
Bima melalui harinya begitu berat, tapi ia berusaha untuk menikmatinya. Ia memang secara status sudah punya istri, tapi ia melakukan semuanya sendiri. Beruntung istri Dirman kerap meninggalkan makanan di rumahnya jika anaknya tidak rewel, ia akan menyempatkan diri untuk memasak.
Sedangkan Renata, ia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Apalagi dengan perutnya yang besar, ia selalu beralasan jika tidak bisa melakukan pekerjaan apapun karena perutnya.
Usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan, berdasarkan HPL nya, tiga Minggu lagi akan melahirkan.
"Kata ibu-ibu di sini, kalau hamil tua itu harus sering jalan-jalan, biar nanti lahirannya lancar." ucap Bima yang berada di dapur tengah mencuci piring kotornya, ia merasa tidak enak kalau harus membebankan semua pekerjaan pada istri Dirman. Apalagi ia tidak bisa membayar banyak pada wanita itu, ia hanya mampu membayar tiga ratus ribu per bulannya untuk istri Dirman, karena selain menggaji istrinya, Bima juga harus membayar gaji untuk Dirman.
Apalagi karena pekerjaan Dirman semakin banyak, Bima juga harus memikirkan gaji lebih untuk pria itu.
Setelah tujuh bulan di tempat tinggal barunya, akhirnya Bima bisa membeli sebidang tanah lagi, walaupun tidak besar tapi cukup menambah penghasilannya.
Selain menanam sayuran, Bima juga mulai menanam buah-buahan karena harganya yang cenderung lebih stabil.
Renata yang tengah duduk di ruang TV malah menatap kesal pada Bima,
"Kamu mau aku kecapekan. Kamu tau kan orang hamil itu jangankan berjalan, duduk aja engap. Nggak usah deh ikut-ikutan saran orang-orang udik itu."
"Kalau sarannya bagus, kenapa harus nggak di dengar!?" Bima masih tidak mau menyerah, mau bagaimanapun ia ingin yang terbaik untuk anaknya, "Dokter kan juga menyarankan hal yang sama."
"Ribet." Renata tetap dengan gaya keras kepalanya, "Oh iya, jangan lupa lusa antar aku periksa. Jangan lupa juga, mobilnya di cuci dulu. Aku nggak mau ya kalau harus naik mobil yang kotor dan bau sayuran begitu. Aku mau muntah!?"
Bima hanya menggelengkan kepalanya,
Akhirnya ia selesai juga dengan pekerjaannya. Ia pun menghampiri Renata dan ikut menyaksikan acara tv,
"Pijitin dong kakiku, pegal nih."
Renata tampa permisi langsung meletakkan kedua kakinya di pangkuan Bima, walaupun tubuhnya begitu capek karena seharian ini ia di ladang, tapi tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Renata dari pada mendengarkan Omelan dari Renata.
Bima tetaplah laki-laki, rasanya ingin sekali melakukan haknya sebagai seorang suami, tapi Renata selalu menolaknya.
Semenjak Bima jatuh miskin, Renata seperti sengaja menghindari Bima. Ia tidak pernah mau berhubungan suami istri dengan Bima, bahkan sampai sekarang mereka tetap tidur terpisah.
"Jangan menatapku seperti itu!" hardik Renata saat menyadari saat ini Bima tengah menatapnya.
Astaghfirullah hal azim ...., ucap Bima dalam hati. Walau bagaimana pun ia tetap laki-laki normal , apalagi saat ini Renata memakai daster yang begitu pendek.
"Maaf! Aku tidur dulu, sudah kan?"
"Enak aja, ini masih belum yang sebelah kiri."
Akhirnya tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Renata. Hingga matanya teras seperti di lem tapi Renata masih belum membuatkannya istirahat,
"Sudah ya, aku besok harus ke pasar pagi-pagi sekali."
"Ini masih pegal Bim, kamu jangan mau enaknya aja. Udah hamilin aku, giliran cuma suruh pijet kaki aja nggak mau!?"
"Baiklah, baiklah!" Bima lebih baik menuruti permintaan Renata dari pada harus mendengarkan Omelan wanita itu.
"Uahhhhh, ngantuk!?" gumam Renata, dan sekarang sudah jam dua belas malam, akhirnya wanita itu mengantuk juga, "Pijatan kamu sudah benar-benar ngaco, nggak kerasa sama sekali. Mending aku tidur aja!"
__ADS_1
Renata menurunkan kakinya dan ia pun mulai berjalan ke kamarnya sambil memegangi pinggang dengan perut besar itu.
Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya, padahal dua jam lagi ia sudah harus bersiap ke pasar, tapi jam segini ia masih belum tidur.
Bima pun tidak ingin membuang waktu dengan berpindah tempat, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa kecil itu, sekalian agar ia bisa melihat jam sewaktu-waktu karena di kamarnya tidak ada jam dinding.
Benar saja, perasaan baru saja memejamkan mata. Ia sudah mendengar pintu rumahnya di ketuk, itu Dirman.
Sudah dua bulan ini, Dirman juga ikut ke pasar karena semakin banyaknya sayuran yang harus Bima bawa, Dirman akan membantunya menurunkan sayuran-sayuran iri sesampainya di pasar.
"Iya bentar!?"
Dengan cepat Bima berjalan walaupun tampak sekali ia masih sempoyongan dan sesekali kakinya menabrak sofa dan meja karena matanya belum benar-benar terbuka, ia membuka pintu dan benar aja Dirman sudah berdiri di depan pintu,
"Sudah jam tiga lebih mas, nanti kesiangan Lo mas!?"
"Iya, tunggu sebentar ya, aku ambil jaket dan cuci muka."
"Iya mas!"
Bima pun kembali masuk ke dalam rumah, ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar sedikit lebih segar kemudian ia berlanjut ke kamar untuk mengambil jaket dan tas kecilnya yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Ayo Man!" ajaknya setelah mengunci pintu rumah kembali, walaupun sudah mencuci muka, tetap saja rasanya matanya masih begitu berat.
"Man, kamu bisa nyetir nggak?"
"Ada apa mas?"
"Bisa sih, tapi belum punya SIM!"
"Kamu yang nyetir ya, mataku rasanya masih sangat berat."
"Begitu ya, mas?"
"Iya, nanti pas pulang biar aku aja yang nyetir kalah takut sama polisi."
"Polisinya lagi sibuk ngurusin Sambo mas, nggak sempat nilang."
"Ada-ada aja kamu, Man! Ya sudah ini kuncinya, aku mau tidur lagi di mobil."
Akhirnya Dirman yang mengemudikan mobilnya dan benar saja, jika Bima kembali tertidur pulas.
"Kasihan mas Bima, dia jadi kurus begini. Tampak sekali kalau dia kurang tidur!" gumam Dirman sambil sesekali mengamati wajah lelap Bima,
Hingga sampai di pasar, mobil pun firman parkiran di tempat biasa. Bima masih terlelap, Dirman merasa tidak tega untuk membangunkan pria itu,
"Biarkan saja lah, aku aja yang turunin semuanya!"
Dirman pun pelan-pelan turun dari mobil, ia membuka pintu belakang dan mulai menurunkan satu persatu sayuran yang mereka bawa. Kini semua bangku belakang sudah di turunkan di di ganti dengan tumpukan-tumpukan sayuran. Kadang bagian depan pun masih digunakan untuk membawa sayuran karena bagian belakang sudah tidak muat.
Hingga Dirman selesai menurunkan semua, barulah Bima terbangun karena mendengar suara azan subuh.
__ADS_1
"Sudah sampai!?" gumamnya dan tidak menemukan Dirman di sampingnya.
Akhirnya Bima pun memutusakan untuk turun, terlihat dirman tengah sibuk melayani para pembeli,
"Man, kenapa aku tidak di banguni?"
"Mas Bima lelap sekali, jadi nggak tega banguninnya!?"
"Ya sudah kamu ke mushola dulu, biar aku aja yang lanjutin!" pinta Bima yang merasa tidak enak dengan Dirman.
"Sudah nggak pa pa mas, tinggal dikit juga. Kita ke musholanya sama-sama aja."
Karena ikut ke musola menjadi kebiasaan, membuat Bima menjadi mengenal Tuhannya. Ia jadi rajin pergi ke mushola, bahkan sekarang sholatnya juga tidak bolong, ia mulai mempelajari bahan sholat dari buku tuntunan sholat ia yang beli di pasar ini juga.
Ia juga mulai belajar mengaji, walaupun dari nol tapi tampak ia begitu bersemangat, setiap sehabis sholat magrib, ia bergabung dengan bapak-bapak lain yang usianya jauh di atasnya untuk belajar mengaji bersama ustad yang sengaja di datangkan ke kampung itu untuk mengajari orang-orang kampung yang belum bisa mengaji.
Ustad itu usianya bahkan jauh lebih muda darinya, usianya kira-kira sekarang seusia Indah.
"Akhirnya selesai juga." ucap Dirman sambil mengemasi bungkus sayuran yang di tinggal.
"Ya sudah, biarkan saja. Lebih baik segera ke mushola saja."
"Baik mas!"
Mereka pun bergegas ke mushola yang ada di pasar itu.
Matahari mulai terbit dan mereka sudah melakukan perjalanan pulang,
"Lumayan ya mas, kalau kayak gini terus." ucap Dirman yang sekarang bergantian duduk di samping kemudi.
"Alhamdulillah Man."
"Kayaknya mending mas Bima ganti mobil aja deh, mas!"
"Maksudnya?"
"Kan sayang kalau mobil sebagus ini buat ngangkut sayur, mending cari mobil pick up aja mas, tempatnya lebih luas. Jadi muat banyak, juga nggak sayang kayak gini. Kalau kayak gini kan kotor mas."
"Kamu benar juga ya!? Mobil pick up harganya pasti lebih murah dari ini!"
Bima sudah bisa membayangkan jika nanti sisa hasil jual mobil setalah membeli sebuah pick up, bisa ia gunakan untuk biaya persalinan Renata. Apalagi Renata sudah mengatakan kalau mau lahiran secara Caesar saja, pasti butuh lebih banyak uang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1