
Dava masih menatap tempat tidur di sebelahnya yang hanya bersekat sebuah sekat tipis, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.
Rumah itu terasa kembali sepi, suara pintu terbuka, atau suara air yang bergemericik tidak terdengar lagi.
Kadang terdengar tawa riang dari Indah, tapi kini bahkan suara langkah kakinya saja tidak terdengar.
Pria itu masih setia dengan rasa diamnya, enggan untuk beranjak atau melakukan apapun, semangatnya untuk beraktifitas seakan tiba-tiba hilang saat melihat kamar yang sudah kosong. Padahal tadi pagi, ia masih berharap gadis itu akan berubah pikiran dan memilih untuk tetap tinggal dengannya.
Tapi apapun itu, ia tidak punya hak apapun karena Indah masih berstatus sebagai istri seseorang.
"Apa dia akan baik-baik saja?" gumamnya pelan sambil meremas ponselnya, ingin sekali menghubunginya tapi rasanya masih enggan. Ia hanya tidak mau membuat gadis itu menjadikannya sebagai beban bukan karena ia ingin menghindarinya.
...Berada jauh darinya cukup membuatku menderita, bisakan jika aku merelakan dia dengan orang lain?...
Segala macam rasa tengah berkecamuk di dalam dadanya, hingga ia memutuskan untuk bangun dari duduknya, memilih ranjang kecil di sebelah ranjang besarnya untuk merebahkan tubuhnya yang lelah karena seharian bekerja.
Usianya memang masih sangat muda, tapi ia punya tanggung jawab besar untuk mengelola perusahaan yang di tinggalkan oleh sang ayah, semenjak duduk di bangku SMP, ia bahkan tidak pernah menikmati masa sekolahnya seperti teman-teman sebayanya.
Ia menatap langit-langit, kembali membayangkan kedekatakannya dengan Indah beberapa bulan ini, kehadiran Indah seperti warna baru dalam hidupnya yang sepi.
Hingga tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu di balik bantal yang ada di bawah kepalanya,
Karena penasaran, Dava menarik kertas tebal itu dengan tali yang masih terikat rapi di tengahnya,
"Undangan!?" gumamnya, dengan cepat ia bangkit dan membaca sekilas undangan itu, ia punya undangan yang sama.
""Indah dapat ini? Dari siapa?"
Dava segera mengambil kembali ponselnya yang sempat ia letakkan meja kecil yang ada di samping tempat tidur dengan nuansa merah jambu itu,
Ia segera mencari nomor kontak seseorang, seseorang yang sudah berhari-hari ini ia beri tugas untuk mengawasi kemanapun gadis itu pergi.
"Hallo!" ucap Dava ketika telponnya sudah tersambung, ia menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.
"Iya tuan?"
"Apa yang dilakukan Indah beberapa hari ini yang saya tidak tahu?" tanyanya, ia tahu pasti ada sesuatu yang belum di ceritakan padanya tentang gadis itu.
Pria yang di seberang sana pun menceritakan detail apapun yang di lakukan oleh Indah, tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Jadi mereka bertemu?"
"Iya tuan, maaf saya kira ini tidak terlalu penting jadi saya tidak melaporkan pada anda."
Walaupun mereka tidak saling menyapa, tapi Dava masih selalu mengawasi apapun yang di lakukan oleh Indah melalui orang-orang suruhannya.
"Mulai sekarang, sekecil apapun tetap laporkan, kamu tahu kan siapa wanita itu?" sekarang ekspresi wajah Dava terlihat begitu marah, seandainya saja pria itu berada di depannya pasti sudah terkena pukul olehnya.
"Iya tuan! Dia ibunya tuan Bima."
"Jadi menurutmu dia tidak penting? Justru dia yang sangat berbahaya." karena pria itu sudah tahu, tapi masih menganggapnya tidak penting, membuat Dava semakin terbakar emosi saja. Walaupun hanya dari suaranya, terdengar sekali kalau pria di seberang sana begitu ketakutan.
"Maafkan saya tuan, saya tidak akan mengulangi lagi."
Setelah menghela nafas, akhirnya Dava tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Ia memilih untuk memikirkan apa yang terjadi selanjutnya saja dari pada mempermasalahkan hal yang sudah terjadi.
"Tetap pantau Indah, laporkan jika dia pergi ke pesta itu." ucapnya kemudian dengan suara yang lebih tenang.
"Baik tuan!"
Dava pun segera mematikan sambungan telponnya, ia kembali meremas ponselnya. Terlihat sekali jika raut wajah kesalnya masih tersisa.
Tampak ada kebencian yang besar pada orang yang baru saja mereka bicarakan. Ada kejadian dia masa lalu yang membuat mereka harus bermusuhan sampai sekarang.
...***...
"Kamu yakin mau datang Ndah?" tanya Aya yang tengah menonton acara kesukaannya sambil mengunyah keripik singkong yang ada di dalam toples yang berada di pangkuannya.
Indah yang tengah memilih gaun yang akan dia pakai malam ini menoleh sebentar pada Aya.
"Iya, Aya. Penasaran aja, ada apa sebenarnya!" ucapnya sambil melanjutkan kembali mencari gaun yang pantas untuk ia pakai malam ini.
"Perasaanku kok nggak enak sih!" Aya merasa bukan hal yang wajar jika tiba-tiba ibu mertua temannya itu tiba-tiba mengundangnya sedangkan hubungan mereka sedang tidak baik.
Indah kembali menatap Aya dengan tangan yang masih menjinjing gaun yang tengah menjadi pilihannya,
"Ya udah kalau nggak enak, ikut aja sama aku."
"Ya mana bisa. Undangannya kan cuma satu." ucap Aya yang teringat dengan undangan Indah yang hanya satu lembar.
__ADS_1
"Lagian juga undangan aku kan hilang. Sekalian, nanti kalau aku nggak di bolehin masuk gara-gara nggak bawa undangan, ntar aku traktir deh makan bakso pinggir jalan."
"Traktir itu sekali-kali di restauran mewah, jangan di pinggir jalan." protes Aya dengan pura-pura memanyunkan bibirnya.
"Ntar deh, kalau tuh perusahaan sudah benar-benar jadi milikku, aku traktir sampai perut kamu meledak, boleh deh!"
"Ihhhh, yang bakal jadi calon bos." ledek Aya. Memang tidak bisa di pungkiri jika Indah adalah calon pewaris tunggal perusahan besar yang sekarang tengah di kelola oleh keluarga Bima.
"Rezeki orang siapa yang tahu Aya."
Indah kembali fokus memilih gaun, hingga Aya yang tiba-tiba berdiri membuat Indah menghentikan kegiatannya lagi.
"Baiklah, aku ikut. Tapi aku pakek gaun apa?"
"Yang kamu punya aja, aku juga."
"Baju kamu bagus-bagus!"
"Ya untung aku punya baju bagus dari mamanya mas Bima!"
"Mertua kamu yang katamu nenek lampir itu?"
"Iya, setidaknya aku bersyukur karena dia sedikit punya hati nurani."
Akhirnya Aya pun memutuskan untuk ikut dengan Indah, bukan karena iming-iming traktiran dari Indah tapi ia tahu Indah gadis polos yang berasal dari kampung
Ia takut kepolosannya dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi saat mengingat bagaimana perjalanan hidup Indah, dunia Indah cukup kejam.
"Lo yakin Ndah, ini tempatnya?" Aya menatap gedung bertingkat itu, tampak seperti hotel berbintang dengan ballroom yang luas.
Tampak lalu lalang orang dengan pakaian rapi l berdasi dan pasangannya wanita cantik dengan gaun yang cantik juga. Berbeda dengan dua gadis yang baru pertama kali menghadiri pesta sebesar itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...