Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Rena yang sakit


__ADS_3

Bima memang ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tapi bukan hanya itu, ia juga akan menemui Rena. Ia sekarang sudah yakin dengan perasaannya.


"Dio!"


"Iya tuan!?"


"Tolong siapkan baju yang akan saya pakai ke acara nanti malam, saya pergi sebentar!"


"Baik tuan!"


Hari ini Rena tidak pergi ke kantor, sebenarnya sudah beberapa hari dengan alasan sakit. Ia hanya ingin di perhatikan oleh Bima, ia berharap Bima akan segera datang dan menjenguknya.


Mobil Bima kini sudah sampai di depan rumah Rena, ia mengetuk pintu tapi tidak ada balasan. Terlihat mobil Rena masih terparkir, itu tandanya dia ada di rumah.


Bima pun kemudian menggunakan kunci cadangan untuk membuka rumah Rena,


"Ren, Rena!" panggilnya beberapa kali tapi tetap tidak mendapatkan balasan.


Hingga akhirnya ia sampai juga di kamar Rena.


"Rena!"


Ia mendapati Rena yang tengah tidur di balik selimut,


"Kamu kenapa?"


"Bima!" ucap Rena dengan suara lemahnya.


"Kamu kenapa?"


"Aku sakit Bim!"


"Kamu sudah makan?"


Rena menggelengkan kepalanya,


"Baiklah, aku akan buatkan bubur untuk kamu, setelah itu minum obat!"


Bima pun segera beranjak, menuju ke dapur. Melihat resep di internet untuk membuat bubur.


Akhirnya setelah perjuangan panjang bubur pun jadi, Bima segera membawanya kembali ke kamar Rena.


"Bangunlah!" Bima membantu Rena untuk bangun dan menyuapkan bubur itu dengan telaten, beberapa kali terlihat Bima meniup bubur yang masih panas itu.


"Sudah, aku kenyang!"


"Sekarang minum obat ya!"


"Hmmm!"


Bima mengambilkan obat demam dan meminumkannya pada Rena.


"Bagaimana sekarang?"


"Temani aku bentar ya!?"


Aku harus bagaimana, tiga jam lagi acaranya di mulai ....


Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Rena sendiri dalam keadaan seperti ini.


Ting tong ting tong

__ADS_1


"Ada tamu, kamu janji ketemu orang hari ini?"


"Tidak, itu sepertinya pengantar paket. Tadi pagi aku pesen gaun soalnya, aku kira hari ini bisa menemin kamu ke acara nanti!"


"Tapi kan kamu sakit!"


"Ya mau gimana, gaunnya udah terlanjur kebeli!"


"Ya udah, biar aku ambil dulu ya paketnya. Kamu di sini saja!"


Bima pun segera beranjak, ia cukup bersyukur setidaknya hari ini Rena sakit jadi ia bisa tetap pergi dengan Indah tanpa banyak drama.


Ia hampir lupa jika Rena pasti sudah tahu semua acara yang akan ia hadiri dan ia belum menemukan rencana cadangan.


Saat ini saja, seharusnya ia bisa berkata jujur pada Rena mengenai perasaannya jadi gagal karena Rena sakit.


Bima segera membuka pintu, dan benar saja terlihat pengirim paket tengah berdiri memunggungi dirinya.


"Paket ya?"


Mendengar pertanyaan Bima, pengantar paket itu segera membalik badannya, walaupun dalam balutan baju pengantar paket, Bima langsung bisa mengenali siapa pria yang berdiri di depannya itu.


"Kamu?"


Mereka hanya saling diam dan sepertinya sama-sama terkejut. Pria pengantar paket itu adalah Dava, dia memang putra pengusaha sukses tapi ia kerap melakukan hal-hal tidak masuk akal seperti saat ini.


Hari ini ia menggantikan temannya yang seorang pengantar paket karena sakit dan harus mengantarkan paket ke sebuah alamat. Tapi hal itu malah membuatnya sampai ke tempat yang tidak di duga itu.


"Beneran paket kan sayang?" Rena yang hanya mengenakan pakaian tidur berjalan menghampiri Bima, tampak penampilannya masih berantakan.


Bima tidak bisa menjawab, ia hanya terus menatap Dava.


"Iya!" Rena pun kemudian menoleh pada Bima, "Sayang aku tidak bisa buka segel obatnya, tolong bukakan ya!"


Bima tidak mengatakan apapun, ia langsun masuk kembali meninggalkan mereka berdua.


"Saya kurir dari Hanna boutique, mau ngantar gaun!"


"Oh iya, terimakasih ya mas!"


"Bentar ya nona, minta tanda tangannya dulu di sini!" Dava menunjuk sebuah titik pada buku kecil yang ada di tangannya.


"Iya, baik!" Rena pun segera mengambilnya, saat Rena sibuk membubuhkan tanda tangan, Dava pun memanfaatkan moment itu untuk bertanya.


"Oh iya nona, kalau boleh tahu pria tadi_?"


"Dia suami saya, sudah!" Rena mengembalikan buku kecil beserta polpennya ke pengantar paket. Rena tidak mengenali pria yang tengah berdiri di depannya itu.


"Saya permisi!"


Rena pun kembali menutup pintu dan membawa paperbag itu ke dalam, terlihat Bima tengah duduk termenung di ruang keluarga.


"Bim, kamu kenapa?"


"Tidak pa pa, istirahat lah lagi, aku akan pergi!"


"Kamu bakalan tetep pergi ke pesta itu tanpa aku?"


"Maaf, aku sudah sangat terlambat! Segeralah minum obat dan istirahat!"


Bima kali ini benar-benar pergi, ia segara menghubungi Dio agar menjemput Indah lebih dulu dan mereka akan bertemu di tempat pesta.

__ADS_1


...***...


Indah sudah terlihat cantik dengan gaunnya, ia siap untuk berangkat sekarang tinggal menunggu Bima pulang dan menjemputnya.


Indah mondar mandir di depan pintu berharap suaminya segera datang.


Tapi ternyata yang datang adalah Dio,


"Mas Bima kemana?"


"Tuan muda ada urusan sebentar, nona!"


"Bagaimana nanti jika aku sampai di sana lebih dulu, aku harus apa?"


"Saya akan menemani nona sampai tuan muda datang!"


Indah hanya bisa pasrah setelahnya, akhirnya mobil mereka sampai juga di depan sebuah gedung yang menjadi lokasi di adakannya pesta.


"Silahkan nona!"


Seperti biasa Dio membukakan pintu untuk Indah.


"Terimakasih!"


Baru saja akan melangkah masuk, Bima berjalan cepat menghampirinya,


"Maaf ya, aku terlambat!"


"Nggak pa pa mas, yang penting mas Bima datang!"


Bima segera melingkarkan lengannya di pinggang ramping Indah melewati red karpet itu. Untuk pertama kalinya Bima mengenalkan Indah sebagai pasangannya di depan umum.


Semua mata tertuju pada mereka, bahkan kamera Sudja bersiap untuk mengabadikan moment itu.


Beberapa wartawan sudah siap menenyai tentang hubungan mereka.


Hal itu turut menarik perhatian seorang pemuda yang tengah duduk sendiri di sisi ruangan, dia adalah Dava.


Orang tua Dava adalah salah satu pengusaha yang patut di perhitungkan di dunia bisnis, Dava selalu di paksa untuk menghadiri setiap moment seperti ini, itulah kenapa Bima sudah sangat kenal dengan Dava walaupun usia mereka terpaut jauh.


Dava sampai berdiri melihat siapa yang datang dengan Bima, bukan wanita yang tadi sore ia temui tapi Indah.


Dengan cepat Dava menghampiri mereka dan melayangkan tinjuan ke wajah Bima.


Bukkkkk


Hal itu membuat tubuh Bima terhuyung dan jatuh ke lantai, tidak hanya sekali bahkan Dava memukuli Bima hingga berkali-kali, walaupun tubuh Bima jauh lebih kekar tapi ia sedang dalam keadaan yang tidak siap.


Indah yang menyaksikan itu hanya bisa teriak histeris.


Semua orang berkerumun di sana, Bima yang sudah bisa menguasai diri segera bangkit dan membalas pukulan Dava.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2