
"Kamu serius mau ikut?" pertanyaan itu sudah untuk kesekian kalinya chef Bram lontarkan pada Indah.
"Memang wajahku nggak serius, chef?"
"Ya nggak tahu sih, tapi bukan tentang ini. Tentang keputusan kamu untuk ketemu lagi sama Bima, kamu serius?"
"Aku nggak yakin, tapi setelah tahu semua ceritanya dari chef Bram, sekarang aku faham kenapa mas Bima sampai nglakuin itu!"
"Kerena simpati?"
"Bukan, walaupun aku tidak yakin untuk saat ini. Aku akan mencari jawabannya nanti di sana!"
"Ya sudah lah terserah kamu, kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan semua keputusan!"
Flashback on
Kita kembali ke cerita chef Bram tentang Bima.
Bima sedari kecil sudah tinggal dengan keluarga yang kurang harmonis, ia sudah sudah mengenal Indah sejak kecil. Tapi ada hal yang terus menghalanginya untuk dekat dengan Indah.
Saat itu, posisi papanya hanya karyawan biasa di perusahaan orang tua Indah, Hingga sebuah kecelakaan yang menimpa orang tua Indah, Bima tahu siapa dalam di balik kecelakaan itu. Yaitu mamanya, dengan segala tekanan mama Bima sengaja mengancam Bima hingga Bima tumbuh menjadi anak yang tertutup termasuk dengan sahabatnya Bram.
Baru menginjak remaja, ia kembali di hadapkan dengan sesuatu yang tidak kalah menyakitkan. Saat ia tahu, papa dan mamanya terlihat perdebatan yang serius. Di situlah awal kehancuran keluarganya, papanya terpaksa menikah lagi dengan seorang wanita karena ulah mamanya juga. Keadaan itu membuat Bima semakin takut dengan sang mama.
Ia merasa mamanya bisa menjadi sosok yang begitu menakutkan dan juga sosok yang lembut dalam sekali waktu.
Hingga dewasa, ia dipertemukan dengan Renata. Seorang gadis yang mau berteman dengannya, merasa mendapatkan kenyamanan dari seorang Renata, sebagai seorang pria dewasa.
Tapi hal itu membawanya pada hubungan yang rumit dengan Renata, ia tidak tahu kenapa Renata bisa berubah setelah mereka menikah.
Ternyata tekanan dari mama ya tidak berhenti sampai di situ, ia harus di hadapkan pada pernikahan yang di atur oleh mamanya dengan seorang gadis yang ternyata membuka kembali luka lama tentang kejahatan mamanya.
Flashback off
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah kampung yang sudah lima tahun ini menjadi tempat tinggal seseorang.
"Ini tempatnya?"
"Iya, kenapa? Mau balik ke kota?"
"Ya nggak lah chef! Yang mana rumahnya?"
"Kita nggak langsung ke rumah, kita ke gudangnya dulu!"
Mereka berhenti di sebuah gudang yang cukup ramai dengan orang-orang yang tengah bekerja.
"Ayo turun!" ajak chef Bram.
"Hmmm!"
Indah mengikuti chef Bram di belakangnya.
"Mas Bram!?" sapa seseorang yang sepertinya sudah sangat hafal dengan Bram, sepertinya chef Bram sudah sering datang ke tempat itu.
"Hai Man, gimana kabarnya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, mas!" pria itu pun kemudian beralih menatap Indah yang berada di samping chef Bram, "Lohhh ini, kalah nggak salah mbak, mbak_!"
"Saya Indah, mas!"
"Iya, mbak Indah. Seneng bisa lihat mbak Indah lagi!"
"Saya juga mas_?"
"Dirman, mbak!"
"Iya, mas Dirman!"
"Jadi kalian sudah saling kenal?" chef Bram cukup terkejut karena mereka saling kenal.
"Iya mas, kita ketemu di ruangan sakit waktu itu saat lahirannya Yusuf!"
"Oh itu!" chef Bram tertarik untuk mencari keberadaan seseorang, "Yusuf kemana?" tanyanya kemudian karena biasanya anak itu paling betah di gudang.
"Itu!?" Dirman pun langsung menunjuk ke arah anak kecil yang tengah menaiki sepedanya, sepertinya ia baru saja dari mengaji tampak dari peci dan tas yang masih di melekat di kepalanya.
"Om Bram!" panggilnya bersemangat.
"Hai Yusuf!" Yusuf melempar begitu saja sepedanya dan berhambur memeluk chef Bram.
"Coba lihat siapa yang Om Bram bawa!?" mendengar ucapan chef Bram, Yusuf pun segera menoleh ke arah Indah.
"Bidadari ayah!?"
"Iya kamu senang?"
Chef Bram pun segera menurunkan Yusuf dan anak itu segera berdiri di depan Indah, Indah pun segera berjongkok agar sejajar dengan Yusuf.
"Hai Yusuf! Aku Tante Indah, jadi Yusuf bisa panggil tante aja!"
Yusuf menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau!"
"Hahhh?"
"Aku maunya mama saja." mendengar ucapan Yusuf, chef Bram pun segera ikut berjongkok.
"Yusuf, nggak bisa seperti itu. Tante Indah ini bukan_!"
Indah segera menggelengkan kepalanya agar chef Bram menghentikan ucapannya.
"Nggak kok, Yusuf boleh panggil apa aja sama Tante Indah!"
"Benarkah?" Yusuf tampak berseri-seri.
"Iya!"
"Asyikkkk!"
"Baiklah, sudah cukup kan perkenalannya. Sekarang antar om sama Tante ke rumah kamu." ajak chef Bram.
"Ayo!"
__ADS_1
Mereka bertiga pun akhirnya merasa dalam satu mobil menuju ke rumah Bima.
"Ayo panggil ayah mu!"
Yusuf pun berlari ke dalam rumah sambil terus berteriak memanggil ayahnya.
"Ayah, ayah, lihat siapa yang datang!"
"Tunggu Yusuf , ayah masih memasak!"
"Ayo ayah, cepetan!" huruf terus menarik tangan Bima.
"Bentar, ayah matikan dulu kompornya!"
Setelah mematikan kompor, Bima pun mengikuti Yusuf. Hingga langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang datang.
"Indah!"
"Mas Bima!"
Kini chef Bram memberi kesempatan pada mereka untuk bicara berdua. chef Bram sengaja mengajak Yusuf masuk ke dalam rumah, membiarkan Indah dan Bima berbicara di luar.
"Bagaimana kabar mas Bima?" tanya Indah untuk memulai pembicaraan.
"Seperti yang kamu lihat, kehidupan di kampung telah banyak merubah semuanya!"
"Indah sudah mendengar semuanya dari chef Bram,"
"Semuanya?"
"Iya, bahkan tentang mamanya mas Bima!"
"Maafkan aku!"
"Ini bukan kesalahan mas Bima, pasti berat memasukkan mama mas Bima sendiri ke dalam penjara."
"Tapi semuanya sudah terlambat Indah, aku dulu terlalu pengecut!"
"Yang penting mas Bima mah mengakuinya! Itu sudah cukup bagi Indah, tanpa bantuan dari mas Bima, tidak mungkin sekarang mama Rose berada di penjara!"
"Semuanya, aku rasa masih belum cukup untuk menebus semua kesalahan keluargaku padamu!"
"Indah sudah iklas mas, jangan terus menyalahkan diri mas sendiri."
"Terimakasih ya, aku nggak tahu harus bersikap bagaimana dengan kamu Indah."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1