Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Meretas data


__ADS_3

Bima meninggalkan kecupan di kening Indah sebelum benar-benar meninggalkannya.


Sakit melihat pria itu pergi dan lebih memilih wanita itu, tapi ia juga merasa lega setidaknya malam ini ia bisa terhindari dari Bima.


Baginya melayani suami untuk saat ini, bukan menjadi hal yang sangat ia inginkan lagi.


"Setega itu kamu mas sama aku!" gumamnya sambil mengusap air mata yang tanpa permisi jatuh begitu saja, seharusnya ini sudah menjadi hal yang biasa tapi tetap saja ia tidak mampu untuk mengendalikan perasaannya agar terlihat biasa saja.


Hehhhhh .....


Helaan nafas panjang seakan mengakhiri rasa sakitnya bersamaan dengan ia mengusap sisa air mata itu, "Tidak ada gunanya kamu menyesal atau menangisinya, semua sudah terjadi dan Indah yang ini harus jadi Indah yang kuat." ia berusaha untuk kembali meyakinkan dirinya sendiri.


Indah pun segera meninggalkan rak buku dan berjalan perlahan mendekati laptop yang sudah menyala itu. Sebenarnya mengerjakan tugas hanya alasannya saja, ia ingin mencari tahu apa yang ingin ia ketahui.


Hehhhhh .....


Lagi-lagi Indah tidak tahu harus melakukan apa dengan benda itu, ia sedang tidak ada pekerjaan yang harus ia lakukan saat ini.


"Aku tidak punya kemampuan dalam hal meretas." beribu sayang sebenarnya, karena ini bukan ahlinya, ia butuh seseorang untuk mengecek apa saja yang mungkin bisa ia temukan di laptop itu.


"Dava, ya mungkin Dava bisa!"


Indah pun segera mencari ponselnya dan menghubungi pria yang akhir-akhir ini cukup dekat dengannya itu.


"Hallo Ndah, apa ada masalah? Kenapa telpon malam-malam seperti ini?" terdengar suara Dava begitu khawatir padanya.


"Tidak, sebenarnya aku butuh bantuanmu! Saat ini aku sedang memegang laptop mas Bima, tapi aku yakin di dalamnya ada banyak rahasia. Tapi masalahnya aku sungguh tidak tahu cara_!"


"Mencuri datanya?"Dava sepertinya langsung faham dengan apa yang di maksud Indah.


"Iya! Bisa bantu aku kan?"


"Baiklah, sekarang siapkan flash disk!"

__ADS_1


"Flashdisk ya?"


"Hmmm!"


"Baiklah, aku akan mengambilnya dulu!" Indah ingat jika ia membawa flashdisk di tasnya, ia harus mengambilnya dulu ke kamar karena tasnya di sana.


Butuh waktu lima menit untuk kembali lagi ke ruang kerja dan ia harus masuk ke sana tanpa sepengetahuan siapapun sebelum ia mendapatkan semuanya.


"Sudah?" tanya Dava lagi.


"Iya!" Indah kini sudah duduk di depan meja ia mulai fokus dengan instruksi dari Dava.


"Lakukan seperti perintahku!"


"Hmmm!"


Dava terus memberi instruksi pada Indah untuk melakukan seperti yang ia perintahkan. Mulai dari menghubungkan flashdisk hingga mengkopi beberapa data yang di anggap penting.


"Terimakasih ya Dav, aku nggak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu!"


"Pasti!"


Indah pun segera mematikan sambungan telponnya sebelum seseorang melihatnya, ia juga menyimpan flashdisk miliknya di balik saku bajunya.


"Indah!" seseorang tiba-tiba membuka pintu dari luar hal itu membuat Indah begitu terkejut, beruntung semua selesai pada waktunya.


"Mama!" Indah segera berdiri dari duduknya dan menutup kembali laptop yang baru saja selesai ia matikan.


"Kamu kenapa ada di sini?" Mama Rose dengan cepat menghampiri Indah dengan wajah panik.


"Ini ma, tadi Indah ingat kalau ada tugas kuliah yang belum selesai. Trus aku pinjam laptop sama mas Bima, dari pada di bawa ke kamar kan lebih baik di kerjakan di sini ma!"


"Tapi sudah selesai kan?"

__ADS_1


"Sudah ma, aku sudah mengirimnya juga!"


"Baguslah, segeralah tidur!"


"Baik ma!"


Indah pun segera berlalu, sepertinya mama Rose tidak begitu suka dengan keberadaannya di sana , hal itu malah semakin membuat Indah yakin kalau ada yang sedang di sembunyikan olehnya.


"Indah!?" hampir saja langkah Indah mencapai pintu, tapi segera terhenti. Ia menoleh kembali pada wanita yang saat ini mengenakan baju tidurnya.


"Iya ma?"


"Bima kemana?"


"Dia ada urusan di luar, mungkin pulang pagi ma, ada apa ma?"


Bima benar-benar keterlaluan ...., batin nyonya Rose kesal, ia sudah tahu kemana Bima sekarang.


"Tidak pa pa, tidurlah!"


"Selamat malam, ma!"


Akhirnya Indah benar-benar meninggalkan ruangan itu. Ia segera menuju ke kamar dan tidak sabar ingin seger besok dan memperlihatkannya pada Dava.


"Semoga aku mendapatkan petunjuk besok."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2