau mungkin pacarnya?"


Rena seketika tertarik dengan sosok yang di maksud.


Rena pun segera memeriksa ponselnya, pastilah kejadian itu langsung menjadi sorotan publik dan berita mereka langsung tersebar.


Benar saja, berita mereka langsung berada di beranda.


Dua pewaris besar perusahaan sedang memperebutkan seorang gadis yang di duga istri dari pewaris group H


Membaca judulnya saja membuat darah Rena semakin mendidih.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2