
"Ini yakin sudah semua kan?" tanya Bima, sambil menunjukkan barang-barang yang ada di tangannya.
Kini tangan Bima dan Dirman penuh dengan barang-barang perlengkapan bayi, sampai Dirman lupa jika ingin membelikan mainan untuk anak-anaknya.
"Iya mas, ini kayaknya sudah cukup. Tadi di mobil juga sudah banyak!?"
"Alhamdulillah deh kalau begitu."
Bima.bisa bernafas lega, setidaknya uang lima juta yang di bawanya hanya berkurang sekitar satu juta setengah untuk semua perlengkapan bayi yang telah ia beli.
"Kalau begitu kita kembali ke mobil saja, Man!?"
"Baik mas!"
Mereka pun bergegas menuju ke mobil, saat ini sudah hampir tengah hari. Karena begitu banyak barang yang harus di beli membuat mereka lupa waktu.
Bima dan Dirman pun segera memasukkan barang-barang itu ke bak belakang yang sudah dibersihkan.
"Mau mampir ke mana lagi man?"
"Kalau mas Bima masih ada yang ingin di beli, ayo Dirman temani."
"Bukannya tadi kamu bilang mau beli mainan buat anak-anak kamu, Man?" tanya Bima lagi, tapi dirman terlihat mengamati sekitar. Udara sudah sangat panas, matahari juga hampir tepat di atas kepala.
"Kayaknya langsung pulang aja deh mas, beli mainannya lain kali aja."
"Beneran nggak pa pa? Aku jadi nggak enak sama kamu kalau begini, kamu cuma temenin aku belanja aja."
"Nggak usah merasa sungkan mas, ini sudah biasa. Lagi pula kita kan setiap hari ke pasar, besok-besok juga masih bisa."
"Sudah sangat siang, apa.kita ke masjid dulu aja, man?"
"Mending pulang aja, masih cukup mas waktunya buat sholat dhuhur di rumah, perasaan saya kok nggak enak soalnya tadi istri saya bilang masih menunggu di rumah mas Bima."
Bima tampak mengerutkan keningnya, tidak biasanya istri Dirman sampai sesiang ini masih di rumahnya,
"Apa mungkin Renata mau melahirkan ya?"
"Mungkin saja mas!?"
"Ya sudah, kita pulang saja."
__ADS_1
Akhirnya mereka pun benar-benar memutuskan untuk pulang, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai kembali di rumah karena pasar berada di perbatasan kota.
Dirman ikut ke rumah Bima, ia membantu Bima menurunkan barang-barang. Istri Dirman yang melihat kedatangan mereka pun turut membantu,
"Banyak sekali mas belanjanya?" tanya istri Dirman saat melihat begitu banyak perlengkapan bayi yang di beli oleh Bima.
"Iya mbak, biar nggak bolak-balik beli."
Akhirnya mereka selesai juga membawa barang-barang itu ke dalam rumah,
"Biar saya buatkan minum dulu ya, panas-panas begini mau minuman dingin atau kopi?"
"Kopi saja mbak, sekali lagi terimakasih ya mbak." ucap Bima.
"Sama-sama mas Bima, saya permisi ke dapur dulu."
Kini Dirman dan Bima sudah duduk di kursi njalen yang ada di ruang tamu sambil menunggu istri Dirman kembali.
Hanya butuh waktu sepuluh menit akhirnya istri Dirman kembali dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dan satu piring pisang goreng.
"Maaf mas, tadi saya lihat pisang di kulkas, jadi saya inisiatif untuk menggorengnya!"
"Iya, saya malas senang mbak. Terimakasih!?"
Akhirnya Dirman dan Bima pun mengambil satu per satu cangkir mereka dan mulai menyesap kopi buatan istri Dirman. Rasanya mata langsung melek begitu meminum kopi.
"Oh iya mbak, Renata kenapa ya? maksudku dia kemana? Kenapa rumah sepi?" tanya Bima sambil meletakkan cangkir kopinya yang tinggal setengah.
"Oh iya mas, hampir lupa. Tadi tiba-tiba mbak Renata minta di Carikan ojek."
"Ojek?" tanya Bima kaget, ia langsung menoleh ke arah kamar Renata yang tertutup rapat.
"Iya mas, maaf mbak Renata memaksa jadi terpaksa saya Carikan!?"
"Dia bilang nggak mau ke mana, mbak?"
"Katanya mau ke kota, refreshing gitu. Saya nggak tahu maksudnya refreshing apa mas."
Dia benar-benar, apa dia tidak sadar sedang hamil besar? Bisa-bisanya masih mementingkan dirinya sendiri , batin Bima kesal.
Bima kembali terdiam, ia kemudian teringat sesuatu.
__ADS_1
"Apa Renata pergi ke kamar saya?" tanya Bima kemudian.
Istri Dirman pun segera mengingat kejadian sebelum Renata pergi.
"Seingat saya iya mas, kalau nggak salah setelah ke dapur, tiba-tiba ia masuk ke kamar mas Bima. Dan setelah keluar dari kamar mas Bima, mbak Renata memanggil saya yang tengah menyapu di depan tv dan meminta saya mencarikan ojek."
Bima mengepalkan tangannya, ia yakin ada yang tidak beres.
Dirman dan istrinya hanya bisa saling berpandangan bingung.
Bima pun mengeluarkan ponselnya dan mulai melakukan panggilan pada Renata tapi hingga beberapa kali tidak di angkat.
Hingga waktu dhuhur tiba, Dirman dan istrinya pun berpamitan untuk pulang,
"Kalau ada apa-apa, mas Bima hubungi saya saja. Insyaallah saya pasti bantu."
"Terimakasih ya!?"
"Sama-sama mas, sesama tetangga memang sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu, kalau begitu kami pulang dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!?"
Bima masih mencoba menahan amarah karena ada Dirman dan istrinya. Tapi sepeninggal Dirman dan istrinya ia benar-benar meluapkan kekesalannya dengan menendang kursi njalin ukuran satu orang itu hingga terguling.
"Apa sih maunya tuh orang, aku sudah berusaha sabar selama ini demi anak aku, tapi dia benar-benar membuat kesabaranku habis!?" gerutu Bima kesal dengan tangan yang terus mencengkeram hingga menunjukkan otot-otot tanganya yang putih bersih.
Bima pun segera masuk ke dalam kamar dan memeriksa tempatnya menyimpan uang.
"Bangsattttt!?" teriaknya keras begitu tidak menemukan uang itu di balik tumpukan baju, Bima melempar semua bajunya ke lantai dengan perasaan yang begitu kesal.
Ia duduk bersedeku dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya, tanganya menyunggar rambutnya hingga tertarik ke belakang.
"Aaaaaaa!?" teriaknya lagi berharap rasa kesalnya segera reda.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰