
Tampak lalu lalang orang dengan pakaian rapi, jas dan berdasi, sepatu mengkilat serta mobil-mobil mewah yang menurunkan mereka.
Yang menjadi pelengkap diacara itu pastinya adalah pasangannya wanita cantik dengan gaun yang cantik juga.
Berbeda dengan dua gadis yang baru pertama kali menghadiri pesta sebesar itu. Bak bumi dan langit, mereka seperti tengah menghadiri pesta ulang tahun temannya, pakaian khas anak remaja masa kini, dres selutut dengan sepatu ket yang menghiasi kakinya. Make up nya juga tidak mewah, mereka rias rambutnya dengan ikatan rambut sederhana sedikit memberi iklan pada bagian depan.
"Aku kok ngeri ya Ndah." gumam Aya sambil mencengkeram lengan Indah. Walaupun Indah juga merasakan hal yang sama, tetap saja ia tidak boleh membuat temannya semakin panik.
"Jangan menakutiku dong Aya!" bisiknya agar tidak terdengar oleh orang-orang yang berjalan di depannya.
Mungkin saat ini penampilannya tengah jadi sorotan, atau mungkin mereka orang termuda yang berani datang di acara pesta resmi seperti ini.
Mereka lebih mirip tengah menghadiri pesta reoni teman SMA.
"Mau bagaimana lagi, serem begini, aku kayak mau masuk ke dunia lain aja!" ucap Aya lagi sambil memperhatikan sekitar, seumur-umur baru kali ini ia mendatangi pesta yang seperti ini.
Akhirnya Indah memilih menarik tangan Aya dan benar-benar mengajaknya mengikuti orang-orang itu, orang-orang yang cukup asing bagi mereka.
"Sudah, yang penting kita masuk saja, kita lewat pintu. Kalau kita di tahan di sana gara-gara nggak bawa undangan, ya udah kita pulang aja." ucapnya sambil terus berjalan.
"Baiklah, tapi aku akan berdoa semoga kita nggak di ijinkan masuk." ucapnya saat sudah melihat penjaga pintu, tampak tamu-tamu yang lain tengah menunjukkan kartu undangannya, sedangkan ia tahu Indah saat ini sedang tidak membawa kartu undangan.
"Yahhh kalau kayak gitu, aku jadi traktir kamu bakso dong!" keluh Indah dengan pura-pura memanyunkan bibirnya. Indah pun tidak begitu berharap mereka akan diijinkan masuk. Tapi setidaknya ia hanya ingin mencoba saja dan setelah itu mereka akan pergi.
"Udah jadi resiko kamu dong." Aya berusaha tertawa agar suasana tidak semakin tegang saja.
Akhirnya mereka benar-benar memutuskan untuk masuk, mereka melewati penjaga pintu masuk.
"Tolong tunjukkan undangannya!" ucap penjaga dengan pakaian tidak kalah rapi dengan tamu-tamu yang datang, setelan jas hitam dan sebuah aerophone yang menghiasi sebelah telinganya.
"Benar kan Ndah!" bisik Aya. "Pokoknya kalau kita nggak boleh masuk, kita bilang aja salah masuk gedung pesta, mengerti!" bisik Aya lagi.
"Iya, iya bawel." ucap Indah, ia kembali menatap penjaga dengan wajah serius itu dan tersenyum,
"Sebenarnya gini pak, undangan saya hilang, tapi saya benar dapat undangan!"
"Benarkah, tapi maaf. Jika tidak menunjukan undangan, anda tidak boleh masuk. Atau anda bisa menghubungi seseorang yang kalian kenal di dalam sini." ucap penjaga itu memberi saran.
Aku tidak mungkin kan menghubungi nyonya Rose atau mas Bima, gengsi amat ....
"Ya sudah pak, mungkin kami yang salah gedung!"
Indah dan Aya sudah berbalik tapi seseorang yang tengah berbincang dengan salah satu tamu melihat kedatangan mereka.
"Saya kesana dulu ya!" ucapnya pada tamu itu.
"Oh iya, silahkan!"
Wanita itu dengan langkah mantap mendekati penjaga pintu masuk itu,
"Biarkan mereka masuk!" seketika ucapan wanita itu berhasil membuat Aya dan Indah menghentikan langkahnya, begitu juga dengan penjaga pintu. Ia segera menoleh pada sumber suara.
"Nyonya!?"
"Biarkan mereka masuk, saya yang mengundangnya khusus untuk ke sini." ucapnya dengan pasti, dia adalah nyonya Rose.
__ADS_1
"Baik nyonya!" ucap penjaga itu, kemudian menoleh pada Aya dan Indah yang juga menoleh padanya,
"Silahkan kalian masuk!"
Aya menahan tangan Indah agar tidak kembali, "Kamu yakin Ndah mau masuk?" tanyanya dengan suara pelan hingga hanya mereka yang mendengarnya.
"Hmmm, kita coba saja." ucap Indah dan mereka pun kembali mendekati penjaga, Indah menatap nyonya rose dan tersenyum tipis,
"Terimakasih." ucapnya kemudian, siapapun yang melihatnya itu tampak bukan ucapan terimakasih yang sebenarnya.
"Sama-sama, saya senang kamu akhirnya datang." nyonya Rose tak kalah menunjukan senyumnya yang penuh dengan kearoganan.
"Saya pasti datang!" ucap Indah dengan pasti.
"Masuklah dan silahkan nikmati pestanya."
Indah tidak mau berlama-lama berada di dekat wanita itu, rasanya atmosfir tubuhnya seperti memanas gara-gara berada di dekatnya.
"Dia terlihat biasa aja, Ndah." ucap Aya setelah mereka berhasil masuk. Karena sifat asli nyonya Rose belum di tampakkan padanya.
"Karena kamu belum melihat sifat aslinya." ucap Indah sambil mengedarkan pandangannya, begitu juga dengan Aya. Tampak ballroom itu sudah cukup penuh dengan pengunjung hingga ia tidak bisa melihat detail satu per satu orang yang ada di sana.
Hingga akhirnya Aya melihat sosok yang ia yakini begitu mengenalnya karena beberapa kali pria itu menemuinya hanya untuk menanyakan keberadaan Indah.
"Ehhhh, itu bukankah sepu_," Aya menghentikan ucapannya, ia sudah tahu siapa pria itu tapi tengah bersama dengan seorang wanita, "Maksudnya suamimu."
Ternyata Indah juga menatap ke arah yang sama, masih saja ada rasa getir saat melihat wanita yang tengah bersama dengan suaminya itu bergelayut manja seperti itu,
Memang aku akan sanggup jika seperti itu terus? batin Indah, ia membayangkan jika saja ia membatalkan gugatan cerainya.
"Yang bakal jadi mantan." ucapnya dengan pasti. Ia tidak ingin melihat ke belakang lagi, apapun keputusannya kemarin, maka akan menjadi konsekuensinya hari ini dan yang akan datang.
"Jadi itu sekretarisnya?" tanya Aya lagi, ia ingin memperjelas hubungan mereka.
"Bukan, dia istri pertamanya." jawab Indah, ia tahu maksud pertanyaan Aya tapi ia lebih suka memanggil wanita itu sebagai wanita yang membuatnya menjadi madu suaminya.
"Cantik juga." kali ini Aya sengaja menggoda Indah agar suasananya sedikit mencair.
"Cantikan aku." jawab Indah dengan keyakinan tinggi. Memang benar kalau pun saat ini Indah hanya berdandan tipis, tapi jika di perhatikan dengan seksama, Indah cantiknya lebih natural.
"Percaya." ucap Aya tapi kemudian ia menarik tangan Indah saat melihat pria yang di perhatikan ya sedari tadi berjalan menghampirinya,
"Ehhh dia kayaknya mau menghampiri kamu, gimana nih!?" kini malah jadi Aya yang panik.
"Biarin aja, lagi pula Renata juga nggak akan berani nyegah, atau mungkin yang nyuruh dia." ucap Indah dengan begitu yakin, ia tahu Renata orang seperti apa. Walaupun ia hanya bertemu dengan Renata beberapa kali, ia langsung hafal dengan sifat wanita itu. Wanita yang memiliki dua wajah, wanita yang pura-pura baik saat ada maunya dan kalau sudah dapat apa yang ia mau, ia akan kembali ke wajah aslinya.
"Masak sih, kok bisa?" Aya yang belum melihat dari dekat Renata, hanya bisa membayangkannya saja.
"Nanti kamu juga lihat sendiri." ucap Indah.
Akhirnya Bima sampai juga di depan mereka, Bima menatap Indah dengan tatapan heran. Ia tidak menyangka jika Indah akan datang, karena ia tidak mengharapkan Indah datang ke tempat ini.
"Kalian, kenapa bisa di sini?" tanyanya dengan tatapan yang begitu serius.
"Kenapa mas, takut kalau aku ngeliat kamu bermesraan sama Renata? Nggak usah khawatir, aku juga nggak akan cemburu." walaupun saat ini bibirnya mengatakan hal itu, tapi sungguh hatinya tidak. Tetap saja ia harus bersikap baik-baik saja di depan pria yang telah membuatnya hancur, sehancur-hancurnya.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku, ini tidak baik buat kamu."
Indah mengerutkan keningnya, "Buat aku atau buat mas Bima. Atau mas Bima takut jika aku datang ke sini, maka akan banyak dukungan yang beralih ke aku?"
"Malah sebaliknya Indah. Mengertilah situasinya, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, kamu tidak tahu cara kerja mereka."
Indah bahkan bergeming di tempatnya, tanpa berniat untuk membalas ucapan Bima. Hal itu membuat Bima semakin khawatir dengan keras kepala Indah,
"Indah, sebaiknya kamu pulang saja. Biar aku minta Dio buat ngantar kalian." perintah Bima kemudian.
"Mas Bima lebih baik nggak usah deh urusi urusanku, urus saja mama dan istri pertama mas Bima itu. Kita sudah hampir tidak ada hubungan lagi, jadi jangan pikir aku akan menuruti ucapan mas Bima lagi." Indah masih berkeras hati, ia memiliki pemikiran lain tentang suaminya itu.
"Ayolah Indah, jangan keras kepala. Aku takut ini rencana mama buat jatuhin kamu, mengertilah."
"Terserah mas Bima."
Indah segera menarik tangan Aya, mengajaknya menjauh dari Bima.
Bima hanya bisa menatap kesal kepergian Indah,
"Ini pasti rencana mama!"
Tidak ada pilihan lain, Bima pun akhirnya memilih mencari wanita itu, ia harus membicarakan ini,
"Ma, kita harus bicara!" ucapnya saat wanita yang telah melahirkannya itu tengah bicara dengan tamu-tamu yang lain.
"Bentar sayang. Mama masih harus menyambut beberapa tamu." ucap nyonya Rose dengan nada yang masih dibuat begitu manis.
"Tidak perlu, Bima mau bicara penting sama mama!" Bima menarik tangan mamanya dengan paksa dan membawanya ke sudut ruangan.
"Ada apa sih, Bim?" tanya sang mama dengan begitu kesal.
"Mama jujur sama Bima, ini semua pasti rencana mama kan? Mama kan sengaja mengundang Indah buat ke sini?" tuduh Bima.
"Kalau iya kenapa?" dan ternyata tuduhannya itu memang benar, Bima sudah begitu hafal siapa mamanya. Mamanya bisa melakukan segala hal hanya untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Mama benar-benar mau membuat Indah jatuh ya?" tuduh Bima lagi.
"Sudah mama bilang, jika mama tidak bisa menggunakan cara halus, mama akan lakukan apapun." ucap nyonya Rose dengan begitu pasti. Itu bukan hanya gertakan, Bima tahu. Dan sekarang Indah dalam masalah besar, untuk itu ia harus benar-benar mencari cara untuk menyelamatkan Indah dari rencana mamanya.
"Tapi ma, ini salah. Bima nggak akan biarin mama menghancurkan Indah."
"Benarkah? Kamu sendiri yang menantang mama, seandainya saja kamu menuruti kata-kata mama pasti mama juga tidak akan setega ini sama Indah. Lakukan apa saja yang bisa untuk menyelamatkan Indah, dan mama akan melakukan apa saja untuk menghancurkan gadis sombong itu."
"Mama keterlaluan." Bima begitu kesal dan meninggalkan mamanya begitu saja.
"Aku tunggu ya!" ucap nyonya Rose begitu yakin jika rencananya akan berhasil.
Berbeda dengan Bima, terlihat nyonya Rose malah tersenyum penuh kelicikan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...