Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Pertemuan Kembali (1)


__ADS_3

"Ayah mau ke mana?" Yusuf sedari pagi terus saja mengikuti langkah ayahnya, ia begitu penasaran saat melihat sang ayah berpenampilan rapi.


"Ayah harus ke kota, Yusuf. Kamu di rumah saja sama bibi Nurma! Ayah ke kotanya nggak lama, ayah cuma mau ambil uang untuk membayar pekerja!"


"Yusuf ikut!" tampak Yusuf terus memaksa.


"Yusuf, jangan aneh-aneh. Bukankah kamu kemarin sudah diam-diam pergi ke kota, jadi sekarang biarkan ayah pergi sendiri!"


"Nggak bisa, pokoknya Yusuf mau ikut. Lagi pula hari ini ngajinya libur ayah. Yusuf bosan di rumah!"


"Dasar keras kepala!" keluh Bima.


"Seperti ayah!"


Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengusap kelapa putranya itu gemas, "Baaklah, ayah bisa apa sekarang!"


"Asyikkkkk!" Yusuf begitu bersemangat, ia sampai berlarian melompat ke sana kemari.


"Tapi_!" Bima segera menangkap tubuh mungil itu dan membawanya ke pangkuannya, ia duduk di sofa ruang tamu, "Tapi ada syaratnya!"


"Siap, apapun syaratnya!"


"Benarkah?" Yusuf pun menganggukkan kepalanya, "Tidak boleh banyak gaya, ayah mau Yusuf jadi anak ayah yang penurut!"


'Siappppp!"


"Bagus, sekarang bersiap-siaplah!" Bima pun segera menurunkan yusuf dari pangkuannya dan putranya itu segera berlari ke kamarnya, hidup hanya dengan ayahnya saja sepertinya telah berhasil membuat Yusuf jadi anak yang mandiri di usianya yang seharusnya masih bermanja dengan ibunya.

__ADS_1


Sudah banyak wanita yang berusaha mendekati Yusuf maupun Bima, tapi sepertinya tidak ada satupun yang berhasil mengetuk hati duda satu anak itu.


Kini Bima membawa serta putranya ke kota, karena kebetulan ada orderan sayur ke kota, Bima sekalian membawa sayur. Ia membawa mobil pick up nya agar bisa di isi sayur dari pada mobilnya tidak begitu berfungsi, sambil menyelam minum air.


"Yusuf, tunggu sebentar di mobil. ayah mau ke bank dulu untukmengambil uang. Mengerti!" Bima memberi instruksi pada putranya itu saat mereka berhenti di depan bank setelah mengantakan sayuran ke pelanggan.


"Siap, tapi jangan lama-lama. Atau biarkan Yusuf masuk ke toko kue itu, sepertinya enak!" ucap Yusuf sambil menunjuk sebuah toko kue yang berada di sebelah bank, hanya berjarak satu gedung dengan Bank yang akan dimasuki oleh Bima.


Bima pun mulai befikir, dari pada meninggalkan putranya sendiri di dalam mobil,sepertinya akan lebih aman jika membiarkan Yusuf menikmati kue di sana.


"Baiklah, biar ayah antar ke sana!"


"Tidak perlu ayah, cukup beri Yusuf uang. Bagaimana?"


Ini bukan kali pertama Bima membiarkan putranya melakukan hal-hal sendiri, Yusuf sudah cukup bisa di andalkan.


"Siap!"


"Hubungi ayah jika ada sesuatu!"


"Iya, Yusuf pergi dulu!"


Seperti biasa, Bima akan memantau sampai putranya itu benar-benar masuk ke dalam toko kue. Setelah memastikan putranya benar-benar masuk, ia pun memutuskan masuk ke dalam bank.


Yusuf segera menuju ke depan etalase yang berisi bermacam-macam kue, dengan menjinjitkan kakinya ia mencoba memilih kue yang ia inginkan,


"Mau kue yang mana dek?" tanya pegawai toko itu dengan begitu ramah pada yusuf.

__ADS_1


"Emmmm, aku mau itu, itu, itu, dan itu!"


Wanita itu menatap ke sekeliling Yusuf, tapi ia tidak menemukan siapapun di sana,


"Dek, kamu sama siapa?"


"Sama ayah, tapi ayah belum ke sini. Bisa kan memberikan aku semua yang aku mau tadi, aku punya ini!" Yusuf menunjukkan dua lembar uang seratus ribuan miliknya itu.


"Baiklah, kakak akan ambilkan. Sekarang adek bisa cari tempat duduk ya!"


"Siap kak!"


Yusuf pun segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk mencari bangku kosong. Hingga ia menemukan satu tempat yang dekat dengan dinding kaca. Ia sangat suka melihat ramainya kota, jadi jika dia duduk di sana ia akan bisa melihat mobil-mobil yang berjalan.


Baru saja Yusuf menggeser kursinya, tiba-tiba seseorang yang sepertinya sedari yusuf masuk sudah memperhatikannya itu memanggilnya,


"Yusuf!?" tanyanya ragu, sepertinya ia juga takut salah orang.


"Indah. Kamu mengenal anak itu?" tanya pria yang duduk di depannya sambil mengamati wajah Yusuf.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya, kasih vote dan hadiah juga ya, yang banyak biar semangat nulisnya


Follow juga ig aku ya


Ig @ tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2