Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Milikmu semua


__ADS_3

Akhirnya sidang terakhir perceraian mereka digelar. Indah keluar dari ruang sidang dengan membawa sebuah map yang berisi akta cerai.


Kali ini Aya ikut, dia langsung memeluk Indah seraya mengucapkan selamat,


"Selamat ya Indah. Mulai hari ini kamu akan menjadi dirimu sendiri, terserah kamu jadi orang kaya atau buka yang pasti kamu tetap menjadi Indah sahabatku!"


Ha ha ha ....


Indah malah tertawa mendengar ucapan Aya,


"Memang aku seserakah itu!?"


"Aku lebih suka kamu sedikit serakah!" ucap Aya asal. Ia hanya tidak ingin melihat sahabatnya ditindas lagi.


Beberapa langkah di belakang mereka ada Bima yang tengah berjalan sendirian.


Indah melihatnya, tapi ia tidak ingin berhenti hanya untuk menunggu yang di belakang. Ia berharap mulai hari ini, ia bisa menatap masa depan tanpa berbalik kebelakang lagi.


"Ayoo!" ajak Indah, mereka sudah memesan sebuah taksi.


"Sepertinya moment ini harus segera di rayakan, bukan!" ucap Indah lagi saat berada di dalam sebuah taksi, tangannya tengah menscroll layar ponselnya. Mencari-cari tempat yang cocok untuk merayakan status barunya.


Tapi belum mendapatkan apa yang ia cari, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Aya menoleh padanya,


"Siapa?"


"Pak Hadi!" Indah menunjukan layar ponselnya pada Aya.


"Pengacara itu?" beberapa kali Indah sudah menceritakan tentang pak Hadi pada Aya.


"Hmm!?" ucap Indah sambil menganggukkan kepalanya.


"Cepetan angkat, siapa tahu penting!"


"Gitu ya?"


"Hmmm!"


Indah pun segara menekan tombol terima dan menlound speaker ponselnya agar Aya juga bisa mendengarkan apa yang di katakan oleh pak Hadi.


"Hallo!"


"Dengan nona Indah kan?"


"Iya pak, ada apa?"


"Bisa datang ke rumah besar!"


"Rumah besar yang mana ya pak?"


"Rumah yang selama ini ditinggali oleh nyonya Rose!" ucap pak Hadi membuat Indah menoleh pada Aya lagi, ia sedang tidak ingin berurusan dengan wanita itu untuk saat ini.


"Ada apa ya pak?" tanya Indah kemudian.


"Untuk lebih detailnya, kita bicarakan kalau nona Indah sudah datang!"


"Baik pak, saya akan ke sana!"


Akhirnya sambungan telpon pun terputus, Indah kembali melihat ke arah Aya.


"Ada apa ya kira-kira?" tanya Indah pada Aya, berharap Aya bisa memberi sedikit gambaran.

__ADS_1


"Agar lebih pastinya kamu harus ke sana." Aya pun tidak punya gambaran apapun.


"Tapi temani ya!?" ucap Indah dengan dibuat manja sambil menggenggam lengan Aya.


"Apa sih yang enggak buat kamu!"


"Baik deh, Aya!" peluk Indah pada Aya. Ia bersyukur di saat seperti ini ada Aya yang selalu menemaninya.


Akhirnya ia meminta sopir taksi untuk putar balik karena arahnya berlawanan dengan arahnya saat ini.


Hanya dalam hitungan menit akhirnya taksi berhenti di depan rumah besar itu,


"Terimakasih ya pak!" ucap Indah sambil menyerahkan sejumlah uang pada sopir taksi dan mereka pun keluar.


Mereka sengaja turun di depan pintu gerbang, tampak gerbang itu masih tertutup rapat.


"Ini beneran rumahnya?" tanya Aya, ia bahkan tidak bisa melihat sebesar apa rumah yang ada di dalam karena gerbangnya yang terlalu tinggi.


"Iya, ayo masuk!"


Indah dan Aya pun segera melangkah masuk saat taksi sudah meninggalkan mereka.


Penjaga memberi hormat pada mereka karena siapapun di sana sudah cukup kenal dengan Indah.


"Terimakasih pak!" ucap Indah saat penjaga membukakan gerbang.


"Sama-sama nona, silahkan masuk!"


Aya benar-benar terpukau dengan rumah yang begitu besar itu saat gerbang di buka, rumah berlantai tiga dengan arsitektur Eropa yang di dominasi dengan warna putih dan yang membuat paling istimewa, halamannya yang luas. Rasanya bohong jika di masa orang tua Indah, perusahaan belum sebesar itu. Buktinya rumah yang di bangun di atas tanah seluar seratus meter persegi ini sudah ada sejak orang tua Indah.


"Ini rumah mertua kamu Ndah?" tanya Aya lagi, ia bahkan tidak tahu jika rumah ini merupakan milik sahabatnya sendiri.


"Sudah bukan, kan sudah cerai!" ucap Indah sambil tersenyum.


"Selamat datang nona Indah!" sambut pak Hadi, ia sudah berdiri dari duduknya.


"Terimakasih pak." Indah mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang selama ini selalu menyambutnya setiap kali datang di rumah itu. "Silahkan duduk kembali."


Akhirnya pak Hadi dan dua orang di sampingnya ikut duduk begitu juga dengan Indah dan Aya. Aya sama sekali tidak mau melepaskan lengan Indah.


"Apa nyonya Rose tidak ada?" tanyanya kemudian saat benar-benar tidak menemukan orang itu.


Pak Hadi pun tersenyum tipis, "Maaf jika saya belum sempat memberitahu nona. Mulai hari ini, rumah ini sudah menjadi milik nona sepenuhnya karena status anda dan tuan Bima sudah berakhir. Berdasarkan surat wasiat ini, rumah dan beberapa aset yang lain beralih pada anda."


Kali ini bukan hanya Aya yang terkejut, Indah pun demikian. Walaupun ia tahu jika rumah ini rumah orang tuanya, tapi ia tidak berharap banyak jika rumah itu akan kembali ke tangannya.


"Jadi maksudnya_?"


"Iya nona, nyonya Rose sudah resmi keluar dari rumah ini sejak dua hari yang lalu. Jadi segera persiapkan kepindahan nona ke sini."


"Benarkah ini pak?"


"Iya nona, bahkan bukan hanya rumah ini. Ternyata butik yang selama ini di pegang oleh nyonya Rose masih atas nama ibunya nona Indah. Jadi dengan kekuatan hukum yang kuat, kami sudah melakukan penyegelan atas butik itu."


"Di segel?"


"Iya!"


"Lalu bagaimana dengan karyawannya?"


"Kalau itu jangan khawatir, kami sudah memberikan kompensasi uang yang pantas sampai nona Indah siap untuk membukanya lagi."

__ADS_1


"Baiklah, saya mengerti!"


...***...


Sedangkan di tempat lain, nyonya rose tengah berada di depan butik yang selama ini menjadikan dirinya berkelas dengan butik ternamanya.


Tapi kali ini ia benar-benar merasa tercampakkan, karena nyatanya butik itu juga atas nama ibunya Indah yang sengaja di rubah tanpa sepengetahuan pengacara Hadi. Beruntung beberapa surat asli masih di pegang oleh pak Hadi.


Butik itu di tutup sementara, dan ia tidak bisa masuk lagi. Beberapa barangnya sudah di keluarkan dari sana dan seperti yang di katakan pak Hadi, mereka tengah memproses ganti rugi atas semuanya.


"Aku harus kemana sekarang?" Nyonya Rose tengah duduk di depan butik yang tutup itu dengan begitu menyedihkan.


Casandra yang ia kira bisa membantunya saat susah seperti ini, ia beralasan tidak bisa pulang ke Indonesia karena urusan kampusnya yang tidak bisa di tinggal.


Sedangkan suaminya, ia bahkan dengan begitu tega menggadaikan suaminya. Kepulangan sang suami ke Indonesia hanya untuk acara pernikahan Bima waktu itu, itupun karena bujukan nyonya Rose yang mengatakan jika memang Bima dan Indah menikah karena cinta, bukan karena rencana yang besar di balik pernikahan itu.


Tapi nyatanya, sekarang senjata makan tuan. Semua yang telah ia rencanakan untuk menghancurkan orang lain, kini menimpa dirinya.


"Bima!?" gumamnya.


Ia pun bangkit, ia berniat untuk menemui Bima di apartemennya.


Tapi saat sampai di apartemen, ia baru tahu jika Bima sudah menjual apartemennya.


Nyonya Rose pun kemudian menghubungi Bram, Bram adalah sahabat Bima, ia pasti tahu di mana keberadaan Bima saat ini.


Kini nyonya Rose sudah berada di restauran milik Bram,


"Makanlah Tante!"


"Terimakasih kamu baik sekali!"


Bram menatap miris pada mama sahabatnya itu, dia benar-benar terlihat menyedihkan.


"Maaf, aku sangat lapar!"


"Memang Tante sudah tidak makan berapa hari?"


"Sudah dua hari aku bermalam di depan butik!"


"Dua hari? Kenapa?"


"Si Hadi sialan itu sudah mengambil semuanya! Dia bekerja sama dengan Indah untuk menghancurkan hidupku!"


ini karma Tante ....


Ingin rasanya chef Bram tertawa, tapi ia masih menghormati perasaan wanita di depannya itu. Walau bagaimana pun, wanita di depannya itu tidak pernah menyakitinya. Walaupun ia kadang merasa kesal saat sahabatnya dimanfaatkan oleh mamanya sendiri.


"Baiklah, makanlah yang banyak Tante. Kalau Tante mau nambah, aku akan minta pelayan untuk mengambilkannya lagi."


"Iya aku mau, aku mau ayam bakarnya dua, kepitingnya dua, trus steak daging nya dua ya. Aku masih sangat lapar!"


Chef Bram hanya bisa menelan Salivanya, ia tidak bisa mengatakan tidak karena memang ia sudah terlanjur mengatakannya.


Ia pun memanggil pelayannya dan memintanya untuk mengambilkan apa yang di minta nyonya Rose.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2