Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Renata (1)


__ADS_3

Tubuh Renata semakin terlihat kurus dengan mata uang mulai cekung ke dalam, rupanya rasa sakit yang telah ia tahan selama dua tahun ini membuat tubuhnya merespon dengan cepat.


Awalnya ia dapat dengan mudah menggaet laki-laki kaya seperti Pramu, suaminya sekarang. Tapi rupanya perjalanan pernikahan mereka tidak berjalan lancar seperti yang ia inginkan. Ia tahu meskipun Pramu pria yang penyayang dan Dangan perhatian di rumah, tapi pria itu pemain wanita yang handal.


Hampir setiap Minggu ia masih mencari kesenangan di luar meskipun di rumah Renata sudah melayaninya dengan baik, apa lagi beberapa bulan terakhir Renata semakin menunjukkan jika tubuhnya tengah sakit-sakitan, membuat keinginan Pramu untuk menjamah tubuh Renata juga berkurang.


Di tambah lagi, ibunya Pramu mulai mempermasalahkan tentang keturunan. Sedangkan Pramu sejak awal sudah setuju untuk tidak membahas soal anak, hal itu membuat Renata merasa aman.


Tapi rasa aman itu, lambat laut semakin terkikis karena semakin gencarnya ibu mertua mempengaruhi suaminya untuk segera memiliki momongan.


Awalnya Renata tidak mempermasalahkan jika Pramu mencari kebahagiaan lain di luar sana asal semua kebutuhannya tetap terpenuhi karena itu tujuannya ia menikah lagi dan memilih pergi dari Bima dan anaknya.


Tapi kini ia mulai terusik, Pramu pun juga demikian. Karena permintaan sang mama, Pramu mendesak Renata untuk melakukan tes kesuburan ke dokter.


Karena tes itu, akhirnya kini Renata tahu apa yang menyebabkan perutnya begitu sakit saat tiba datang bulan. Awalnya ia pikir itu nyeri datang bulan biasa, sepertinya ia telah melupakan instruksi dokter saat melahirkan Yusuf, putranya bersama Bima.


Kerusakan rahim yang di deritanya semakin parah, jika tidak segera dilakukan penanganan maka akan merusak organ dalam lainnya.


Renata segera bangkit dari tempat tidur meskipun kini tubuh ringkihnya terasa berat, bahkan untuk mengangkat kakinya ia butuh tenaga yang banyak. Ia seperti tidak pernah makan hingga berbulan-bulan.


Keinginannya untuk bangun terpicu karena ia mendengarkan suara mobil mama mertuanya yang datang, ia tidak mau sampai terlihat lemah di depan wanita itu.


Segera ia membersihkan wajahnya, mengganti bajunya dengan baju yang lebih pantas, memoles wajah pucatnya dengan beberapa make up agar terlihat lebih segar.


Langkahnya terlihat pasti saat menuruni tangga walaupun sesekali terlihat ia menggigit bibir bawahnya saat rasa sakit itu tiba-tiba muncul.


Ia segera menarik kedua sudut bibirnya begitu melihat sosok yang tengah ia cari,


"Ma, ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah ke sini?"


Bukannya menjawab pertanyaan Renata, wanita itu lebih tertarik untuk mengamati wajah Renata dan tubuh Renata,

__ADS_1


"Kamu semakin kurus saja, apa jangan-jangan kamu penyakitan ya makanya tidak segera punya anak?"


Perkataan menyakitkan itu selama ini tidak pernah berpengaruh pada wanita seperti Renata, tapi entah kenapa akhir-akhir ini bahkan ucapan yang sensitif sedikit membuat hatinya begitu sakit,


"Enggak ma, Renata sengaja olah raga ekstra biar bobotnya sedikit turun."


"Kalau saya perkirakan itu tidak sedikit, bahkan separoh dari bobotmu sudah hilang!" ucapnya lagi dengan tatapan sinis menatap ke arah Renata, "Ahhh sudahlah, lagi pula aku ke sini tidak ada urusannya sama kamu, di mana Pramu?"


Seingatnya semenjak semalam bahkan ia tidak melihat suaminya memasuki kamar, pria itu sudah hafal dengan jadwal datang bulan Renata. Mungkin setelah mencari kebahagiaan di luar, pria itu langsung masuk ke ruang kerjanya.


"Di ruang kerja kayaknya ma!?"


"Kayaknya?" wanita itu mengerutkan keningnya, "Bisa nggak yakin gitu sama suaminya!?"


Wanita itu tidak melanjutkan kata-kata pedasnya, ia memilih segera menghampiri putranya.


Hehhhhh ...


Tenggorokannya terasa panas, ia memilih melanjutkan langkahnya ke dapur, mengambil air dingin untuk mendinginkan tenggorokannya, hanya beberapa teguk tapi rasa mual segera datang. Ia kembali memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel dapur. Kini tenggorokannya semakin terasa pahit saja.


Awalnya ia mengira gejala ini adalah gejala hamil karena perutnya benar-benar tidak bisa di isi apapun di pagi hari, tapi nyatanya tidak. Ini adalah salah satu efek kerusakan rahimnya hingga membuat lambungnya yang memang juga sudah bermasalah semakin terkena imbasnya.


Renata segara mengusap bibirnya, mengambil tisu yang ada di atas meja. Rasa sakit itu kembali datang hingga ia harus meremas perutnya,


"Mau sampai kapan begini!?" gumamnya pelan dengan tangan kiri yang meremas tisu sedangkan tangan kanannya meremas perutnya.


Hingga ia teringat dengan perkataan dokter tempo hari, bukan hanya tempo hari tapi setiap kali ia datang ke dokter. Meskipun tetap di paksakan untuk punya rahim, ia tetap tidak akan punya anak lagi.


"Ini semua gara-gara Bima dan anak sialan itu!?" gumamnya lagi dengan penuh kemarahan, ia tidak pernah instrospeksi diri, ia memilih fokus pada kesalahan orang lain bukan dirinya.


Hingga ia akhirnya begitu penasaran dengan hal apa yang akan di bicarakan oleh mama mertuanya pada sang suami. Ia melempar tisu bekasnnya ke keranjang sampah dan berjalan dengan tertatih menuju ke ruang kerja suaminya. Bukan untuk masuk ke dalam ruangan itu, beruntung pintu itu tidak tertutup sempurna, di ruangan itu juga tidak di pasang peredam suara hingga ia bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Mama serius dengan ini?"


"Iya, itu foto gadis-gadis kampung yang sudah mama pastikan mereka masih perawan."


"Masak Pramu harus menikahi gadis kampung sih ma?"


"Jangan khawatir, meskipun dari kampung, mereka nggak bakalan malu-maluin kamu. Bagaimana?"


"Trus Renata gimana ma?"


"Jangan pikirkan wanita penyakitan itu, sejak awal mama nggak suka sama dia. Lagi pula kamu tidak perlu menikahi gadis yang mama sodorkan sama kamu sampai dia benar-benar hamil."


"Tidak ada ruginya sih buat Pramu, ma!?"


"Bagus, berarti mama anggap kamu setuju."


Renata menyandarkan tubuhnya di dinding, ia sudah benar-benar kalah kali ini.


"Tapi aku tetap nyonya di rumah ini, siapapun dia tidak akan pernah bisa menggeser posisiku di sini." gumam Renata.


Renata berjalan kembali meninggalkan tempat itu, apapun yang tengah ia pertahankan saat ini tidak akan mempengaruhi apa ia akan punya anak atau tidak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membuat janji dengan dokternya agar segera melakukan operasi pengangkatan rahim.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2