
Pagi ini Indah dan Dava sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampung Indah. Indah benar-benar tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya.
"Bagaimana kamu sudah siap?" pertanyaan Dava membuat Indah menghentikan kegiatannya di depan cermin. Indah segara menoleh ke sumber suara.
Indah tersenyum, "Siapa, bagaimana penampilanku?"
Hari ini Indah tidak memakai bajunya sendiri, ia memang tidak punya baju ganti sehingga membuatnya memakai baju Dava. Sebuah kaos dan celana panjang, walaupun terlihat kebesaran tetap saja Indah terlihat cantik.
"Kamu pakek apapun tetap cantik!"
"Ihhhh, sejak kapan ya kamu jadi suka memujiku?"
"Lupakan!" Dava segera berbalik Daan meninggalkan Indah menyadari dia telah memuji kecantikan Indah. Walaupun ia ingin indah menjadi miliknya tapi tetap saja memuji bukanlah keahliannya.
Indah tersenyum melihat Dava yang salah tingkah, ia segera mengambil tasnya dan menyusul Dava.
"Dava, jangan ngambek dong!"
"Enggak, siapa juga yang ngambek!?"
"Itu, senyumnya langsung ilang!"
"Kita sudah kesiangan, jangan buang-buang waktu!"
"Isssttttt!"
Hingga akhirnya mereka sampai di depan vila, tapi Indah tidak menemukan motor Dava di sana,
"Dav, motor kamu di mana?"
"Ada di dalam!"
"Trus kita ke kampung pakek apa?"
Belum sampai Dava menjawabnya, terlihat sebuah mobil memasuki halaman vila, seseorang keluar dari dalam mobil itu dan menghampiri Dava,
"Selamat pagi tuan muda!"
"Selamat pagi!"
"Ini kuncinya, apa tidak sebaiknya saya antar saja tuan muda?"
__ADS_1
"Tidak perlu, kembalilah bawa motor saya!"
"Baik tuan muda!"
Indah cukup tercengang dengan apa yang ia lihat, "Ayo, jadi berangkat tidak?"
Pertanyaan Dava akhirnya menyadarkannya,
"Iya!"
Dava pun segara membukakan pintu mobil dan meminta Indah untuk masuk ke dalam,
"Apa tidak sebaiknya aku di belakang saja!?"
"Memang kamu pikir aku sopir kamu?" Dava terlihat kesal.
"Ya bukan!"
"Jadi masuk tidak?"
"Iya!" Indah yang mengakhiri perdebatan segera masuk ke dalam mobil dan Dava pun berlari memutari mobil, membuka pintu lain mobil itu dan masuk melalui pintu itu.
Perlahan mobil meninggalkan vila, meninggalkan pria pengantar mobil itu di tempatnya.
"Ini!"
Dava menatap Indah dengan penuh keheranan, "Alamat kamu sejak kecil, bisa-bisanya kamu mencatat! Nggak inget?"
"Ya bukan gitu, ini cuma buat jaga-jaga aja, siapa tahu lupa!"
"Jatuhnya lupa juga!"
Sensi amet pagi-pagi ...., kadang Indah benar-benar tidak bisa mengerti dengan Bima yang suka manis tapi kadang juga sangat menyebalkan.
"Kenapa tadi nggak pakek motor aja?" tanya Indah lagi setelah mereka saling terdiam lama.
"Jarak kampung kamu kalau di tempuh dari sini berapa jam?"
"Sekitar lima atau enam jam sih!"
"Sudah tahu kan? Kamu mau selama lima atau enam jam itu duduk di atas motor, kepanasan nggak bisa gerak sama sekali, mau tidur nggak bisa? Mau?"
__ADS_1
Indah tersenyum hingga menunjukkan gigi-giginya yang berjejer putih rapi, "Ya enggak!"
Dava tidak lagi melanjutkan perdebatannya, ia memilih untuk fokus menyetir. Sedangkan Indah sudah tidak bisa menahan kantuk lagi setelah melakukan perjalanan selama tiga jam,
Sesekali Dava menyisihkan anak rambut Indah yang menutupi wajahnya, dan membiarkan kepala Indah bersandar di bahunya.
Hingga akhirnya mobil pun mulai memasuki sebuah perkampungan, yang Dava yakini ini adalah kampung tempat Indah tumbuh. Walaupun begitu ia tidak berniat untuk membangunkan Indah, ia berusaha untuk mencari sendiri alamat rumah Mbok yang di maksud Indah.
Setelah bertanya pada orang-orang, akhirnya mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat begitu sederhana, tapi rumah itu tampak bersih dengan halaman yang cukup luas. Di sisi kanan dan kiri halaman itu di tumbuhi pohon rambutan dan mangga hingga membuat halaman yang luas itu tetap teduh dengan kursi yang terbuat dari bambu berada di bawah pohon. Membayangkan duduk di bawah pohon itu sambil menikmati udara sore sungguh menyejukkan badan.
Setalah memarkirkan mobil di halaman, Dava pun terpaksa membangunkan Indah.
"Sudah sampai ya Dav?"
"Kamu lihat sendiri, benar ini bukan rumahnya?"
"Iya benar, ini rumahnya. Ayo turun!" Indah segera menarik tangan Dava tapi segara Dava tahan,
"Ada apa?" tanya Indah sambil mengerutkan keningnya.
Tangan Dava sebelah kanan segera terulur dan merapikan rambut Indah yang begitu berantakan, perlakuan manis Dava benar-benar berhasil membuat Indah terpaku, begitu juga dengan Dava.
"Jangan melihatku terlalu lama, nanti kamu jatuh cinta!" ucapan Dava berhasil menyadarkan Indah,
"Apaan sih dav!" Indah segara memalingkan wajahnya, ia benar-benar malu Ketahuan sudah mengagumi wajah pria itu.
"Ayo turun!" ajak Indah lagi.
"Bentar, aku ambil jaket di belakang dulu. Kamu turun duluan!"
"Baiklah!"
Indah pun segera turun meninggalkan Dava yang masih berada di dalam mobil.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...