
Tempat ini begitu asing baginya, walaupun sekarang penampilannya sudah seperti gadis kota tapi tetap saja dia bukan orang yang terbiasa dengan kehidupan kota. Ia bahkan tidak tahu dengan cara orang di kota saat menyapa.
Indah tidak tahu harus bicara atau bertanya pada siapa, ia merasa asing di tempat itu.
"Baiklah, jika kamu tetap di sini kamu juga nggak akan menemukan siapapun, jadi masuk aja!" Indah meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri akhirnya ia memutuskan untuk masuk, di dalam ia langsung dibuat tercengang dengan penampakan gedung bawah yang begitu luas nyaris tanpa sekat, bahkan matanya bisa menyapa dari ujung sampai ujung, ia bisa melihat luar dari dinding-dinding kaca yang mengelilingi ruangan itu.
Hilir mudik orang-orang yang berjalan cepat, ada yang masuk, keluar atau berjalan beriringan sambil membicarakan hal-hal yang penting, semuanya tidak ada yang pelan. Semua harus bekerja keras di tempat yang baru ia datangi itu.
"Aku harus apa?" gumamnya pelan. Ia hanya berdiri di tengah ruangan dan mencari seseorang yang bisa ia tanya.
Kemudian matanya tertuju pada beberapa wanita dengan pakaian rapi sedang berdiri di balik meja besar, sesekali mereka menerima telpon atau menunjukkan tempat pada orang-orang yang datang.
"Ke sana! Iya, aku ke sana!"
Indah pun memutuskan untuk menghampiri meja itu, seorang wanita langsung menyambutnya dengan begitu ramah.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf, saya Indah! Bisa tunjukkan di mana ruangannya mas Bima?"
"Kalau bisa tahu, ada di divisi apa ya?"
"Divisi ya?" bahkan Indah tidak tahu apa yang di maksud dengan divisi. Ia juga tidak tahu suaminya berprofesi sebagai apa.
"Iya, soalnya di sini ada banyak karyawan yang bernama Bima!"
"Gitu ya?" Indah tidak tahu harus ke mana sekarang, kalaupun pulang ia juga tidak tahu jalan untuk pulang, "Kalau begitu boleh nggak mbak saya nunggu di sini sampai kantor titip, soalnya saya tidak tahu di divisi apa mas Bima yang aku maksud!"
"Oh iya silahkan! Di sana ada ruang tunggu khusus tamu!"
"Terimakasih!"
Indah pun memutuskan untuk menunggu hingga kantor tutup. Matanya sampai lelah melihat lalu lalang orang yang datang dan pergi, keluar dan masuk tapi tidak satupun dari mereka yang ia kenal. Hingga lama kelamaan matanya semakin berat saja, ia benar-benar tidak bisa menahan kantuk lagi.
"Huahhhhhhj!" ini untuk kesekian kalinya ia menguap sampai matanya berair hingga tanpa sadar ia benar-benar terlelap saat menunggu.
"Apa ada orang yang menungguku?" seorang pria sedang bertanya pada wanita yang sama dengan yang di tanyai oleh Indah tadi. Pria blasteran indo Amerika, tampak sekali dari rambutnya yang sedikit pirang dan warna kulitnya yang putih bersih.
"Maaf mister Bram, sedari tadi orang yang anda maksud belum ada. Hanya ada satu orang yang menanyakan tentang Bima!"
"Maksudnya CEO Bima?"
"Saya kurang yakin!"
__ADS_1
"Nama orangnya?"
Wanita itu pun menatap pada Indah yang tengah tertidur.
"Itu mister!"
Sepertinya orangnya itu, tapi kenapa menanyakan Bima? Apa dia pikir Bima juga tahu masalah ini?
"Baiklah, biar aku tanya langsung pada orangnya!"
"Silahkan mister!"
Pria yang di panggil mister itu adalah salah satu kolega Bima sekaligus sahabat dekat Bima. Ia kerap datang ke kantor Bima untuk melakukan kerja sama, karena papa mereka memiliki kerja sama yang melibatkan mereka berdua. Dia juga seorang influenzer, kerap syuting di berbagai acara terutama acara memasak.
Bram menatap wajah tenang Indah yang tertidur,
"Cantik! Tapi masak dia yang mau di jodohkan sama aku? Papa pinter juga milihnya!"
Bram memilih untuk menatapi wajah Indah tanpa berniat untuk membangunkannya. Wajahnya begitu dekat untuk mengamati wajah Indah hingga membuat Indah terkejut di buatnya.
"Astaga!"
"Maaf, aku pasti mengagetkan kamu ya, kenalkan nama saya Brama sky, panggil aja Bram!" pria itu menyodorkan tangannya pada Indah. Indah yang masih bingung hanya bisa menyambut tangan Rafa.
"Indah!"
Indah segera merasa lega saat pria asing di depannya tahu kalau dia sedang menunggu lama,
Mungkin mama rose sudah kasih tahu mas Bima kalau aku nungguin, makannya mas Bima kirim orang buat menuin aku ....
"Bagaimana kamu pasti lapar kan? Bisa kita makan sekarang?"
Indah memang sudah merasa lapar saat ini, ia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba tangannya segera di tarik pria asing itu,
"Kita hanya perlu menyeberangi jalan itu, karena di sana ada banyak makanan enak!"
Indah hanya bisa pasrah, pria yang sedang bersamanya itu terlihat baik.
Mereka hanya menyeberangi jalan dan sampai di sebuah restauran besar.
"Jangan khawatir tentang makanan, di sini semua makanannya enak! Aku bisa jamin!"
Beberapa pelayan langsung mengantarkan makanan untuk mereka tanpa harus memberitahu terlebih dahulu, pria itu hanya penepuk tangannya beberapa kali saja.
__ADS_1
"Ini banyak sekali!?" Bahkan meja yang terlihat besar itu penuh dengan makanan.
Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang kota, hanya untuk makan dua orang saja kenapa makanannya sebanyak ini?
"Jangan sungkan, ayo makanlah! Aku yang akan mentraktir mu!"
Indah malah terlihat bingung dengan cara makan semua makanan yang bahkan dia tidak pernah ia kenal itu.
"Boleh tahu nggak, kenapa sendoknya tidak ada? Aku tidak bisa pakek ini!" Indah menunjukkan sebuah pisau yang ada di depannya. Hanya ada pisau dan garpu di sana.
"Kalau makan stik kan memang harus pakai itu!"
"Ini juga tidak ada nasi!" Indah melihat banyak daging dan sayur dengan berbagi macam olahan, tapi tidak ada nasi sama sekali.
Bram malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia cukup terkejut dengan kepolosan gadis di depannya itu.
...***...
Di salah satu ruangan yang ada di gedung pencakar langit itu. Seorang pria tengah sibuk dengan pekerjaannya, bahkan ia sampai melupakan jam makan siangnya. Ini sudah lewat tiga jam dari jam makan siang.
Tapi ponselnya berdering membuatnya mengalihkan perhatiannya dan layar monitor di depannya.
"Mama?"
Pria itu adalah Bima, ia segera mengangkat telpon dari mamanya.
"Hallo ma, ada apa?"
"Apa Indah sudah sampai di ruangan kamu?"
"Indah?" Bima begitu terkejut, "Maksudnya Indah ke sini?"
"Iya tadi datang sama mama, tapi pas mau masuk, mama dapat telpon dari butik, ada masalah sedikit di butik, aku lupa ponsel Indah kebawa mama!"
"Nggak ada ma! Mama ninggalin Indah di mana?"
"Di pintu depan, sudah mama suruh tanya sama resepsionis kok!"
"Ya udah Bima cari Indah dulu ma!" Bima pun segera mematikan sambungan telponnya. Ia segera menyambar jas yang ia gantung begitu saja di sandaran kursi dan segera memakainya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...