
Kini Indah sudah berada di depan salah satu kamar yang ada di rumah sakit, ia tengah mondar mandir di depannya sambil menunggu dokter yang tengah memeriksa Renata di dalam.
Hingga setelah beberapa menit akhirnya pintu itu terbuka dan dokter keluar, Indah segera menghampiri pria berjas putih itu,
"Bagaimana keadaannya dok?" tanyanya pada dokter yang baru keluar.
Dokter itu tampak mengamati wajah Indah, usianya jauh lebih muda dari Renata,
"Anda siapanya pasien?" tanya dokter.
"Saya_!" Indah bingung harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengakui jika dirinya madu dari wanita itu,
"Saya adiknya!" ucapnya hal yang paling aman untuk mengakui hubungan mereka.
"Tolong segera hubungi suaminya!" ucap dokter itu lagi. Indah terdiam, untuk menghubungi Bima, apa maksudnya. Apa penyakit Renata begitu berat? Hanya butuh dukungan suaminya.
"Suami?" Indah kembali berfikir, mungkinkah dia bisa tahu apa yang terjadi pada Renata,
"Ada apa ya dok?"
"Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada suaminya!"
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Bima datang. Indah memang sudah menghubungi Bima tapi ia tidak mengerti kenapa pria itu begitu lama datang.
"Ada apa dok, saya suaminya!" ucap Bima. Bima harus meninggalkan meeting penting untuk datang ke rumah sakit, jika bukan Indah yang menghubunginya, mungkin ia tidak datang.
Sebenarnya ia bukan sedang mencemaskan Renata tapi ia tengah mencemaskan Indah, ia khawatir Renata telah berbuat jahat lagi pada Indah.
Dokter tiba-tiba mengulurkan tangannya dan Bima tidak punya pilihan lain selain menyambut tangan dokter, "Selamat ya pak"
"Selamat apa dok?" Bima malah terlihat bingung.
"Selamat karena istri anda tengah hamil sepuluh Minggu!"
"Hamil?" Seketika tubuh Bima mengeras, ia tidak tahu harus senang atau sedih.
Begitu juga dengan Indah, rasanya ia saat ini sudah benar-benar kalah. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada dirinya sendiri selain kata menyerah.
Tidak ada fakta lain selain membuktikan bahwa selama ini ia hanya sebagai teman tidur pria di depannya itu, bahkan menyentuhnya saja tidak tapi pria itu telah membuat wanita yang tengah tidak sadarkan diri di dalam mengandung anaknya.
Rasa iri tiba-tiba muncul di hatinya yang paling dalam,
Hingga tiba-tiba ponselnya berdering membuat perhatian Indah teralih pada ponsel yang ada dalam genggamannya.
__ADS_1
Sebuah nomor baru, Indah pun menggeser tombol terima.
"Hallo!"
"Hallo Indah, ini aku Devi."
"Devi?"
Indah pun segera menjauh dari dokter dan Bima. Ia memilih sebuah lorong rumah sakit yang sepi sebagai tempatnya bicara.
"Iya Indah, ini aku Devi. Kakaknya Dava."
"Kak Devi, ada apa?"
"Kamu sudah tahu belum kalau besok Dava mau pergi?"
"Pergi? Pergi ke mana?"
"Dia akan ke Australia untuk urusan bisnis selama lima tahun!" Indah begitu terkejut, bagaimana bisa ia mendapat dua berita yang mengejutkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
"Lima tahun?" ucapannya melemah, ia bahkan hampir saja menjatuhkan tubuhnya m. Beruntung di belakangnya ada dinding yang mampu menopang berat tubuhnya.
"Iya."
Bagaimana bisa?
"Indah, kamu masih di sana kan?" tanya Devi saat tidak mendengar suara Indah lagi.
"Iya kak, aku masih di sini. Aku akan segera menemui Dava, kak!"
"Baiklah, aku hanya ingin mengatakan ini padamu!"
Indah segera menutup sambungan telponnya. Ia menatap layar ponselnya itu, kemudian beralih pada ruangan yang sudah kembali sepi itu.
Ia yakin pria yang tadi tengah berdiri bersama dokter telah masuk ke dalam ruangan itu.
Indah kembali menyakukan ponselnya dan setelah mendapatkan kembali kekuatannya, ia berjalan perlahan menuju ke ruangan itu, melalui pintu yang terbuka sebagian ia bisa melihat aktifitas orang yang ada di dalamnya.
Terlihat Bima tengah duduk di samping ranjang Renata, tangannya menggenggam tangan wanita yang tengah duduk di atas tempat tidur,
"Bima, aku harus apa dengan anak ini kalau kamu meninggalkan kami?"
"Jangan memikirkan macam-macam dulu, pikirkan dia yang ada di dalam kandungan kamu!"
__ADS_1
"Tapi kamu janji kan tidak akan pernah meninggalkan aku?"
"Hmmm!"
Indah mengurungkan niatnya untuk masuk, ia memundurkan kembali langkahnya.
Ia seperti sudah tidak punya tempat lagi di sana, ia memilih berjalan mundur dan akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi.
Indah memesan sebuah taksi, tapi kali ini tujuannya bukan ke kontrakan, ia tidak mau membuang waktu, ia harus menemui Dava.
"Ke perusahaan group E, ya pak!" ucap Indah pada supir taksi.
"Baik neng!"
Ponselnya kembali berdering saat Indah sudah duduk di dalam taksi.
Ternyata Aya, ia sampai melupakan Aya. Aya pasti sangat khawatir karena ia tidak kunjung kembali.
"Indah, kamu di mana? Aku menyusulmu ke taman!" ucap gadis yang ada di seberang sana.
"Maaf Aya, tapi aku sekarang sedang tidak di taman."
"Kok bisa?"
"Nanti aku ceritakan!" Indah tidak mau banyak bercerita di dalam telpon, mungkin nanti saat bertemu dengan Aya ia akan menceritakan semuanya.
"Tapi tidak ada apa-apa kan?"
"Tenang saja, tunggu aku di rumah!"
Indah mematikan sambungan telponnya, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Dalam hati kecilnya, ia tidak ingin Dava pergi. Tapi ia juga tidak punya alasan untuk menahannya, apalagi kepergian Dava kali ini untuk urusan pekerjaan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1