
"Mas aku merindukanmu, sulit buatku jauh dari kamu ....!" Indah terus menggelayut manja pada Bima
Nggak, kamu nggak boleh jatuh cinta sama aku, Indah....
"Indah kamu mabuk!"
Indah langsung melepaskan tangannya dari Bima, ia menunjuk dada Bima.
"Enggak mas, Indah sama sekali enggak mabuk ...., mas Bima yang salah!" jari telunjuknya terus saja mengetuk-ngetuk dada Bima.
"Mas Bima, Indah istri mas Bima, mas Bima tahu itu kan!"
"Iya!"
Indah kembali memeluk tubuh Bima,
"Indah merindukan aroma tubuh ini, sungguh!" Indah mencium cekuk leher Bima.
"Indah hentikan, ayo kita ke kamar!"
Indah tersenyum dan tiba-tiba ambruk beruntung Bima dengan sigap menangkap tubuhnya.
Bima kembali membopong tubuh Indah dan menurunkannya di atas tempat tidur, tapi saat Bima hendak pergi, tangan Indah kembali menarik tangannya.
"Jangan pergi mas, jangan tinggalin Indah! Indah nggak bisa hidup tanpa mas Bima!"
"Aku di sini!"
"Peluk aku mas, peluk aku!"
Bima pun terpaksa memeluk Indah, ia merebahkan tubuhnya di samping Indah. Bahkan Indah tidak melepas sepatu hak tingginya.
Indah mendongakkan kepalanya dan tiba-tiba bibirnya menempel pada bibir Bima. Bima yang hendak menghindar tiba-tiba terkejut saat Indah malah memperdalam ciumannya.
Bima hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Indah hingga cukup lama ciuman itu terjadi, Indah perlahan melepaskan bibirnya dan tertidur.
Bima menatap wajah Indah, ia sebelumnya tidak pernah memperhatikan betapa polosnya gadis yang sudah ia jadikan permainan itu.
Maafkan aku ....
Bima kembali bangun dan melepas sepatu Indah. Ia tidak bisa tidur memikirkan Indah, bayangan Indah bergelayut pada pria asing itu membuatnya kesal.
Walaupun ia mencintai Rena tapi ia juga tidak mungkin melepaskan Indah karena status mereka saat ini.
...***...
"Aduuhhhh kepalaku, kenapa pusing sekali!?"
Indah mulai menggeliatkan tubuhnya, rasanya seluruh tubuhnya terasa remuk.
"Mas Bima!" samar-samar ia melihat suaminya itu tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sudah bangun!?"
Indah mengucek matanya agar penglihatannya semakin jelas. Indah dengan cepat menarik tubuhnya agar terduduk.
"Mas Bima!?"
"Bagaimana? Enak pulang-pulang mabuk?"
"Mabuk!?"
Jadi benar semalam aku mabuk? Aku minum apa?
"Maaf, sungguh Indah nggak sengaja mas semalam. Indah ambil minuman, Indah kira itu minuman rasa strawberry, memang agak gelap dan rasanya juga aneh!"
"Lain kali jangan sembarang pergi! Kalau tidak tahu ke mana perginya!"
"Aku tahu, Aya ngajak aku reoni!"
"Tanpa pamit!"
"Sebenarnya kemarin aku pengen hubungin mas Bima tapi ternyata_!"
"Ternyata apa?"
"Aku lupa!"
Bima meninggalkan Indah begitu saja,
Mas Bima marah ya? Pantas sih kalau marah ....
Indah segera bangun dengan sisa kekuatannya. Beruntung hari ini ia libur jadi tidak masalah tidak pergi ke kampus.
Indah segara membersihkan diri dan menganti bajunya dengan baju rumahan.
__ADS_1
Bima sudah duduk di sofa ruang keluarga. Indah segera menyusul ke sana, Indah hanya bisa menundukkan kepalanya saat Bima menatapnya tajam.
"Maaf ya mas, Indah janji nggak akan ulangi lagi. Janji!" Indah mengacungkan kedua tangannya.
Hehhhh .....
Hanya helaan nafas yang bisa indah dengar.
"Mas Bima nggak kerja?" Indah sampai bingung harus bicara apa sekarang. Ia benar-benar merasa bersalah. Kalau tidak salah selama ini bahkan di hari libur Bima tetap pergi ke kantor, setau Indah.
"Enggak!"
Indah segera duduk di samping Bima dan memeluknya dari samping,
"Maafin Indah ya, janji nggak akan ulangi! Jangan diamin Indah dong mas, aku mohon ...!?"
"Baiklah, lain kali aku nggak mau ada acara pulang mabuk lagi!"
"Siap!"
Indah begitu senang dan mendaratkan ciuman di pipi Bima, hal spontan itu kembali mengingatkannya pada ciuman mereka tadi malam.
"Mas Bima sudah makan?"
Pertanyaan Indah seketika menyadarkan Bima,
"Belum!"
"Baiklah Mas, sebagai cara Indah menebus kesalah Indah, Indah akan masak makanan spesial buat mas Bima!"
Indah pun segera ke dapur untuk membuatkan makanan, perutnya saat ini juga sangat lapar. Ia melihat isi lemari pendingin, banyak sekali bahan makanan.
"Masak apa ya!?"
Indah akhirnya mempraktekan apa yang ia dapat dari kursus memasaknya.
Bima ternyata mengikuti Indah, ia duduk di meja dapur sambil melipat kedua tangannya.
"Mas, kenapa lihatin Indah kayak gitu?"
"Lain kali seharusnya kamu bisa bisnis memasak!"
Indah tersenyum, ia mulai mencicipi masakannya,
"Memang bisa!"
"Siap, pasti aku bakal tekun dan bisa buat mas Bima bangga!" Indah mengacungkan spatulanya.
Bima tiba-tiba menarik tubuh Indah ke dalam pelukannya,
Mas Bima meluk aku!?
Indah sampai di buat terpaku, untuk ke sekian kalinya Indah merasakan getaran yang sama hingga ingatannya kembali pada tadi malam,
"Mas!?"
"Hemmm?"
"Apa semalam aku menciummu?"
Bima segera melepaskan pelukannya dan beralih duduk,
"E_enggak!?"
"Serius? Apa aku cuma mimpi ya!?"
"Masakan!?"
Indah dengan cepat mematikan kompor agar masakannya tidak gosong.
"Lain kali kalau masak fokus. Memang guru privat kamu nggak ngajari?"
"Tapi tadi yang meluk kan mas Bima duluan!?" Indah mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi setiap kali melihat bibir Indah Bima teringat pada kejadian tadi malam.
"Sudah cepetan, aku lapar!"
Bima pun segera berpindah duduk di kursi makan.
Ia mengamati bagaimana indah dengan cekatan memindahkan makanan-makanan itu ke dalam piring saji dan mangkok.
Ting tong ting tong
Suara bel berbunyi, Indah hampir melepas apronnya tapi Bima lebih dulu berdiri.
"Biar aku aja, kamu lanjutkan pekerjaanmu!"
__ADS_1
"Baiklah!"
Bima pun segera berdiri dan menuju ke pintu utama.
"Rena?! Kenapa kamu ke sini?"
"Sayang, aku ke sini karena kamu nggak ke kantor hari ini, kamu juga nggak ngabari aku. Aku cemas!" Rena memeluk Bima begitu erat tapi Bima berusaha keras untuk melepaskannya.
"Ren, jangan seperti ini. Ada indah di dalam!"
"Mas Bima, siap tamunya?"
Pertanyaan Indah berhasil membuat Bima berbalik, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipis. Rena yang berdiri di belakang Bima segera maju dan menghampiri Indah.
"Hai Indah, Bima sering cerita soal kamu loh. Kenalkan aku Rena, sekretaris sekaligus_!"
Indah menyambut tangan Rena tapi Bima segera memotong ucapan Rena,
"Sekaligus teman satu satu SMA dulu sama Bram juga!"
Indah tersenyum, akhirnya ia menemukan teman perempuan. Pikirnya.
"Salam kenal mbak Rena!"
"Panggil Rena aja nggak pa pa!"
"Nggak enak kalau langsung panggil nama!"
"Nggak pa pa!"
"Baiklah, Rena! Oh iya kebetulan sekali aku baru selesai masak, kita sarapan bareng aja, iya kan mas?!"
"Iya!"
Indah mengajak Rena ke ruang makan dan mengambilkan satu piring lagi untuk tamunya.
Tapi sepanjang makan Bima hanya diam, hanya suara Indah dan Rena yang mengisi pembicaraan mereka. Tapi tatapan Rena selalu saja.tertuju pada Bima membuat Bima salah tingkah.
"Terimakasih ya sarapannya, benar-benar enak. Pantas Bima betah di rumah!"
"Kamu terlalu muji, Rena!"
"Serius! Ya udah aku pamit ya!"
"Iya, sampai jumpa lagi!"
"Aku antar Rena sampai ke bawah dulu ya!"
"Iya mas!"
Setelah Rena dan Bima pergi, Indah tanpa curiga menutup kembali pintunya.
Bima segera menarik tangan Rena membawanya ke tangga darurat.
"Rena, lain kali nggak usah datang ke sini, kalau ingin bicara kamu bisa kan minta aku datang!"
"Kamu sadar nggak Bim, sudah berapa kali aku melakukan panggilan dan kamu nggak angkat telpon aku, ada apa? Atau sekarang kamu sudah mulai punya perasaan sama dia?"
"Kamu jangan mikir macam-macam, semua itu nggak bener! okey, semalam Indah pulang dalam keadaan mabuk, jadi aku hanya mengkhawatirkannya saja, nggak lebih!"
Rena segara memeluk Bima terdengar isakan tangis di sana,
"Bima aku takut, aku takut kamu bakal ninggalin aku. Indah lebih cantik, lebih muda dari aku dan orang tua kamu lebih milih dia dari pada aku ...!"
"Ayolah Rena, kamu jangan terbawa perasaan. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama Indah, hanya kamu yang ada di hati aku. Percayalah!"
"Sungguh!?"
"Iya, sekarang pulanglah nanti aku akan ke rumah kamu!"
"Janji?" Rena melepas pelukan Bima. Semejak Bima kembali dari kampung, waktu mereka menjadi sangat berkurang.
"Iya, jangan sedih ya!" Bima mengusap air mata Rena yang berada di pipinya dan mengecup bibirnya memberi lumayan kecil.
"Aku mencintaimu!" ucapnya setelah menjauhkan bibirnya, "Aku antar sampai ke bawah ya!"
Rena mengangukkan kepalanya dan mereka pun keluar dari tangga darurat menuju ke pintu lift.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...