Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Dia kasihan


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat Devi begitu fokus dengan layar ponselnya, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi di berita bisnis malam ini. Berita yang di siarkan secara langsung di sebuah situs internet.


"Ma, mama ....!" teriaknya sambil berlarian mencari keberadaan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa sih Devi, kenapa teriak-teriak?" tanya wanita paruh baya sudah siap dengan baju tidurnya, di wajahnya juga sudah ditempeli dengan masker serta potongan timun yang hendak di tempelkan di kedua matanya, tapi karena teriakan putri sulungnya itu membuat semuanya gagal.


"Lihat ma! Lihat!" Devi segara duduk di sofa kosong yang ada di samping wanita itu, ia menunjukan layar ponselnya dengan begitu antusias.


"Heboh banget, ada apa sih?" tanya wanita itu masih dengan kesibukannya, terlihat sekali ia tidak tertarik dengan apa yang di tunjukkan oleh putrinya.


"Berita Dava jadi trending topik di berita bisnis, ma! Videonya juga sudah tersebar banyak, bukan live lagi!"


"Bukankah biasa kalau Dava selaku jadi trending topik!" ucap wanita itu dengan masih enggan menatap layar ponsel putrinya. Ia sudah hafal dengan putrinya itu, Devi terbiasa heboh menanggapi semua masalah. Berbeda sekali dengan putranya yang lebih tenang dalam segala hal.


"Ini beda ma!"


Melihat kesungguhan putrinya, akhirnya sang mama menoleh padanya dan melihat apa yang sedang di lihat putrinya.


Wanita itu memperhatikan apa yang ada dalam berita.


"Hahhh, kok bisa?" tanyanya heran setelah melihat semuanya


"Devi juga nggak tahu! Gitu tadi nggak tertarik!" keluh Devi sedikit kesal karena mamanya tadi tidak peduli.


"Jadi gadis itu menantu wanita rubah itu!?" tanyanya lagi saat mengenali wanita yang berdiri tidak jauh dari Dava dan gadis yang di perkenalkan putranya sebagai kekasihnya.


"Bagaimana bisa, ma! Dava juga nggak cerita sama mama?" tanya Devi, ia tidak yakin jika mamanya tidak tahu tentang hal ini. Tapi ia juga tidak yakin kalau Dava sengaja melakukannya, "Atau jangan-jangan ini cara Dava buat balas dendam sama wanita itu, ma!?"


Mamanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Nggak, mama yakin Dava nggak kayak gitu. Dia tidak mungkin memanfaatkan gadis itu demi kepentingannya sendiri."


"Lalu? Bagaimana kalau kakek juga sampai tahu?"


"Biar mama tanyakan langsung besok sama Dava."


"Kenapa nggak sekarang aja ma?"


"Sudah malam, kasihan juga kan Dava! Mereka pasti masih bersama!"


"Tapi kalau menurut aku Dava deh ma yang kasihan. Bisa-bisanya ia suka sama istri orang!?"

__ADS_1


"Kasihan gadis itu!"


"Hahhh? Mama nggak salah?"


"Ya enggak Devi, mama sudah pernah berada di posisi itu. Dan kamu tahu gimana rasanya."


Devi jadi membayangkan hal yang terjadi pada mamanya terulang pada Indah, ia menjadi saksi betapa menderitanya mamanya saat itu karena ulah wanita rubah itu.


"Gitu ya!"


"Hmmm!"


...***...


Kini Indah sudah duduk di kursi samping kemudi sedangkan Aya memilih duduk di belakang. Dava sengaja mengantar mereka karena memang kini sudah sangat larut, ia tidak bisa membiarkan dua gadis berkeliaran sendiri di tengah malam.


"Terimakasih ya Dava!" ucap Indah saat mereka sudah di dalam mobi.


"Sudah sepatutnya aku melakukan ini kan!?" ucap Dava dengan nada dingin, ia bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari jalanan. Ia tetap fokus menyetir dan jalan yang ada di depannya.


"Tapi tetap saja, jika kamu tidak datang tepat waktu mungkin bahkan satu kali pun aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan ini." rasanya Indah tidak bisa membayangkan hal apa lagi yang akan di lakukan oleh nyonya Rose untuk mempermalukannya lebih dari itu.


Ucapan Dava tentu berhasil membuat Indah menatap Dava tidak percaya,


Bagaimana bisa?


"Mas Bima?" tanyanya untuk memperjelas pernyataan Dava. Bahkan gadis yang duduk di bangku belakang yang tampa sengaja mendengarkan ucapan Dava, ikut mendongakkan kepalanya.


"Iya." jawab Dava singkat pada dan jelas. Tapi tentu bukan itu jawaban yang di inginkan Indah, ia ingin mendengarkan penjelasan Dava.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


Flashback on


Dava tengah berada di ruangannya saat ponselnya terus saja berdering, saat melihat siapa yang melakukan panggilan rasanya Dava enggan untuk menjawabnya.


Ia benar-benar sedang ingin mengalihkan pikirannya dari orang-orang itu.


Tapi karena ponselnya terus berdering, akhirnya Dava tergerak hatinya untuk menjawab.


"Ada apa?" tanyanya dingin saat ponsel itu sudah berada di duan telinga sebelah kanannya.

__ADS_1


"Kamu harus datang ke sini!" ucap pria yang berada di sebrang sana.


"Kemana?" tanyanya pura-pura tidak tahu meskipun ia sudah faham dengan tempat yang tengah di bicarakan oleh pria itu.


"Ke pesta amal, lindungi Indah!" ucap pria itu dengan begitu pasti membuat Dava mengerutkan keningnya. Bukankah seharusnya jika dia tidak datang justru menjadi kesempatan bagus bagi pria di seberang sana itu? Tapi kenapa dia malah menghubunginya?


"Kenapa? Kan ada kamu?" tanya Dava dengan masih mencoba bersikap tenang.


"Indah membenciku, saat ini hanya kamu yang bisa menolongnya. Datanglah jika kamu tidak ingin Indah hancur." ancam pria itu dan langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


Sambungan telpon terputus secara sepihak hanya meninggalkan notif putus.


Dava terdiam sambil menatap layar ponselnya percakapan yang terjadi hanya beberapa detik itu cukup menggoyahkan hati Dava.


Padahal tadi dia sudah bertekat tidak akan datang ke acara itu karena ia tidak ingin melihat bagaimana Indah dengan Bima, tapi kali ini Bima sendiri yang memintanya datang.


Ada hal yang lebih penting yang harus ia pikirkan dari pada perasaannya sendiri.


Dava pun segera menyambar jasnya begitu juga dengan kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Dengan langkah lebar dan cepatnya, ia keluar dari gedung itu. Sebuah mobil sudah siap terparkir di depan gedung kantor.


"Saya akan pergi sendiri." ucapnya saat sopir hendak ikut bersamanya.


Flashback off


Dan ternyata benar, apa yang di katakan Bima. Seandainya saja dia tidak menuruti permintaan Bima mungkin dia juga akan menyesal.


Setelah mendengar cerita dari Dava, Indah terdiam. Ia memilih menatap ke arah depan, tapi tatapannya jelas buka fokus ke sana.


Dava tahu apa konsekuensinya setelah menceritakan itu pada Indah, tapi tetap saja ia harus bersikap gentleman sebagai seorang laki-laki.


Jika pun ia ingin mendapatkan Indah, harus dengan cara yang baik. Bukan dengan mengambil kesempatan itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2