
POV Indah
Aku terdiam dengan langkah pelan di halaman rumah yang cukup besar itu, sesekali aku melirik ke arah pria di sampingku, pria yang kandang terlihat begitu dingin tapi sekali waktu juga hangat.
Wajahnya menatap lurus ke arah pintu besar yang mungkin akan menjadi jalanku untuk bersembunyi sementara waktu dari mas Bima.
Aku belum siap untuk kehilangan, tapi aku juga tidak siap untuk terus bersamanya. Dalam kemelut dilema ini, aku merasa lebih baik sendiri meskipun rasanya seperti sedang kalah.
Langkah kami akhirnya sampai juga di depan daun pintu itu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Berjejer orang menyambut kedatangan kami, mungkin. Tapi aku yakin Dava yang menyiapkannya.
Seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi berjalan mendekati kami, dia membukakan badannya persis seperti beberapa wanita dengan pakaian pelayan.
"Selamat datang, nona!" sapanya, itu pasti di tujukan padaku. Aku kembali melirik pada Dava, pria itu masih tanpa ekspresi. Akhirnya aku memutuskan untuk hanya tersenyum.
"Kenalkan saya Dipo, kepala pelayan di sini!"
Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum, kembali ku lirik Dava. Kali ini sepertinya dia sadar jika aku menunggu jawabannya.
"Pak Dipo yang akan menyiapkan segala keperluan mu di sini sampai kamu menjadi nyonya Dava!" ucapnya membuat aku tertegun, bukan pada kalimat pertamanya tapi pada kalimat selanjutnya.
Apa maksud dari kata 'nyonya Dava'? bahkan aku belum resmi bercerai dengan mas Bima, tapi Dava dengan beraninya mengklaim dirinya sebagai calon suamiku tanpa tidak langsung.
"Mari tuan muda, mari nona!" pria itu kembali menunduk sambil merentangkan tangannya sepertinya meminta kami untuk berjalan, dan benar saja tiba-tiba tangan Dava menggenggam tanganku dan menarik ku, aku pasrah karena memang aku sudah memutuskan untuk ikut.
Hingga akhirnya kami sampai juga di depan sebuah pintu yang aku yakin itu adalah kamar. Pria paruh baya bernama Dipo itu sudah dengan sigap membukakan pintu,
"Silahkan!"
Dava kembali menarik tanganku untuk masuk, dan benar saja itu sebuah kamar bahkan kamar ini lebih besar dari kamarnya di apartemen.
"Ini kamar siapa Dav?" tanyaku, rasanya sungguh tidak enak jika memiliki kamar seluas ini.
"Ini kamarmu! Bagaimana? Apa kamu suka?"
"Aku ingin kamar yang lebih kecil saja, aku tidak akan bisa tidur jika kamarnya sebesar ini!" aku benar-benar berkata jujur. Dari kecil aku terbiasa tidur di kamar yang sempit.
Dava kemudian kembali menatap pak Dipo, aku tidak tahu apa arti tatapannya,
"Pak Dipo dengar?"
"Iya tuan muda, kami akan menyiapkannya. Kami akan kembali dalam lima belas menit!"
Tiba-tiba pak Dipo keluar meninggalkan kami, di kamar itu hanya tinggal aku dan Dava.
"Untuk sementara aku akan menemanimu sampai semuanya siap!"
"Apanya yang siap?" aku sungguh tidak mengerti.
Dava menekan bahuku dengan kedua tangannya, kami saling berhadapan.
"Apapun yang menjadi perintahmu akan menjadi keharusan bagiku. Aku berjanji akan menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku!"
__ADS_1
"Hahhh?" entah aku yang kurang mengerti atau memahami atau memang Dava sepertinya sedang menyatakan perasaannya padaku. Entahlah, aku tidak ingin besar kepala dulu.
"Duduklah, pelayan akan mengantarkan makanan untukmu!"
"Di sini?"
"Maksudnya?"
"Kita makannya di sini?" ini adalah sebuah kamar, rasanya aneh saja jika harus makan di dalam kamar.
"Iya, kamu tidak perlu bersusah payah di sini. Biar semuanya pelayan yang menyiapkan!"
Dan benar saja, baru beberapa menit pintu kembali di ketuk. Beberapa pelayan masuk dengan membawa berbagai macam makanan.
"Kalian boleh kembali, nanti jika sudah selesai saya akan memanggil lagi!"
"Baik tuan muda!"
Dava benar-benar luar biasa. Sungguh penampilannya di kampus tidak pernah menggambarkan kehidupannya di rumah. Sesuatu yang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat. Pantas saja, seisi kampus mengaguminya, mungkin saja aku yang tidak peka.
Kamar itu sekarang sudah di rumah seperti ruang makan lengkap dengan meja dan kursi. Meja lengkap dengan makanan yang penuh di atasnya.
"Silahkan!" Dava tiba-tiba menarik satu bangku dan memintaku untuk duduk. Rasanya aku benar-benar menjadi begitu istimewa.
"Terimakasih!"
"Lain kali tidak perlu ada kata terimakasih dan maaf. Karena apapun akan aku lakukan untukmu!"
Lagi-lagi kata-kata Dava mampu membuat diriku melambung, dia begitu sempurna tapi kenapa mengharap cinta dari wanita yang bahkan belum benar-benar resmi menjadi janda.
Dia benar-benar memperlakukanku seperti tuan putri.
" Mau aku suapi?" ternyata tidak cukup sampai di situ, masih ada hal manis yang Dava lakukan padaku. Teringat sekali bagaimana pertama kali kita bertemu, dia adalah pria yang paling menyebalkan bagiku, tapi kini bahkan dia yang selalu ada untukku.
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri!" aku segera mengambil piringku dan mulai memakannya.
Kami makan dengan tenang, tampak sesekali Dava memperhatikanku tapi aku memilih untuk pura-pura tidak tahu, aku ingin tahu apa yang ia pikirkan tentangku tapi rasanya terlalu cepat menanyakan hal itu.
Akhirnya kami selesai makan dan seperti yang di katakan Dava, pelayan datang. Entah menggunakan apa dia memanggil para pelayan itu. Dan juga pak Dipo, dia juga datang kembali dan mendekati Dava.
"Tuan muda, semuanya sudah siap!"
"Baik!"
Dava menoleh padaku, "Sudah siap?"
"Apanya?"
"Tempat tidur untukmu sudah siap!"
"Hahh, aku!" aku menunjuk diriku sendiri. Maksud dari siap itu apanya.
__ADS_1
"Mari tuan muda!" pak Dipo meminta kamu untuk keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar yang lainnya.
Kamar itu terlihat seperti kamar utama,
"Silahkan!"
Dava mengajakku masuk, sekilas kamar itu tidak ada bedanya dari kamar yang tadi tapi di dalam kamar itu adalah sebuah ruangan lagi dan saat Dava membukanya aku baru tahu jika itu adalah sebuah kamar kecil yang sepertinya baru saja di siapkan.
"Bagaimana? Apa kamu suka?"
"Ini kamarku?"
"Iya!"
"Dan ini?" aku menunjuk kamar yang sama, di depan kamar mungil itu. Hanya ada akses satu pintu untuk keluar.
"Ini kamarku, jadi kamu tidak perlu khawatir jika merasa takut karena kamu bisa memanggilku jika belum bisa tidur!"
"Katanya kita tidak satu kamar?" protesku.
"Memang ini menurutmu satu kamar?"
"Ya tidak, tapi tetap saja, pintunya cuma satu!"
"Kalau kamu mau aku bisa membuat dua pintu!"
"Tidak perlu, baiklah aku sudah sangat capek aku mau tidur saja tidak pa pa kan!"
"Tapi ini semua belum selesai!"
"Maksudnya?"
"Kamu tidak mungkin kan tidur dengan baju itu?"
Aku kembali memperhatikan bajuku, memang tidak nyaman dengan baju yang seperti ini. Tapi apa boleh buat bahkan Dava tidak membiarkanku ke apartemen untuk mengambil bajuku.
"Ini tuan!" pak Dipo tiba-tiba kembali datang dengan membawa beberapa stel baju tidur dengan ukuran yang sama, dengan warna dan model yang berbeda.
"Ini baju siapa?"
"Ini semua bajumu, gantilah bajumu sebelum tidur!" perintah Dava sambil menyodorkan baju yang menurutnya cocok untukku. Mungkin, karena dari beberapa baju ia mengambil satu saja untukku.
"Kamu yakin, aku suka ini?"
"Aku sedang berusaha mencari tahu apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...