
Sebuah ruangan yang bagian atasnya bertuliskan dokter spesialis bedah, tampak seorang wanita dengan wajah pucat menghadap dokter itu.
"Bagaimana nyonya, apa nona siap melakukan operasi? Jika tidak segera dilakukan akan mengancam nyawa nyonya!"
"Apa benar tidak ada pilihan lagi, dok!?"
"Tidak ada nyonya, kerusakannya sudah sangat parah, jika tidak segera di angkat takutnya akan menyerang orang dalam lainnya."
"Bisakah saya pikirkan lagi dok?"
"Kalau bisa jangan terlalu lama, takutnya akan merusak organ sehat lainnya."
"Iya dok, kalau begitu saya permisi!"
Wanita itu berjalan keluar dengan sedikit sempoyongan, bukan hanya rasa sakit di perutnya yang seperti di tusuk-tusuk tapi sebuah pembicaraan yang tanpa sengaja ia dengar tadi malam.
Pria yang sudah menikahinya selama dua tahun itu tengah membicarakan tentang keturunan pada ibu mertuanya,
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kandungan sialan, kenapa harus rusak sih!?" ucapnya sambil memukul-mukul perutnya dengan tangannya yang mengepal, hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang ada di lobi rumah sakit.
Dari yang ia dengan semalam, ibu mertuanya begitu mendambakan sosok pewaris keluarga mereka.
"Kamu harus segera melakukan pemeriksaan pada istrimu itu, mama jadi khawatir kalau ternyata dia mandul."
"Ma_!"
"Siapa yang tau, kalau sudah menikah selama dua tahun tapi istri kamu tidak juga hamil."
"Kami baru menikah dua tahun ma, lagi pula Renata kan sedang melakukan program hamil."
__ADS_1
"Pokoknya mama nggak mau tahu, kalau Renata tidak juga hamil, kamu harus setuju jika mama mencarikan istri lain buat kamu."
"Iya ma, terserah mama saja."
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, seperti ribuan peluru yang menghujam ulu hatinya. Ia memang sudah berhasil menikah dengan orang yang kaya, menjadi nyonya yang terpandang tapi kenyataan pahit ini akan segera membuatnya kembali terhempas ke lubang yang paling dalam. Bayangan menjadi madu yang bisa memiliki keturunan membuatnya benar-benar frustasi.
"Aku harus apa sekarang?"
"Sayang, bagaimana hasil pemeriksaannya?" suara seseorang berhasil membuat Renata mengusap air matanya dan memunculkan senyum di wajah pucatnya.
"Sayang, kamu sudah datang?" tanya Renata balik, ia segera memeluk pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Iya, kebetulan aku meeting di dekat sini. Bagaimana hasilnya, apa ada kabar bagus?"
"Aku belum ketemu dokternya, dokternya tiba-tiba ada operasi ada pasien darurat." ucap Renata beralasan.
"Ya sudah, tidak pa pa. Bagaimana, mau langsung pulang atau kemana dulu?"
"Baiklah, ayo!?"
Sesampai di dalam mobil, Renata masih tetap diam. Ia ingin melihat kembali hasil medisnya tapi ia tidak mungkin melihatnya di depan sang suami.
Dia tidak ingin melakukan operasi itu, tapi jika dia tidak melakukannya maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya. Walaupun berusaha ia pertahankan, juga tidak akan berfungsi. Rahimnya sudah rusak.
"Kamu kenapa sih sayanya, dari tadi diam saja?"
"Nggak pa pa sayang, hanya kurang enak badan aja."
"Ya udah, nanti aku temani deh."
__ADS_1
"Hmmm!"
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah mewah, beberapa pelayang langsung menyambut kedatangan mereka.
Tapi baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba ponsel sang suami berdering.
"Bentar ya sayang, ada telpon!"
Pria itu berjalan menjauhi Renata dan terlihat serius saat menerima telpon.
Selang beberapa menit, sang suami kembali menghampirinya,
"Maaf ya sayang, aku harus kembali ke kantor. Kamu tidak pa pa kan aku tinggal sendiri?"
"Hmmm!" Renata hanya bisa menganggukkan, ia tidak bisa menolaknya atau melarangnya agar sang suami tidak pergi, lagi pula ia juga tengah ingin sendiri saat ini.
"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku. Bye, sampai jumpa nanti malam!" pria yang berstatus suaminya itu mengecup keningnya kemudian berlalu masuk ke dalam mobil kembali.
Setalah mobil meninggalkannya, Renata pun segera masuk ke dalam kamar dan memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia juga menutup tubuhnya dengan selimut tebal, tidak peduli dengan matahari yang enggan untuk segera tenggelam.
Tubuhnya bergetar menahan sakit, semakin bergetar hingga ia harus meraih tas kecilnya kembali dan mengambil sebutir obat penahan sakit, menelannya begitu saja.tanpa bantuan apapun. Tampak keringat mengucur meskipun kamar itu ber-AC. Hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan, tubuhnya kini semakin terlihat kurus karena menahan sakit yang sudah berbulan-bulan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...