
Baju pendek yang tengah ia kenakan benar-benar tidak menunjukkan jika dia seorang wanita yang baru saja melakukan proses operasi, tidak ada yang ia bawa kecuali sebuah ponsel yang tersisa badannya.
Bahkan ia tidak ingin menengok bagaimana wajah putra yang telah sembilan bulan.menyatu dengan dirinya, dengan angkuhnya ia merapikan rambutnya yang terlihat baru saja kering.
Hanya sebuah lirikan mengarah ke pantulan cermin yang ada di depannya pada pria yang tengah duduk memangku bayinya,
Tidak ada lagi yang bisa aku andalkan darinya, rasanya menjadi janda lebih baik dari pada menjadi istri seorang petani sayur ...
Ia sudah benar-benar merasa jika pilihannya saat ini adalah yang paling benar.
"Aku pergi!" ucapnya setelah memastikan penampilannya sudah sempurna, hanya perutnya saja yang memang belum bisa kembali ke bentuk semula.
Renata sudah hampir melangkahkan kakinya, tapi Bima segera bangun,
"Tunggu!"
"Apa lagi?" tanyanya dengan wajah malas, terlihat sekali sudah tidak ada rasa suka dari wanita itu pada pria yang menggendong bayinya dengan penuh cinta.
"Aku talak tiga kamu, dan jangan harap kamu bisa kembali meskipun kamu menginginkannya."
Renata tersenyum puas dengan ucapan Bima, ia benar-benar berbalik kali ini,
"Baguslah, aku tidak akan pernah kembali lagi."
"Itu jauh lebih baik jika kamu sadar."
Renata hanya mengerakkan alisnya tanpa berniat menjawab dan ia pun benar-benar pergi dari ruangan itu.
Tepat saat ia keluar, Dirman dan istrinya baru datang. Mereka pasti mendengar semua perbincangan antara Bima dan Renata di dalam.
"Baguslah kalian datang, kalian memang cocok tuh berteman dan Bima, sama-sama gembel."
"Astaghfirullah hal azim, mbak. Mbak Renata ini sudah keterlaluan." ucap Dirman yang sudah naik pitam, tapi segara di tahan oleh istrinya agar tidak di teruskan.
__ADS_1
"Benar kan yang aku katakan, orang kampung ya gaulnya sama orang kampung juga." ucapnya tapi kemudian tatapannya beralih pada dua wanita yang juga mengarah ke mereka, "Tuh orang kampung satu lagi cocok, silahkan reoni di depan, atau kalau kamu mau silahkan ambil kembali tuh suami tercintamu!"
Dirman dan istrinya yang tidak tahu siapa yang menjadi lawan bicara wanita angkuh di depannya segera menoleh ke belakang dan ternyata itu wanita yang di ketahuinya sebagai mantan istri Bima,
Indah kali ini datang dengan Aya, ia sengaja mengajak Aya karena merasa canggung jika datang sendiri. Ia hanya ingin melihat keadaan banyu malang yang tengah ditelantarkan oleh ibu kandungnya sendiri.
"Indah, kayaknya menanggapi ucapan wanita itu bisa bikin kita ikutan stress, mending biarin aja deh Ndah." ucap Aya dengan suara lantang sambil melirik ke arah Renata, tentu hal itu berhasil menyulut emosi Renata.
"Jaga ya mulut kamu, anak ingusan aja mau melawan saya."
"Anda Tante yang harus jaga mulutnya, sudah tua blagu lagi." Aya membantah ucapan Renata dengan begitu berani membuat Dirman dan istrinya harus menahan tawa.
"Kamu ya_!" Renata berjalan cepat sambil mengayunkan tangannya hendak menampar Aya, tapi dengan cepat di tahan tangannya oleh Aya.
"Kenapa? Mau duel nih Tante satu lawan satu. Paling aku colok perutnya dikit aja udah ambruk." ucap Aya sambil tersenyum mengajak.
Sabar Renata, sabar ...., tahan emosi kamu ....
Renata memilih menarik tangannya dan berlalu dengan penuh kemarahan.
"Tante?" tanya Indah sejenak menghentikan tawanya, dan Aya pun menganggukkan kepalanya, kemudian mereka kembali tertawa.
Setelah puas menertawakan kejahilan Aya, mereka bergegas mendekati Dirman dan istrinya.
"Wahhhh, mbaknya benar-benar hebat. Ternyata gitu ya caranya menghadapi orang sombong!" ucap istri Dirman.
"Biasa aja mbak, emang orang kayak gitu harus di lawan, kalau enggak bisa nglunjak dia ."
."Ya sudah kita masuk sekarang?" tanya Dirman dan mendapat sambutan dari Aya dan Indah.
Kedatangan mereka yang bersamaan membuat Bima bertanya-tanya,
"Kalian bisa datang bersamaan?"
__ADS_1
"Iya mas, tadi kebetulan ketemu di depan."
"Ohhh!"
Indah benar-benar tidak sabar mendekati Yusuf yang masih dalam gendongan Bima,
"Yusuf, bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya dengan gaya anak kecil.
"Yusuf baik, Tante." jawab Bima dengan gaya anak kecil juga. Indah pun mengalihkan tatapannya pada Bima,
"Boleh aku gendong Yusuf bentar?"
"Boleh, silahkan!"
Bima pun menyerahkan Yusuf pada Indah untuk di gendong.
"Kalau begitu saya permisi sebenar tidak pa pa ya, ada urusan yang harus aku selesaikan!"
"Iya, Silahkan. Biar Yusuf sama Tante Indah."
"Terimakasih ya!"
Bima pun akhirnya memilih pergi dari kamar, ia sengaja ingin menghindari Indah. Ia tidak mau terlalu lama bersama Indah membuatnya lancang berharap kembali untuk bisa sama Indah apalagi statusnya kini.
Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana ia akan menjalani hidup dengan Yusuf, hanya itu. Menjadi ayah sekaligus ibu bagi Yusuf, tentu itu bukan hal yang mudah.
Bima memilih mushola rumah sakit sebagai tempat ternyamannya mengadu, ternyata kehidupan di kampung sudah merubah semua kebiasaan Bima, suasana tenang di sama membuat hatinya juga ikut tenang, menjalani hidup dengan penuh kesahajaan, mendekatkan diri pada sang Khaliq.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...