
"Ndah, mana bajuku?" teriakan itu tidak mendapat sahutan dari wanita yang sepertinya tengah sibuk di dapur, jarak dapur dan kamar tidak terlalu jauh seharusnya Indah bisa mendengarnya.
Bima tidak mendapati bajunya di atas tempat tidur seperti biasanya, ia hanya bisa menatap pasrah dan segera mencarinya sendiri kemudian menyusul Indah yang berada di dapur. Ia menatap wanita yang tengah menatap makanan di atas meja, tanpa senyum atau sapaan selamat pagi.
"Ndah, kamu marah ya?" tanya Bima yang sudah duduk di depan meja makan, tapi Indah bersikap seolah ia tidak mendengarkan. Ia memilih menuangkan segelas susu di gelas kosong yang ada di depan Bima.
"Ndah, harusnya aku yang marah. Bisa-bisanya kamu yang marah padaku hanya gara-gara semalam. Aku tahu aku juga salah tapi kamu lebih salah, aku suami kamu sudah sepatutnya aku marah jika istri aku pergi dengan pria lain. Kamu tahu itu."
Indah menghentikan kegiatannya dan menatap Bima dengan tatapan dingin, "Jadi menurut mas Bima aku begitu salah?"
"Ya." jawab Bima dengan tegasnya.
"Lalu mas Bima tidak pernah salah?" lagi-lagi Indah mempertegas ucapannya. Ia sudah begitu kesal dengan pria di depannya ingin sekali mengatakan semuanya tentang pernikahannya tentang Rena dan tentang semua kebohongan yang telah Bima perbuat.
"Aku jadi mempertanyaan kesetiaanmu Indah, apa benar kamu wanita yang setia?" Bima kembali beranjak dari duduknya, tidak berniat untuk mulai makan, sepertinya nafsu makan pagi ini benar-benar sudah hilang. Pria itu bahkan sekarang sudah berbalik hendak pergi.
Indah mengepalkan tangannya di balik meja makan. Ia berusaha keras untuk menahan emosinya, "Setia itu hal yang mahal dan seorang yang murahan tidak akan bisa melakukannya! Dan mas Bima menanyakan kesetiaanku, lalu bagaimana dengan kesetiaan mas Bima sendiri?"
Ucapan Indah berhasil membuat langkah pria itu terhenti,
Apa yang Indah masuk? Apa Indah mulai tahu sesuatu ...?
Indah melepaskan afronnya dan meletakkannya begitu saja, ia tidak peduli lagi dengan pandangan Bima terhadapnya. Ia punya batas kesabaran atas apa yang ia lakukan.
Indah berlaku masuk ke dalam kamar, ia segera menyusul nya tapi pintu di kunci dari dalam oleh Indah,
"Indah, buka pintunya, kita harus bicara!"
Di dalam Indah segera menyiapkan tasnya, sesekali tangannya mengusap air mata yang selalu saja tidak bisa ia kendalikan.
__ADS_1
"Indah ...., jangan seperti ini!"
Indah seolah tidak mendengar teriakan Bima dari balik pintu. Hingga ponsel Indah berdering membuatnya fokus pada ponselnya.
"Dava!?"
Indah dengan cepat menyambar ponselnya dan menggeser tombol terima, ia menempelkan benda pipih itu di depan daun telinganya.
"Ada apa Dav?"
"Aku sudah bisa membuka berkas yang terkunci itu."
"Baiklah, kita bertemu di kampus. Aku datang setengah jam lagi."
Indah mematikan sambungan telponnya secara sepihak, ia menghapus air matanya dan menyandarkan tas di bahu kirinya. Memasukkan benda pipih itu di sana juga.
Ceklek
"Indah kita harus bicara!"
"Indah buru-buru mas."
"Jangan bilang kamu buru-buru mau ketemu sama Dava!?"
Indah menatap Bima dengan tatapan sinisnya, "Kalau iya, memang apa peduli mas. Pedulikan saja sekretaris kesayanganmu itu." Indah segera mengibaskan tangannya dari genggaman Bima dan berlalu begitu saja.
Bima bahkan tidak punya tenaga untuk mengejar Indah,
"Apa Indah benar-benar tahu hubunganku dengan Rena? Kalau iya, kenapa ia tidak mengatakan langsung hal ini padaku?"
__ADS_1
"Dava. Iya pasti dia yang sudah mengatakan semuanya pada Indah."
Bima pun dengan cepat kembali ke kamar, ia segera bersiap-siap. Ia harus segera menyusul Indah dan menanyakan hal ini langsung pada Indah.
Indah memilih memesan taksi agar lebih cepat, ia kini sudah duduk di dalam taksi dengan wajah terlihat cemas sambil meremas sudut tasnya. Ia tidak sabar ingin tahu apa isi di dalam berkas itu.
Hingga akhirnya taksi yang membawanya sampai juga di depan halaman kampus, setelah melakukan pembayaran sesuai kargo, Indah bergegas turun dari taksi, terlihat sosok yang ingin segera ia temui sudah menunggunya di depan kamus.
"Dav!?"
"Ayo!" tanpa memberi penjelasan, tangan Indah sudah langsung di tarik olehnya. Dava membawa Indah ke tempat yang menurutnya paling aman. Perpus, di sana ia tidak akan ada yang menggangu.
"Bagaimana?" suara Indah kini sedikit berbisik, walaupun masih pagi tapi di perpus sudah cukup banyak pengunjung terutama mereka yang sudah menghadapi skripsi.
Dava segera mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan menghidupkannya. Sebuah flashdisk yang ia ambil dari Indah kemarin juga sudah menancap di sana.
"Lihat ini!"
Indah terpancing untuk melihat layar laptop, ia melihat semacam kurva dan beberapa tabel. Tapi tetap saja Indah tidak tahu apa dan bagaimana cara bacanya.
"Ini apa?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...