Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Harus move on


__ADS_3

"Ayah, kenapa buru-buru pergi sih? Kan ada Kaka bidadari?" Yusuf terus saja protes pada ayahnya, ia benar-benar tidak terima di ajak pergi oleh sang ayah.


"Ayah ada urusan!?" jawab Bima tanpa menatap pada putranya, ia lebih memilih fokus pada jalanan.


"Kan sudah selesai semua, kata ayah tadi setelah mengambil uang semua pekerjaan sudah selesai!"


"Ternyata ayah lupa, masih ada pekerjaan di rumah, lain kali kita jalan-jalannya!"


"Bukan karena om yang sama Kaka bidadari kan?"


Kali ini Bima beralih menatap putranya, Yusuf yang mendapat tatapan itu segera menggelengkan kepalanya.


"Hehhh, sudah Yusuf duga. Ayah bahkan takut sebelum perang!? Omnya memang ganteng, tapi ayah punya Yusuf."


"Yusuf, lama-lama bicaramu tidak sesuai dengan umurmu, lebih baik setalah ini jangan banyak bergaul dengan Fais atau Ridwan, bermain dengan teman sebayamu. Main layangan atau bola."


"Ihhh, ayah nggak asik!?" Yusuf melipat kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang sering bersikap jauh di atas usianya.


Di tempat lain, Indah dan Dava tengah duduk di dalam mobil yang sama. Tapi setelah pertemuannya dengan Bima, Indah terlihat lebih pendiam,


"Ndah, kamu tidak pa pa kan?" pertanyaan dari Dava berhasil membuyarkan lamunan Indah.


"Nggak pa pa, Dav!"


"Putra Bima, tampan ya?"


"Hehhh? I_iya!?"


"Kamu masih memiliki perasaan ya sama Bima?"


Kali ini pertanyaan Dava benar-benar berhasil membuat Indah tercengang, "Hahhh?"


"Ya siapa tahu kamu masih memiliki perasaan pada Bima, jika iya aku tidak masalah. Mungkin benar kata anak itu, ayahnya pria yang luar biasa!"


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di depan rumah Indah,


"Aku turun dulu ya, terimakasih untuk hari ini!"


"Sama-sama!"


Indah sudah hampir turun tapi segera tangan Indah di tahan oleh Dava,


"Tunggu!?"

__ADS_1


"Iya?"


"Jika menurutmu Bima yang terbaik, akan lebih baik sekarang saatnya kamu mengejar cintamu, jangan lagi menyerah dengan keadaan!"


Indah menatap Dava tidak percaya, ia benar-benar tidak percaya Dava akan sedewasa itu sekarang.


"Dav!?"


"Aku rela asal kamu bahagia. Bukankah mencintai tidak harus memiliki? Biarkan aku dengan kisahku sendiri, aku yakin Tuhan tidak akan begitu kejam padaku, Dia pasti sudah menyediakan jodoh terbaik untukku, jika itu bukan kamu!?"


Indah tersenyum, "Kamu memang yang terbaik."


"Kamu juga!?"


Akhirnya Indah pun turun, ia melambaikan tangannya saat mobil Dava mulai berlaku meninggalkan rumahnya.


Dava memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak ingin segera pulang. Walaupun ia ingin iklas tapi tetap saja rasanya berat, merelakan lebih sulit dari pada memperjuangkan.


Hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya di sebuah danau, ia sengaja memilih danau untuk meluapkan segala kesedihannya hari ini, dengan begitu ia berharap semuanya akan segera lenyap.


Setelah memastikan tidak ada orang lain di sana, Dava pun segera menghadap danau dan berteriak.


"Aaaaaaa!?"


"Aaaaaaa!?"


Tukkkkk


"Aughhhh!?" keluh Dava saat tiba-tiba sebuah kaleng minuman melayang di kepalanya, sambil mengusap kepalanya yang sakit, segera mencari sumber kaleng itu melayang.


"Kenapa? Nyari gue?" seorang gadis tengah menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya di pohon.


"Ini punya kamu?" tanya Dava sambil mengacungkan kaleng yang ada di tangannya.


"Iya!"


"Apa masalah kamu sama saya?"


"Masalahnya, ini danau bukan milik kakek Lo, jadi hargai orang lain di sini, enak aja main teriak-teriak! Emang cuma Lo yang punya masalah, gue juga punya tapi nggak Sampek teriak-teriak kayak Lo, dasar cengeng Lo jadi cowok, pasti cuma gara-gara di putusin cewek. Lembek banget jadi cowok, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit nangis, harusnya cowok yang jadi tumpuan cewek bukan cewek yang harus ngalah terus. Cowok nggak berguna! Cowok nggak punya pendirian!?"


Kenapa jadi dia yang lebih galak? Dava malah jadi bingung karena di omeli oleh cewek yang baru saja ia temui itu.


"Kamu gila ya?" tanya Dava.

__ADS_1


"Kamu yang gila, semua cowok memang nggak ada yang waras!?"


Dava benar-benar semakin kesal dengan anak itu, ia pun berjalan menghampiri gadis itu dengan kesal ,


"Hehhh kamu, jangan kurang ajar ya. Kamu nggak tahu siapa saya?"


"PECUNDANG!?" ucap gadis itu dengan penuh penekanan.


Srekkkk


Dava begitu kesal dan menarik tangan gadis itu, mencengkeramnya,


"Jangan macam-macam ya, kamu tidak tahu siapa saya, saya bisa berbuat apa saja untuk semua penghinaan ini, mengerti!?"


Ternyata gadis itu benar-benar tidak takut, ia tidak kalah menatap tajam pada Dava, "Siapa takut, memang kamu anak presiden, anak bos? Dasar pecundang!?"


Srekkk


Lagi-lagi Dava mencengkeram tangan gadis itu hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lepasin, sakit tahu!?"


Bukannya melepaskan tangannya, tapi tatapan Dava tertarik pada tanda pengenal yang menggantung di leher gadis itu,


Syifa ....


"Jadi kamu anak magang di group E?" tanya Dava lagi saat begitu familiar dengan tanda pengenal itu.


"Bukan urusanmu, lepasin gue!?"


Akhirnya Dava pun melepaskan tangan gadis itu,


Gadis itu tampak memengangi pergelangan tangannya yang memerah karena ulah Dava, tapi sepertinya Dava tidak peduli ia memilih untuk pergi karena rencana untuk melepaskan semua keluh kesalnya malah semakin membuatnya kesal karena gadis itu.


"Dasar gadis gila!?" gumamnya sambil masuk kembali ke dalam mobilnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2