Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Menghindar dulu


__ADS_3

Hingga suara Aya membuyarkan lamunan Indah,


"Ehhhh, ini bukannya Dava!?" Aya menunjuk ke pintu masuk.


Indah segera menoleh ke arah tatapan Aya dan benar saja Dava baru saja memasuki pintu masuk bersama tiga temannya, ia segera tersenyum dan melambaikan tangannya, hal itu membuat Aya heran,


"Kalian beneran sudah akur?"


"Hmmm!" lagi-lagi Indah tersenyum, Dava menatap ke arah mereka.


"Dav!?" panggil Aya seketika. membuat pria itu menoleh.


Ia terlihat berpamitan pada beberapa temannya dan dengan cepat menghampiri mereka,


"Hei, Indah, Aya ..., kalian di sini?"


Indah hanya tersenyum berbeda dengan Aya yang segera menyahut ucapan Dava,


"Iya kebetulan Indah ngajak aku nongkrong, itu tadi siapa?"


"Dav, kamu di sini?" Indah benar-benar tidak tahu juga Dava juga akan ke tempat itu.


"Iya, kebetulan sekali!?" gumam Indah dan Aya tersenyum mendengarnya,


"Kalian kayaknya emang jodoh!?" ucap Aya.


Semuanya tidak mungkin ....., batin Indah dengan senyum getirnya.


"Dava! Ajak teman-teman kamu sekalian aja ke sini!" ucap Aya membuat Indah dengan cepat melotot ke arah Aya,


"Biar rame Ndah!" ucap Aya dengan wajah tanpa berdosa.


"Nggak usah!"


Akhirnya Aya pun menyerah.


Terlihat salah satu dari mereka melambaikan tangannya saat menyadari Aya tengah memperhatikannya, Aya pun membalas dengan melambaikan tangannya juga.


"Mau aku kenalkan sama mereka?" tawar Dava,


"Iya, mau!" jawab Aya dengan begitu bersemangat.


"Nggak ahhh jangan!?" Indah yang sedari tadi hanya memperhatikan Aya dan Dava berbicara pun segera menolak,


"Ayolah Indah!?" ajak Aya sambil menarik tangannya.


"Enggak, aku males!" Indah tetap bersikeras untuk menolak, ia benar-benar tidak punya tenaga hanya untuk berhuhu haha, kali ini ia benar-benar ingin tenang sambil memikirkan rencananya selanjutnya.


"Kalau gitu, Lo aja Aya, ayo ....!" ajak Dava dan Aya hanya bisa menatap Indah merasa tidak enak,

__ADS_1


"Tapi_!"


"Nggak pa pa kamu ke sana aja, aku akan tetap di sini!" Indah tetap dengan pendirian,


"Jangan khawatir, cuma sebentar kok, ayo ....!"


"Beneran nggak pa pa Ndah?"


"Iya, santai aja kali ...!"


Akhirnya Aya pun berdiri dan mengikuti Dava, ia sepertinya sudah sangat tertarik dengan pria yang melambaikan tangan padanya.


"Boleh kan kami ikut duduk?" tanya Dava. Membuat ketiga temannya mengangguk. Dava dan Aya pun ikut bergabung dengan mereka.


"Boleh, duduklah!"


"Duduklah!"


"Kenalkan, mereka teman-teman ku!" ucap Dava memperkenalkan pada Aya.


"Hai salam kenal, saya Ren!"


"Saya Jeff!"


"Saya Ken!"


"Kalian biasa ya di sini?" tanya Aya memulai bicara.


"Sebenarnya ini tempat biasa aku nongkrong sama teman-teman!"


"Teman-teman?" tanya Aya, ia tidak pernah melihat Dava memiliki teman selama ini, "Satu kampus?"


Terlihat dari bangku Indah, Aya langsung akrab saja dengan mereka.


Selang beberapa menit, Dava kembali sendiri tanpa Aya sedangkan Indah masih dalam posisinya,


"Kok sendiri?" tanya Indah melihat Dava malah gabung duduk dengannya.


"Aya masih asik tuh sama anak-anak!"


"Ohhhh!"


Indah tidak berniat melanjutkan pertanyaannya, ia memilih kembali mengaduk minumannya,


"Memang minuman kalau di aduk akan bertambah banyak atau bakal habis sendiri?"


Indah segera menghentikan kegiatannya, ia menatap Dava dengan tatapan yang malas. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk bertengkar sekalipun,


"Masih sedih?" tanya Dava dengan sedikit penekanan, "Bagaimana tadi di rumah?"

__ADS_1


Walaupun begitu Dava juga semakin penasaran dengan hubungan Indah dengan Bima.


"Dia di rumah tadi pagi?"


"Si brengsek itu?" bahkan untuk menyebut namanya saja Dava merasa malas, ia seperti merasa sakit saat mengingat kembali air mata Indah, bahkan mata sayu Indah sekarang masih menampakkan berapa banyak Indah menangis tapi ternyata bahkan Bima tidak menyadarinya,


"Rena!?"


Dava segera mengepalkan tangannya dan hampir saja memukul meja tapi masih bisa ia tahan karena saat ini berada di tempat umum,


"Sebaiknya kamu pergi dari sana, itu tidak akan sehat buat hidup kamu!"


Rasa amarah Dava seketika berubah menjadi rasa sedih yang bisa ia rasakan dari sorot mata Indah.


"Itu nggak mungkin!" sekarang bahkan matanya sudah mulai berair, walaupun berusaha keras untuk tidak menangis tetap saja air mata itu tidak mau bersembunyi.


"Tapi kenapa?"


"Tidak semudah itu, banyak hal harus aku pertimbangkan. Ini sebuah pernikahan bukan pacaran yang bisa dengan mudah putus begitu saja!"


Walaupun masih muda tetap saja Indah bukan gadis kota yang terbiasa dengan kehidupan tanpa komitmen, dia adalah gadis yang di besarkan di kampung. Orang kampung yang menganggap komitmen pernikahan adalah hal yang cukup sakral hingga ia tidak tahu bahkan suaminya mempermainkan ikatan suci mereka.


"Lain kali jika kamu merasa tidak kuat dan ingin benar-benar pergi, jangan lupa ada aku yang siap untuk menemanimu!"


"Kalian bicaranya serius sekali, ngomongin apa sih?" ternyata Aya sudah kembali, ia menatap Dava dan Indah bergantian.


Dava yang awalnya menunjukkan wajah serius segara tersenyum begitupun dengan Indah, ia juga segera memalingkan wajahnya menghapus air matanya.


"Nggak, ngomong biasa aja. Iya kan dav?"


"Hmmm, kenapa sudah kembali?"


"Nggak pa pa, pengen aja temenin Indah, kalau kamu mau gabung sama mereka, gabung aja. Biar Indah sama aku!" ucap Aya sambil duduk dan merangkul tangan Indah.


"Baiklah, aku ke sana ya!"


Karena tidak mungkin membicarakan hal pribadi di depan Aya, Dava pun memilih bergabung dengan teman-temannya.


NB : Maaf ada sedikit revisi di bab ini, bagi yang sudah membaca harap baca ulang dua bab terakhir


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰 🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2