
Bima tidak bisa meninggalkan Rena dalam keadaan yang seperti ini, Renata adalah istri pertamanya. Walaupun pernikahan mereka tanpa cinta, tapi kebiasaan hidup bersama telah mengikatnya. Apalagi saat ini Renata tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.
"Apa kamu butuh sesuatu?" Melihat Renata yang bangun dari tidurnya, Bima segera menghampirinya.
Wanita dengan pakaian khas rumah sakit itu tersenyum meskipun bibirnya nampak pucat tidak seperti biasanya yang selalu terhias oleh lipstik yang mencolok, "Aku mau ke kamar mandi."
Bima segera menggenggam tangannya, "Biar aku bantu," Bima memapah tubuh lemah Renata dan membawanya hingga ke kamar mandi.
"Ku keluar gih, Bim. Nggak enak kalau kamu lihatin." walaupun ia sudah terbiasa membuka bajunya di depan Bima tapi saat seperti ini ia tetap merasa tidak nyaman.
"Yakin kamu bisa sendiri?" Bima kembali meyakinkan Renata.
"Ya."
Akhirnya Bima pun memilih meninggalkan Renata di kamar mandi, Renata segera membuang air kecil setelah mencuci tangan ia sengaja berhenti di depan cermin besar yang ada di kamar mandi, mantap bayangan dirinya.
"Kamu terlihat menyedihkan sekali Renata, tapi kamu tahu penampilan kamu yang seperti ini yang bisa membuat Bima kembali padamu." lagi-lagi Renata tersenyum dengan wajah pucatnya. Ternyata Bima hanya bisa ia bujuk dengan keadaannya yang menyedihkan.
Tok tok tok
Tiba-tiba suara pintu di ketuk membuat Renata segera memasang wajah menderitanya lagi, "iya bentar."
"Kamu nggak pa pa kan?" ternyata Bima masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Iya, bentar lagi keluar." Renata tidak mau membuat Bima menunggu lama, ia segera keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Saat Bima memapah Renata kembali ke tempat tidurnya, tiba-tiba pintu kamar pasien itu di buka dari luar tanpa permisi membuat mereka berdua menoleh ke arah pintu,
"Bram!?"
"Bram!?"
Ucap mereka bersamaan, dan langsung mendapat senyuman tidak berdosa dari Bram.
"Katanya kamu sakit, makanya aku ke sini." ucapnya kemudian sambil meletakkan sekeranjang buah di atas nakas.
"Siapa yang kasih tahu?" Bima merasa tidak memberi tahu siapapun, kemudian ia menatap ke arah Rena.
"Aku kasih tahu Dio tadi." ucap Renata, ternyata Renata memberitahu Dio tanpa sepengetahuan Bima.
Bima kembali menatap Bram, "apa Indah tahu?"
Dalam keadaan seperti ini, masih juga mikirin Indah ...., wajah Renata berubah kesal. Ia benar-benar tidak bisa menyingkirkan indah sepenuhnya dari pikiran Bima.
"Bini, bini lo. Ngapain tanya gue." ucap Bram lagi yang tanpa saringan dan langsung mendapat pelototan Bima. Ia tidak mau menyinggung hubungannya dengan Indah di depan Renata saat Renata dalam keadaan yang seperti ini.
"Aku mau bicara berdua sebentar sama Bram, kamu nggak pa pa ya aku tinggal bentar?" Bima menanyai Renata, walaupun sebenarnya ingin melarang tapi Renata tidak mau membuat Bima semakin menjauh darinya.
"Iya." akhirnya ia menyetujuinya. Bima segera menarik tangan Bram dan membawanya keluar dari ruangan Renata.
"Ada apa sih?"
__ADS_1
"Kamu pasti tahu sesuatu?"
"Maksudnya apa nih?" terlihat wajah Bram yang benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan Bima.
"Sepertinya Indah tahu sesuatu."
"Ya baguslah." seketika Bram mendapat pukulan dari Bima.
"Aku bicara serius!"
"Gue lebih serius. Gue udah pernah bilang sama Lo, jangan pernah menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya dan lama-kelamaan Lo bakal menumpuk kebohongan itu. Gue menyayangkan saja, Indah yang baik terus saja Lo bohongi."
"Kamu nggak ngerti bagaimana jadi aku, aku harus melakukan banyak hal yang bahkan aku nggak mau."
"Lalu mau sampai kapan Lo nggak punya pendirian seperti itu?"
"Aku nggak tahu!" Bima terlihat pasrah. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dan mengusap kepalanya kasar. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini, yang ia tahu saat ini ia hanya ingin membuat semuanya berjalan lancar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...