
"Apa langkah selanjutnya yang harus aku ambil?" gumam Indah sambil memandangi lalu lalang kendaraan yang saling mendahului di depannya. Pikirannya tengah melayang jauh.
Ia tidak bisa gegabah dalam hal ini, mencintai Bima tidak cukup untuk mempertahankan hidupnya. Apalagi saat ini bahkan pria itu seperti tidak pernah peduli dengan perasaannya.
Plek
Hingga tiba-tiba tangan seseorang memegang bahunya membuyarkan lamunan Indah. Indah segera mendongakkan kepalanya dan seseorang yang begitu ia harapkan tidak berada di dekatnya tiba-tiba berada di sampingnya.
Srekkk
Dengan cepat Indah menepis tangan itu, ia berdiri dengan wajah marahnya,
"Kenapa mas Bima ke sini?"
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu bisa di sini?"
"Itu bukan urusan mas Bima!" Indah segera berdiri dan hampir meninggalkan Bima tapi Bima berhasil menahan tangan Indah.
"Indah, kamu jangan keras kepala." teriak Bima membuat Indah kembali menatap tajam pada pria itu,
"Aku_?" Indah menunjuk dirinya sendiri dengan tangannya yang tidak di genggam oleh Bima, "Seharusnya aku yang bicara seperti itu sama mas Bima."
"Indah, aku tahu apa yang baru saja kamu lakukan. Seharusnya kamu tidak melakukan itu."
Mendengar perkataan Bima, hati Indah semakin terbakar, ia menatap remeh pada suaminya dan tersenyum getir,
"Jadi menurut mas Bima, Indah harus apa? Harus diam saja meskipun aku di bodohi selama ini, begitu? Hebat ya mas kamu!"
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu berprasangka buruk sama aku dan keluarga aku Indah, tidak semua yang pengacara Hadi katakan itu benar."
"Lalu kebenarannya apa? Kebenarannya jika mas Bima punya istri lain selain aku? Begitu?"
Mendengar penuturan Indah, Bima benar-benar terkejut. Ia kira Indah hanya tahu jika ia punya hubungan dekat dengan Renata, tapi bukan sepasang suami istri. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat dan Indah mengetahui semuanya.
"Puas kan mas sekarang sudah menyakiti Indah begitu dalam, lepaskan tangan Indah sekarang!" Indah mengibaskan tangan Bima yang sudah pasrah, ia sudah berjalan beberapa langkah tapi kembali ia menoleh pada suaminya yang masih terdiam di tempat, "siap-siap saja mas, gugatan cerai Indah pasti segera datang."
Mendengar perkataan yang terakhir dari Indah, Bima bagaikan tersambar petir. Ia tidak menyangka akan secepat ini Indah mengetahui semuanya.
Sedangkan Indah kini sudah masuk ke dalam bus, meninggalkan Bima yang menjatuhkan tubuhnya di tanah. Ia berlutut di sana, seolah-olah kakinya tidak bertulang lagi, "aku harus apa sekarang?"
Setelah mendapatkan kekuatannya lagi, Bima buru-buru bangkit. Ia harus segera mengejar Indah, membuat keputusan wanita itu berubah.
Hatinya sudah terlanjur sayang sama Indah.Ia tidak mungkin melepaskan wanita itu begitu saja. Selain karena memang tuntutan keluarganya.
Indah sudah sampai di apartemen, ia segera masuk ke dalam tanpa menyalakan lampu. Ia hanya menyalakan lampu kamar, mengunci pintu kamar dari dalam. Ia yakin pasti Bima akan segera mengejarnya.
Bima yang sampai apartemen dan mendapati lampu apartemennya belum menyala.
"Apa Indah tidak pulang?" tapi ia segera ke kamar tapi pintu kamarnya di kunci.
"Indah, buka pintunya. Kita harus bicara!"
Bima terus mengetuk pintu itu tapi Indah masih enggan untuk menjawabnya,
"Aku tahu kamu di dalam, ayo Indah buka pintunya!"
__ADS_1
"Jangan harap ya mas, aku tidak akan buka pintunya!" jawab Indah dari dalam. "Kamu sudah membohongiku terlalu banyak mas, beruntung aku tahu semuanya sebelum terlanjur.
"Maksud kamu apa? Aku sama sekali tidak berniat untuk membohongi kamu."
"Mas, Indah sudah tahu semuanya. Mau sampai kapan kamu terus membohongi Indah?"
"Ayolah Indah, ini bisa kita bicarakan baik-baik. Aku mencintai kamu, aku melakukan semua ini karena kamu."
Ceklek
Tiba-tiba Indah membuka pintu, tapi bukan karena hatinya luluh dengan pernyataan Bima. Ia bertekat akan pergi dari sana.
Senyum Bima yang awalnya muncul kini kembali redup melihat Indah dengan tas besar di tangan kanannya,
"Indah kamu mau ke mana?" Bima segera meraih tas itu.
"Aku mau pergi dari sini mas, jadi jangan halangi Indah lagi. Indah capek terus di bohongi seperti orang bodoh. Urusi saja istri pertama kamu itu."
Bima menjatuhkan tubuhnya lagi ke lantai dan merangkul kaki Indah agar tidak pergi, "Indah maafkan aku, aku sungguh menyesal. Aku sangat mencintaimu jadi jangan berpikir untuk pergi dari ku, aku mohon. Aku akan ceritakan semuanya dari awal."
"Mas, please. Jangan lakuin ini. Andai saja mas Bima mah jujur dari awal aku mungkin akan mempertimbangkannya, tapi tidak untuk sekarang."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...