Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Serangan Balik


__ADS_3

Semuanya kembali berjalan normal, seolah tidak terjadi apa-apa dengan hubungan mereka.


Indah selalu saja meminta Bima untuk mendahulukannya di banding dengan Rena.


Pagi ini Indah tahu jika Rena meminta Bima untuk menjemputnya, Indah pun mencari cara untuk menggagalkannya.


"Aughhhhh!"


"Kamu kenapa Ndah!"


Indah memegangi perutnya membuat Bima yang sudah siap berangkat segera menghentikan langkahnya,


"Nggak tahu mas, tiba-tiba perut Indah sakit!"


"Kalau gitu kita ke dokter sekarang ya!" Bima sudah memapah tubuh Indah.


"Nggak perlu mas, antar aja Indah ke apotek, Indah mau beli obat yang biasa Indah minum!"


"Beneran nggak pa pa? Harusnya ke dokter aja kalau sakit banget!" terlihat Bima benar-benar khawatir.


"Nggak pa pa mas, nanti kalau mas nggak keberatan Indah mau ikut mas ke kantor aja dari pada mas pulangin Indah lagi, mau ngampus takutnya kambuh di kampus!"


"Baiklah nggak pa pa, kalau memang nanti tambah parah, bilang ya!"


"Iya mas!"


Indah pun akhirnya ikut dengan Bima menggunakan mobilnya, terlihat ponsel Bima tersu berdering dan Indah sudah tahu siapa yang melakukannya.


Mereka sekarang sudah berada di dalam mobil, Bima sesekali menikah ponselnya tapi enggan untuk menjawab panggilannya,


"Mas, kenapa nggak di angkat. Jangan-jangan penting loh!"


"Nggak pa pa, hanya Rena!"


"Kan Rena penting mas!"


Bima menatap Indah lagi, "Kamu lebih penting! Maksudku kesehatanmu lebih penting, bagaimana sekarang sudah lebih baik?"


Indah bisa tersenyum samar sekarang,


"Sedikit mas!"


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah apotik,


"Biar aku aja yang turun, obat sakit perutnya apa?"


"Nggak pa pa mas?"

__ADS_1


"Nggak pa pa!"


Indah pun menyebutkan salah satu merk obat maag yang biasa ia minum.


"Baiklah, tunggu di sini!"


Bima pun segera turun dan menuju ke apotik. Melihat ponselnya Bima kembali berdering membuat Indah ingin menambahkan bumbu di sana.


Indah mengambil ponsel itu dan mengirimkan pesan untuk Rena.


//Aku nggak bisa jemput kamu, Indah sakit perut, aku harus merawatnya//


Setelah berhasil mengirim pesan itu, Indah segera menghapusnya dari daftar pesan agar Bima tidak tahu.


Saat Bima hendak kembali, Indah dengan cepat mengembalikan ponsel itu ke tempatnya,


"Ada mas?"


"Ada, ini sekalian aku belikan minum. Kamu minum sekarang ya!"


"Iya mas, makasih ya. Kamu baik deh!"


Bima mengusap kepala Indah dengan begitu manis.


"Kamu benar mau ikut ke kantor?"


"Tapi mungkin nanti aku akan sedikit sibuk, kamu nggak pa pa?"


"Nggak pa pa, mas. Jangan khawatir aku akan jadi gadis yang manis nanti!"


"Baguslah kalau begitu!"


Bima kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Seperti biasa, sebelum turun Bima membukakan pintu mobil untuk Indah. Kedatangan Indah ke kantor sudah bukan hal yang asing lagi karena Indah kerap ke kantor untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Tapi yang membuat luar biasa, Bima terlihat membopong tubuh Indah hingga ke ruangannya.


"Mas, ini berlebihan!"


"Nggak pa pa, dari pada nanti perut kamu sakit kalau buat jalan lagi!"


Hingga akhirnya langkah Bima terhenti tepat di depan ruangannya begitu juga dengan wanita yang datang dari arah lain,


"Rena, kamu sudah datang!?"


Bima bingung harus melakukan apa sekarang, ia tidak mungkin menurunkan Indah dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Jadi ini alasannya ...., Rena menatap Bima dengan tatapan kesal walaupun bibirnya sekarang tengah tersenyum.


"Selamat pagi Rena!" sapa Indah sambil mengalungkan tangannya di leher Bima.


"Selamat pagi nona Indah!"


"Kamu masuk dulu ya, Rena!" ucap Indah lagi sambil tersenyum pada Rena kemudian bergantian pada Bima.


"Iya, silahkan!"


Bima masih saja terpaku di tempatnya hingga suara Indah menyadarkannya,


"Ayo mas, masuk!"


"Ahh, iya!"


Sebenarnya tadi Bima berencana untuk menjemput Rena setelah sampai di kantor tapi melihat Rena Sudan berada di kantor membuatnya cukup terkejut karena sebelum berangkat tadi ia sudah mengirim pesan pada Rena agar menungguinya hingga ia datang, tapi kenyataannya Rena sudah sampai di kantor lebih dulu.


Apalagi Bima datang dengan begitu ia mesra menggendong Indah.


Rena segera ke kamar mandi dan meluapkan kekesalannya di sana.


"Bima, dasar plin-plan ...., bisa-bisanya dia lakukan ini sama aku, aku benci ....!"


Rena berdiam diri cukup lama di dalam toilet perempuan hingga seseorang membuka pintu itu dari luar. Rena dengan cepat mengusap air matanya dan melihat siapa yang datang dari pantulan cermin besar di depannya,


Indah ....


Ternyata Indah, ia berdiri tepat di sampingnya. Ia mencuci tangan dan memperbaiki riasannya.


"Rena, apa menurutmu warna lipstik ini cocok untuk bibirku?" tanya Indah sambil menunjukkan warna lipstiknya.


Rena pura-pura tersenyum dan mengangukkan kepalanya.


"Mas Bima sangat suka dengan warna lipstik ini, dia suka sekali memandangiku saat aku memakai lipstik ini, katanya terlihat seksi!"


Indah yang polos itu sekarang sudah berubah, ia bukan lagi Indah yang polos dan udik, ia sekarang sudah menjelma menjadi wanita yang siap menghancurkan siapapun yang membuat dirinya hancur.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2