
Hari ini Indah sengaja datang ke kantor Bima, bukan untuk mendapatkan hati Bima kembali tapi ia tengah mengantar surat yang ia dapat dari pengadilan agama yang baru saja jadi.
Kedatangan Indah langsung mendapat sambutan yang luar biasa, ia tidak menyangka jika salah waktu karena saat ia membuka pintu ruangan itu Bima dan Renata tengah berpelukan.
"Waw, luar biasa!" ucap Indah sambil bertepuk tangan membuat Bima dengan cepat melepas pelukannya.
"Indah!?" tampak wajah keduanya begitu salah tingkah.
"Jangan khawatir, aku ke sini bukan untuk mendapatkan cinta mas Bima lagi, tapi aku ke sini cuma ingin mengantarkan ini!" Indah menyerahkan surat itu tepat di depan dada Bima.
Bima segera melihat surat itu, dan ternyata surat cerai yang sudah di tanda tangani oleh Indah,
"Indah, ini tidak seperti yang kamu lihat!"
"Apa lagi yang salah, Indah pergi!" Indah dengan cepat berlari meninggalkan ruangan itu, walaupun ia sudah mempersiapkan semuanya tapi tetap saja hatinya tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dapat, hatinya masih saja hancur.
Bima pun memutuskan untuk mengejar Indah, meninggalkan surat itu begitu saja di atas meja.
Renata yang penasaran segera membacanya,
"Jadi dia benar-benar serius!?" gumamnya dengan perasaan was-was.
"Indah tunggu! Semua bisa di bicarakan baik-baik!"
Langkah Bima segera terhenti saat Indah tiba-tiba memeluk seseorang, seseorang yang tengah berdiri dengan tegap dan menatapnya dengan begitu tajam,
"Dava, bawa aku pergi!" ucap Indah dalam tangis yang sengaja ia sembunyikan di balik pelukan itu.
__ADS_1
Dava mengusap kepala Indah, ia Sudja berjanji akan melindungi Indah apapun yang terjadi. Ia kembali menatap Bima yang berdiri tepat dua meter di depannya,
"Jangan pernah mengejar Indah lagi, karena mulai hari ini dan seterusnya Indah menjadi tanggung jawab saya! Urusi saja istri matremu itu!"
Dava segera menarik Indah dan membawanya pergi.
"Silahkan tuan!" seseorang yang sudah siap di samping mobil membukakan pintu untuk mereka. Bahkan mobil itu jauh lebih mewah dari mobil Bima.
Dava pun mengajak Indah masuk ke dalam mobil,
"Kita ke rumah!"
"Baik tuan muda!"
Indah masih menyembunyikan air matanya di dalam dada Dava, dan dengan sabarnya Dava mengusap punggung Indah. Tidak memintanya untuk berhenti menangis.
Sedangkan Bima masih berdiri di tempatnya dengan tangan yang mengepal, seseorang tiba-tiba mengusap bahu Bima,
Dia adalah Bram, tanpa sengaja saat Bram berkunjung ia melihat drama itu lagi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Bima tanpa mengubah pandangannya.
"Jika kamu benar-benar mencintai Indah, maka lepaskan dia. Biarkan dia bahagia dengan keputusannya!"
Bima tidak lagi menanggapi ucapan Bram, ia memilih berlalu begitu saja menuju ke ruangannya kembali. Tapi nyatanya di dalam sana masih ada Renata.
"Sayang, gimana? Indah mau mendengarkan kamu?" Renata segera menghampiri Bima.
__ADS_1
"Tinggalkan saya sendiri, pergi!"
"Sayang!"
"Pergi!"
Renata akhirnya tidak bisa membantah lagi, ia tidak mau membuat Bima semakin marah padanya.
"Baiklah, aku pergi. Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu!"
Di telah lain ternyata mobil yang di tumpangi Indah akhirnya sampai juga di depan sebuah rumah yang besar.
"Dava, ini bukan apartemenku!"
"Lupakan apartemen itu, tinggallah di sini bersamaku!"
"Hahhh?" Indah benar-benar terkejut dengan ucapan Dava.
"Jangan khawatir, kita akan tinggal di kamar yang berbeda. Dan setelah ini aku yang akan membantu proses perceraian kalian!"
Walaupun ia sudah yakin untuk bercerai, tapi rasanya ia masih sakit saat membayangkan akan benar-benar berpisah dengan Bima. Walau bagaimana pun, Bima adalah orang pertama yang telah membuatnya jatuh cinta tapi dia juga orang pertama yang telah membuatnya patah hati dengan begitu dalam.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...