
POV Indah
"Kamu nggak datang ke undangan kemarin?" pertanyaan Aya mengalihkan perhatianku dari penjelasan dosen di depan.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku, sebenarnya aku bahkan tidak tahu apa aku bisa ke sana atau tidak.
"Kamu yakin? Bukankah ini kesempatan bagus untuk menunjukkan pada para pemegang saham jika kamu pemilik perusahaan itu?"
Apakah benar?
Ingin rasanya membenarkan, tapi apa benar yang aku inginkan hanya itu?
Cukup lama aku memikirkannya hingga akhirnya aku memilih berdiri,
"Iya Indah, apa kamu bisa menjawab?" pertanyaan dari dosen menyadarkan ku jika sedari tadi dosen tengah memberi pertanyaan, aku menatap Aya sekilas dan dia memilih menggelengkan kepalanya, sepertinya sedari tadi ia juga tidak mendengarkan penjelasan dosen. Ia terlalu fokus dengan masalahku.
"Maaf pak, saya mau ijin. Ada acara mendadak!"
Segera ku ambil tasku dan ijin keluar, entahlah apa yang akan dipikirkan oleh dosen.
Aku berjalan cepat, tidak punya kendaraan pribadi jadi bus rasa-rasanya adalah trasnportasi paling aman dan murah.
Baru saja keluar dari lorong kelasku, langkahku sedikit melambat, untuk beberapa hari dan baru kali ini aku berpapasan dengan Dava.
Aku pikir dia akan menyapaku, tapi nyatanya aku salah. Ia berlalu begitu saja seperti dua orang yang tidak saling kenal.
Dava ....
Suaraku hanya tertahan di tenggorokan, ingin memangil dan menanyakan bagaimana perasaannya.
Apa dia sakit hati karena perkataanku beberapa waktu lalu?
Ahhhhh, aku sepertinya terlalu jahat.
Kembali tersadar, aku kembali melihat jam tanganku. Sudah jam sembilan kurang lima belas menit. Lima belas menit lagi akan dimulai.
Aku kembali mempercepat langkahku, tepat saat sampai di halte kecil samping kampus, sebuah bus melintas. Sepertinya Dewi portuna tengah berpihak padaku.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, akhirnya kakiku mendapat juga di depan gedung tinggi, gedung yang pernah terasa asing buatku.
__ADS_1
Hingga suara seseorang membuatku tersadar,
"Nona Indah!"
Itu adalah Dio, dia sepertinya sengaja menunggu kedatanganku, sikapnya masih sama seperti waktu itu,
"Mari nona, saya antar ke ruangan meeting."
"Iya!"
Aku hanya mengikuti langkah pria itu, Dio, aku rasa dia pria yang baik tapi kenapa harus terjebak di antar orang-orang yang penuh dengan kemunafikan.
"Silahkan nona!" Dio membukakan pintu itu untukku, sudah bisa ku bayangkan apa yang ada di dalam ruangan itu, pasti tatapan mata-mata asing yang menatapku penuh dengan tanda tanya.
Hehhh, ku tarik dan hembuskan nafasku perlahan untuk mengurangi rasa grogi.
Kakiku mulai melangkah, dan benar orang yang pertama kali aku lihat ada mas Bima,
Dia tersenyum padaku?
Sepertinya iya, dia tengah tersenyum padaku dan memintaku untuk duduk di sampingnya. Lalu tatapan ku beralih pada wanita yang dulu terlihat begitu lembut di mataku.
Dulu_, iya dulu dia begitu terlihat baik, bahkan ibu mertua yang baik. Idaman setiap menantu, tapi kini bahkan tatapannya lebih menakutkan dari seorang penyihir.
Ruangan yang di isi sekitar dua puluh orang itu seakan memiliki atmosfir yang berbeda dari di luar, rasanya lebih panas apalagi dengan tatapan-tatapan mereka yang terbilang begitu menusuk, penuh intimidasi.
Srekkkk
Tiba-tiba tangan mas Bima menggengam tanganku, hampir aku menariknya tapi mas Bima lebih cepat bertindak, ia menggengam erat tanganku hingga tidak bisa terlepas.
"Jangan khawatir, aku di sini!" ucapnya lirih, mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya.
...Hahhh, manamungkin dia mengatakan hal itu? Justru dia yang telah membuat aku khawatir sekarang ...
Aku memilih diam, tapi sosok yang tidak asing juga bisa aku lihat di ruangan itu,
Pak Hadi?
Dia pengacara Hadi, ada apa pak Hadi juga di sini? Katanya hanya pemegang saham saja kan.
__ADS_1
Tiba-tiba mas Bima berdiri, sepertinya rapat akan di mulai,
"Selamat pagi semuanya," sapanya dengan sopan.
"Baiklah, sepertinya meeting kali ini sudah bisa di mulai karena semuanya sudah lengkap.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya mendatangkan kalian di sini, perkenalkan dia Indah!"
Mas Bima memintaku untuk berdiri, terpaksa aku tidak bisa menolak dan aku memberi salam serta hormat pada semua yang hadir.
"Jadi Indah ini, selain istri saya. Di adalah putri tunggal dari pak Wira dan Bu Hesti. Kalau kalian lupa, saya akan mengingatkan lagi!"
Mas Bima memutarkan sebuah foto di layar besar yang ada di belakang kami, itu adalah foto kedua orang tuaku, untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajah mereka. Dan yang membuatku sakit adalah foto-foto kecelakaan itu.
"Mereka meninggal pada kecelakaan sekitar tiga belas tahun yang lalu, dan pak Wira adalah pemilik sah perusahaan ini."
Mulai terdengar bisik-bisik dari para pemegang saham yang hadir, sepertinya mereka sudah bisa menduga apa yang akan terjadi.
"Sudah cukup!" nyonya Rose berdiri dari duduknya, dia terlihat begitu marah.
"Semua ini tidak ada hubungannya, masalah ini bisa kita bicarakan secara kekeluargaan di rumah, bukan di sini!"
"Maaf nyonya Rose!" ucap mas Bima, membuatku terpaku. Untuk pertama kalinya aku melihat ketegasan di mata mas Bima,
Dia bahkan memanggil mamanya dengan begitu formal,
"Silahkan anda duduk dulu, sekarang belum waktunya untuk mengajukan pendapat atau pertanyaan! Atau jika anda tidak setuju dengan meeting ini, anda bisa keluar!"
Seketika ucapan mas Bima membuat semua orang di dalam ruangan terdiam,
Mungkin sikap ini yang sering mas Bima tunjukkan pada seluruh karyawannya hingga membuat mereka begitu segan pada pria yang aku anggap plin plan ini.
Terlihat mama Rose begitu marah, tangannya mengepal sempurna tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti berjalannya meeting.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...