
POV Indah
Benar saja seperti dugaanku, Dava sudah menungguku di rumah. Aku tidak bisa memberinya harapan terlalu banyak tapi aku juga tidak bisa memberinya penolakan.
Rasanya aku begitu egois, tapi hati ini mana bisa dengan mudah berputar haluan,
"Aku sudah menunggumu!"
"Aku tahu, maafkan aku!" selalu kata maaf yang bisa aku berikan padanya. Memang apa lagi, bahkan aku menumpang di rumahnya.
"Aku ke dalam dulu!"
"Sebentar!"
Karena aku yang masih terus melanjutkan langkahku membuat Dava menarik tanganku begitu kuat, membuat tubuhku sampai terpental ke tubuhnya,
"Kita harus bicara!" ucapnya sambil memelukku begitu erat.
Akhirnya aku menyerah, teras samping menjadi tempat favorit bagi kami,
Kami saling duduk berhadapan dengan meja kecil di tengah, hanya kecil tapi perabot ini tampak berharga, bukan kursi teras biasa.
"Kalian kemana tadi?"
"Bukan. urusanmu kan!" sedikit kata kasar, mungkin akan membuat Dava berpikir ulang untuk menungguku.
"Kau salah jika berkata seperti itu bisa membuatku membencimu!"
...Kamu benar, tapi aku yang terlalu takut jika kamu begitu dalam mencintaiku...
__ADS_1
"Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk melakukan itu, Dava! Aku hanya ingin sebuah ruang untuk berpikir. Jadi tolong beri aku ruang itu."
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi!"
Dan benar saja, Dava melakukan seperti apa yang ia katakan. Walaupun kami berada di kamar yang sama, bahkan dia tidak pernah menampakkan dirinya di hadapanku, ia selalu pulang saat aku Sudja tidur dan akan berangkat pagi-pagi sekali bahkan sebelum aku bangun.
Dava benar-benar menghindari aku, bahkan di kampus, aku baru tahu ternyata dia mengajukan skripsi lebih cepat hingga ia jarang datang ke kampus.
"Kalian bertengkar ya?" pertanyaan Aya untuk kesekian kali membuatku terpaksa memberinya penjelasan.
"Apa kamu tidak keterlaluan pada Dava?"
Apa iya aku keterlaluan ?
Aku bahkan tidak tahu apa aku keterlaluan, tapi dengan dekat dengannya seperti memberi harapan palsu padanya, mengecewakan dia sekarang sepertinya lebih baik dari pada nanti saat perasaannya semakin dalam padaku.
"Nona Indah!"
Suara itu cukup aku kenal, aku menoleh ke sumber suara. Seseorang ternyata tengah berdiri di belakang kami, entah sejak kapan. Aku dan Aya sudah duduk di bangku taman ini bahkan lebih dari satu jam.
"Dio!?"
Aku segera berdiri begitu juga dengan Aya. Aku tidak memaksa Aya untuk mengetahui urusanku tapi kali ini aku meminta Aya untuk tetap diam di tempatnya, tidak meninggalkanku sendiri.
Ku genggam erat tangan Aya. Memastikan dia tidak akan pergi,
"Maaf nona sudah menggangu waktu anda, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan Bima."
...Mas Bima, kenapa lewat Dio? Apa dia tidak ingin bertemu denganku? Apa sekarang bahkan tidak ada rindu di hati mas Bima?...
__ADS_1
Hehhhh_, kadang aku merasa lucu. Apa pedulinya, lagipula aku sudah mengajukan gugatan cerai, kenapa masih memikirkan hal yang tidak penting seperti itu?
"Ada apa?" ku tahan perasaanku, ku tekan rasa kecewaku. Aku memilih untuk penasaran hingga pria yang masih berstatus sebagai suamiku itu mengutus tangan kanannya untuk menemuiku.
"Tuan Bima mengundang anda khusus di acara pertemuan pemilik saham, besok jam sembilan pagi!"
"Untuk apa?"
"Jika anda datang, anda akan tahu. Sebaiknya anda datang!"
"Saya tidak yakin!"
"Tapi saya sarankan anda untuk datang jika tidak ingin menyesal!"
Dia mengancamku?
"Sampai jumpa besok, nona! Am sembilan pagi, di ruang meeting perusahan!"
Pria itu meninggalkanku begitu saja, aku terdiam di tempat begitu juga dengan Aya. Sepertinya Aya menunggu penjelasan dari ku, tapi apa yang mau aku jelaskan. Kau bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1