Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Tuan Hadi Wijaya


__ADS_3

"Itu apa Dav?"


"Ini kayaknya data penyitaan beberapa aset perusahaan dan beberapa properti!"


"Aset punya siapa?"


"Biar aku lihat dulu, kalau di lihat dari perusahaannya ini punya keluarga Bima!"


"Tapi kan sekarang masih ada, kapan asetnya di ambil?"


"Biar aku lihat di website, tahun 2007 apa yang terjadi dengan perusahaan milik keluarga Bima?" Dava terlihat sedang mencari sesuatu di laman pencarian itu.


"Bagaimana?"


"Di sini ada yang aneh?"


"Apanya?"


"Pemilik sebelumnya perusahaan itu bukan keluarga Bima!"


"Lalu?"


"Di sini di tulis nama pemilik lamanya Hadi Wijaya."


"Apa mungkin keluarga mas Bima mengambil alih perusahaan setelah di sita oleh bank?"


"Di situs pencarian sudah tidak ada berita lagi, sepertinya ada pihak yang sengaja menghapus semua berita, tidak mungkin jika perusahaan sebesar itu tidak ada pemberitaannya!"


"Lalu?"


"Kita lihat lagi aja yang ada di flashdisk!" Dava kembali fokus pada layar laptopnya dan memilih meletakan kembali ponselnya di atas meja.


"Ini, berita tentang kecelakaan, kenapa papa Bima menyimpan berita kecelakaan di sini?"


"Kecelakaan, coba lihat!" Bima pun segera melihat berita itu, "Ini sama persis seperti yang di ceritakan mbok!"


"Siapa mbok?"


"Orang yang sudah mengasuhku, kata mbok orang tuaku meninggal karena kecelakaan dan ini sama persis seperti potongan koran yang mbok simpan di kampung!"


"Bentar, bentar. Kayaknya aku sudah mulai dapat titik terangnya!"


"Apa?" Indah benar-benar penasaran.


"Kalau yang kecelakaan itu orang tua kamu, berarti orang tua kamu yang sebenarnya adalah Hadi Wijaya. Di sini di sebutnya bahwa tuan Hadi Wijaya mengalami kecelakaan bersama istrinya, tepat dua hari setelah berita penyitaan beberapa aset miliknya."


"Jadi?"


"Ya, kamu mungkin pewaris sah perusahaan yang sekarang tengah di kelola oleh keluarga Bima!"


"Tapi kan itu sempat di sita, bisa jadi keluarga mas Bima yang menyelamatkan perusahaan. Karena orang tua mas Bima adalah sahabat orang tua Indah!"


"Begitu ya?"


"Ada lagi nggak?" Indah kembali menatap layar laptop dan memastikan ada yang belum ia ketahui.

__ADS_1


"Ini ada satu data yang bukanya pakek password, memang bisa di kopi tapi tetap nggak bisa di buka kalah tanpa password!"


"Mungkin itu sangat penting!"


"Mungkin! Sepertinya mbok yang kamu katakan adalah orang yang tahu semuanya!"


"Apa perlu kita temui mbok?"


"Itu ide bagus, bagaimana kalau besok, pagi-pagi sekali kita ke kampung kamu, aku akan mengantarmu ke sana!"


"Serius!"


"Hmmm, sekalian jalan-jalan!"


"Aku setuju!"


Hari ini karena sudah terlanjur di villa Dava, mereka pun tidak langsung pulang. Indah ingin menikmati hari ini di tempat itu. Udaranya begitu sejuk dan juga pemandangannya begitu indah membuatnya betah berlama-lama di tempat itu.


"Siapa yang telpon? Kenapa tidak di angkat?" Indah terus mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya,


"Biarkan saja, itu mas Bima. Biar sekali-kali mas Bima nungguin aku!"


"Memang kamu bilang mau ke mana tadi?"


"Hanya ke kampus, dan dia janji mau jemput. Mungkin sekarang dia sedang berdiri di depan kampus!"


"Sesekali kamu harus tegas, kalau kamu mau sekarang juga kalian bisa bercerai dan lupakan semua ide mu untuk membalasnya!"


"Itu tidak akan adil Dav, aku tidak suka terlihat lemah di depan mereka. Aku bukan gadis bodoh yang bisa mereka bohongi setiap saat!"


Benar saja apa yang di katakan Dava, Bima kini tengah menunggu Indah di depan kampus. Ia sudah berdiri di sana selama satu jam tapi Indah tidak juga keluar.


Hingga akhirnya ia bisa melihat Aya keluar dari area kampus.


"Aya!"


Mendengar namanya di panggil, Aya pun segera menoleh ke sumber suara,


"Itu sepupu Indah deh!"


Aya mempercepat langkahnya menghampiri Bima,


"Sepupunya Indahnya, Indah sakit ya?"


"Maksudnya?"


"Sudah dua hari ini dia tidak masuk, aku kira masih sakit!"


"Jadi hari ini tidak masuk?"


Aya menggelengkan kepalanya, Jadi Indah kemana? Bukankah tadi pagi ia ke kampus? Bima terlihat bingung.


"Apa Indah mengatakan sesuatu?"


"Sudah dua hari ini tidak mengirim pesan sama aku!"

__ADS_1


"Apa anak itu juga tidak ada?"


"Maksudnya Dava?"


"Hmmm!"


Aya baru ingat jika Dava juga tidak masuk hari ini,


"Iya, kayaknya tidak masuk!"


"Kamu tahu di mana tempat biasanya anak itu nongkrong atau kalau tidak tempat Indah biasa nongkrong?"


Aya pun memberitahu kafe yang pernah mereka datangi waktu itu.


Setalah mendapatkan alamat kafe itu, Bima pun segara pergi. Ia mencari Indah dan Dava di sana tapi nyatanya nihil.


"Indah, apa yang kamu lakukan dengan anak itu?" gumamnya sambil memukul stang setir mobilnya.


Bahkan Indah sama sekali tidak mengangkat telponnya. Hingga ia memutuskan untuk datang ke tempat Bram, mungkin saja Indah datang ke sana karena yang ia tahu Indah cukup dekat dengan Bram.


"Tumben ke sini, ada angin apa?"


"Indah tidak ke sini?"


"Lo kan tahu kalau Indah sudah beberapa Minggu ini tidak pergi kursus!"


"Ya siapa tahu, Indah ke sini khusus untuk menemui Lo!"


"Jadi Lo lagi cari Indah?"


"Hmmm!"


"Memang kemana?"


"Kalau gue tahu nggak mungkin gue nyariin ke sini!"


"Makanya kalau punya bini itu nggak usaha Maruk, punya bini dua bingung nyariin ke mana!?"


"Gue serius Bram, Indah kayaknya pergi sama Dava!"


"Dava pewaris group H?"


"Hmmmm!"


"Kayaknya saingan Lo bakal serius!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2