
Pagi sekali, seperti yang di rencanakan oleh Bima, ia pun membuat sarapan untuknya dan Renata yang masih tidur pulas di kamarnya.
Ia benar-benar berencana untuk pergi ke kota, mencari beberapa bibit sayuran dan membelikan kipas angin untuk Renata.
Tidak lupa ia juga membuatkan satu botol besar kopi untuk Dirman.
Karena Renata masih tertidur pulas, ia tidak berniat membangunkannya. Ia hanya meninggalkan secarik kertas di atas meja makan bersama dengan makanannya.
Karena untuk saat ini ia hanya memiliki mobil untuk kendaraannya, ia terpaksa ke ladang menggunakan mobil, sekalian berangkat ke kota.
Mobil tidak bisa masuk ke gang sempit masuk ke ladang, ia pun terpaksa memarkirkannya di tepi jalan dan berjalan sejauh dua puluh meter untuk mencapai ladangnya.
Betapa terkejutnya, saat sampai ternyata Dirman sudah ada di ladang,
"Man, kamu sudah di sini?"
"Iya mas, enak kalau pagi-pagi nggak panas. Tadi selepas dari mushola langsung ke sini."
"Jadi kamu belum sarapan dong?"
"Aman mas, nanti kalau istri saya selesai masak, makanannya juga Sampek ke sini juga."
"Ohhh, o iya, ini kopinya saya taruh di mana?"
"Di gubuk situ saja mas, nanti saya ke situ."
Bima pun meletakkan sebotol kopi itu di atas gubuk. kemudian meninggalkannya. Ia juga tidak mau kesiangan di kota.
Tujuannya hanya ke pasar dan mencari beberapa bibit lalu kembali pulang, tidak lupa ia juga mencari sebuah kipas angin untuk Renata.
Sekarang sudah jam sebelas siang, rasanya perutnya sudah sangat lapar. Ia memilih kedai bakso untuk mengisi perutnya.
"Baksonya satu, sama teh hangat!" ucap Bima sebelum duduk.
Sambil menunggu baksonya datang, Bima mengamati sekitar. Dan ternyata di sampingnya seorang pria tengah duduk mengamatinya juga.
"Mas!?" sapa sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Kayaknya saya tadi lihat mas di toko pertanian ya?" tanya pria itu kemudian.
"Iya mas." jawab Bima singkat, ia tidak mengenal pria itu jadi ia memilih untuk tidak terlalu menanggapi.
"Saya sebenarnya pengepul sayuran, saya kira mas mau menanam sayuran, atau mas juga pengepul?"
__ADS_1
"Saya?" Bima menunjuk pada dirinya sendiri, "Saya masih mau mencoba menanam."
"Mas dari mana?"
"Saya dari kampung xxx!"
"Kebetulan sekali mas, saya sedang mencari pemasok sayur dari sana. Saat siap membelinya kalau mas bersedia."
Mendengar hal itu, Bima jadi tertarik. Ia pun akhirnya bertukar nomor telpon dengan pria itu, membicarakan banyak hal. Membuat kesepakatan bersama.
Bima cukup lihai dalam bernegosiasi, hal seperti ini bukan hal yang sulit, ia sudah biasa menghadapi klien dalam bentuk bagaimana pun.
Hingga akhirnya mereka pun menyelesaikan negosiasi, Bima pun bergegas untuk pulang.
Ia memang tahu di kampung tempatnya tinggal hampir semua penduduk menanam sayuran. Sepertinya apa yang di tawarkan oleh orang tadi cukup menarik untuknya.
"Mungkin nanti aku bisa minta bantuan lagi sama Dirman." gumamnya selama perjalanan pulang, ia sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya.
Selama menunggu sampai sayuran yang akan di tanam panen, sepertinya menjadi pengepul sayuran cukup bisa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Sesampai di rumah, ia segera mencari Dirman, karena di ladang sudah tidak ada ia pun bergegas ke rumah Dirman.
"Selamat sore!? Assalamualaikum!" sapa Bima di depan rumah Dirman, dan seorang wanita menyahut panggilannya.
"Iya, apa Dirman nya ada?"
"Mas Dirman tadi katanya ke ladang pak RT, katanya suruh panen kacang panjang."
"Kebetulan sekali, kalau boleh tahu di mana ya ladangnya?"
Istri Dirman pun segera memberitahu lokasinya, Bima tanpa berniat untuk pulang lebih dulu ia pun bergegas menemui Dirman.
Akhirnya ia bisa juga menemukan Dirman di sana, ia bersama dengan pak RT.
"Selamat sore!?" sapa Bima yang sudah ikut masuk ke ladang.
"Ehhh mas Bima!" sapa pak RT. Dirman yang tidak begitu jauh dari pak RT pun segera menoleh pada Bima.
"Mas Bima sudah pulang?"
"Iya, tadi cari kamu di rumah. Trus kata istri kamu di sini, jadi saya nyusul!"
"Ada apa ya mas?"
__ADS_1
"Tidak pa pa, hanya ingin ngobrol saja. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, kebetulan saya juga mau ngobrol sama pak RT."
"Sama saya?" tanya pak RT.
Mereka pun akhirnya memilih sebuah gubuk untuk tempat ngobrol,
"Pak RT sudah ada yang beli belum kacangnya?"
"Belum mas, susah di sini kalau mau jual, mesti ke kota sendiri."
"Bagaimana kalau saya yang jualkan ke pasar?"
Pak RT tampak mengerutkan keningnya, pria berpakaian rapi di depannya tiba-tiba menawarkan diri untuk jadi pengepul sayurnya.
"Mas Bima ada aja, yang serius?"
"Saya serius pak, saya akan membeli sesuai harga petani, bagaimana?"
"Ini beneran?"
"Iya pak, bagaimana?"
"Ya kalau begitu saya setuju saja asal harganya cocok!"
Akhirnya mereka pun bernegosiasi harga dan menemukan harga yang pas. Tidak lupa Bima juga menanyakan harga pasar saat ini pada pengepulnya, jadi nanti saat sampai di pasar ia tidak perlu lagi mengecer.
"Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik, pak RT!"
"Iya mas!"
"Oh iya pak RT, kalau ada petani lain yang mau menjual hasil ladangnya, bisa di jual dengan saya."
"Pasti, nanti saya akan memberitahukan ke orang-orang biar mereka menjual ke mas Bima."
"Terimakasih pak!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...