
Kini mobil yang membawa mereka sampai juga di depan rumah besar yang sengaja Bima beli untuk Renata. Tapi mungkin sebentar lagi rumah ini pun akan ia jual.
"Masuklah dulu, nanti aku akan menyusul, aku akan mengambil tas kamu dulu!" ucap Bima pada Renata,
"Baik!"
Renata pun meninggalkan mobil itu, ia masuk seorang diri.
Belum sampai Bima mengambil tas itu, Dio sudah lebih dulu mengambilkan untuknya,
"Terimakasih, Dio!" ucap Bima saat Dio menyerahkan tas itu.
"Sama-sama, pak!"
"Besok hari persidangan perceraian ku, kamu harus memastikan semua baik-baik saja!"
"Baik pak! Kalau sudah tidak ada lagi, saya permisi!"
"Iya!"
Dio pun meninggalkan rumah itu bersama dengan mobilnya.
Kini Bima menyusul Renata yang sudah berada di kamarnya, Bima meletakkan tas Renata di samping tempat tidur,
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanyanya, Renata yang tengah memeriksa ponselnya tampak mendongakkan kepalanya.
Renata tersenyum dan meletakkan ponselnya begitu saja, ia menepuk tempat kosong di sampingnya,
"Aku hanya ingin kamu tetap di sini." ucapnya kemudian.
Bima tersenyum hambar, "Aku tetap di sini, jangan khawatir!"
"Kamu beneran mau tinggal di sini?"
"Iya! Tapi aku harus mengambil baju-baju dan beberapa barangku lebih dulu, kamu tidak pa pa kan jika aku tinggal sebentar?"
"Iya! Tapi kamu harus cepat kembali. Kau takut sendiri!"
"Hmmm!"
Bima pun berjalan ke arah pintu, baru saja tangannya memegang handle pintu, Renata kembali memanggilnya,
"Bima!?"
"Hmmm?" Bima kembali menoleh, "Apa kamu ingin sesuatu? Aku akan membawakannya!"
Renata menggelengkan kepalanya dengan cepat,
"Apa kamu membatalkan cerai kita?" tanya Renata dengan ragu.
"Hmmm, Iya, aku akan mengurus pernikahan kita nanti setelah proses cerai ku dengan Indah selesai."
Ia senang karena perceraiannya di batalkan, tapi tentang perceraiannya dengan Indah. Renata tidak suka, walaupun ia tetap ingin dengan Bima tapi ia juga tidak ingin melihat Bima bercerai dengan Indah.
"Kamu beneran mau cerai sama Indah?" Renata sampai hampir beranjak dari duduknya tapi Bima segera mencegahnya dengan memberi isyarat pada tangannya.
__ADS_1
"Iya!" ucap Bima dengan mantap.
"Kenapa? Tapi bukankah kamu mencintai Indah?"
"Justru karena aku mencintai Indah, jadi aku memutuskan untuk cerai dengannya!" walaupun kata-kata itu menyakiti hatinya tapi tetap saja ia tidak bisa menerima jika Bima dan Indah sampai cerai.
"Aku mohon, pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal Bima!"
"Aku tidak akan menyesal, jadi jangan khawatirkan aku!"
Bima pun mengakhiri pembicaraan mereka dengan berlalu meninggalkan Renata.
"Tidak, ini tidak bisa di biarkan! Aku harus melakukan sesuatu, atau buka aku tapi nyonya Rose! Iya, nyonya Rose!"
Tentu itu bukan kabar yang baik untuk Renata. Ia memang tidak ingin berbagi suami, tapi lebih lagi ia tidak ingin hidup menderita karena tidak punya apa-apa.
Renata segera menghubungi wanita yang telah melahirkan suaminya itu,
"Hallo!"
"Ada apa lagi kamu menghubungi saya? Benar-benar membuang waktuku saja!"
"Mama, jangan terlalu kasar dengan menantumu ini!"
"Jangan harap kamu bisa aku terima sebagai menantu, ya!"
"Tapi sayangnya terlambat karena aku sudah mengandung cucu kamu!"
"Kamu jangan bicara sembarangan ya!"
"Omong kosong!?"
"Baiklah, sebenarnya tujuan ku menelpon mama bukan untuk itu. Apa mama sudah tahu kalau Bima beneran mau cerai dari Indah!?"
"Jangan semakin membuatku kesal!"
"Ya udah kalau nggak percaya, silahkan mama cari tahu sendiri. Yang penting aku sudah memberi tahu!"
Renata segera mematikan sambungan telponnya, tidak peduli dengan wanita di seberang sana yang tengah mengambil gara-gara ucapannya.
"Pasti dia tidak akan diam saja!"
...***...
Ini sudah satu minggu semejak kepergian Dava dan pria itu sepertinya benar-benar ingin melupakan Indah karena ia sama sekali tidak menghubungi Indah. Bahkan nomornya pun tidak bisa di hubungi.
"Apa dia benar-benar sudah tidak ingin mengenalku?"
Kini Indah dan Bima sudah berada di ruang tunggu pengadilan agama, ini jadwal mediasi kedua yang harus mereka jalani.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Bima, sudah semenjak rapat pemilik saham waktu itu, Bima belum kembali ke kantor dengan alasan macam-macam.
Bima sengaja melakukan itu agar Indah lebih fokus memimpin perusahaan, agar Indah tidak merasa tidak enak dengan dirinya.
Bima juga sudah meminta Dio untuk membantu Indah seperti Dio melayaninya selama ini.
__ADS_1
"Aku baik." ucap Indah singkat karena saat ini ia tengah fokus dengan ponselnya.
"Bagaimana di kantor?" tanya Bima lagi dan untuk hal itu, Indah memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Sulit, tapi aku akan tetap berusaha!" ucap Indah dengan pasti.
"Bagus. Kamu pasti bisa." Bima mencoba untuk memberi semangat pada Indah.
Hingga akhirnya nama mereka di panggil membuat percakapan mereka terhenti.
Mereka sudah duduk di depan seorang yang membantu mereka untuk melakukan mediasi.
Orang itu langsung bertanya pada Indah karena di sini Indah yang melakukan gugatan cerai,
"Bagaimana ibu Indah? Sudah ada kemajuan?"
"Saya siap bercerai!" ucapan itu bukan terlontar dari bibir Indah, tapi ucapan itu terlontar dari bibir Bima membuat Indah dan wanita yang menanyai Indah itu menatap ke arah Bima.
"Apa anda yakin, pak Bima?" tentu ucapan Bima membuat wanita di depannya itu terheran-heran karena selama ini Bima yang begitu getol ingin mempertahankan pernikahannya.
"Iya, saya yakin. Saya akan menceraikan Indah, bukan Indah yang menceraikan saya!"
Dengan ucapan Bima itu, tentu talak langsung turun dan proses perceraian akan berjalan lebih mudah.
Setelah ini hanya perlu satu sidang saja dan mereka akan benar-benar resmi bercerai.
Sedangkan jadwal yang seharusnya mereka ikuti jika gugatan itu di layangkan oleh Indah, maka masih harus melalui beberapa proses lagi.
Kini mereka sudah keluar dari ruang mediasi. Indah tidak mengatakan apa-apa setelahnya,
Walaupun memang ia menginginkan proses ini cepat selesai, tapi saat semuanya berjalan lebih cepat tiba-tiba membuatnya begitu berat.
"Indah!?"
Karena panggilan itu, membuat langkah Indah terhenti.
Bima berjalan cepat dan berdiri di sampingnya,
"Setelah ini semoga kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari aku, yang bisa menjadikanmu satu-satunya dalam pernikahan kamu. Yang menyayangimu lebih dari menyayangi dirinya sendiri."
Indah menatap lekat pada pria yang baru saja mengatakan hal itu padanya, ia ingin melihat dari matanya apakah itu sebuah kejujuran atau hal lain, dan ternyata itu terlihat begitu tulus dari mata pria itu,
"Terimakasih untuk hari-hari yang tidak akan pernah Indah lupakan dalam hidup Indah. Walaupun tidak semuanya indah, tapi setidaknya mas Bima sudah mengajarkan banyak hal dalam hidup Indah. Terimakasih!"
"Sampai jumpa di proses persidangan selanjutnya. Aku pergi dulu!"
Indah hanya bisa menatap punggung pria itu, tidak ada lagi tawaran untuk mengantar pulang dan itu rasanya begitu berat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰