
"Terimakasih ya pak!" ucapnya pada sopir taksi yang telah mengantarnya sambil memberikan sejumlah uang sesuai dengan tarif yang keluar.
Taksi pun segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan Indah yang masih berdiri di tempatnya.
Kini Indah sudah berada di depan gedung tinggi itu. Ia menatap ke sekeliling gedung itu, tampak begitu asing.
...Dava, apa kamu akan benar-benar pergi? Apa aku yang terlalu egois dengan perasaanku? Kenapa?...
Indah mencoba mencari jawaban dalam dirinya sendiri, mencoba membuat segalanya mudah tapi nyatanya malah semakin mempersulit dirinya.
Jika pun dia bisa memilih dengan mudah, pastilah Dava menjadi pilihannya. Tapi hati ini bagai sebuah mata pisau, semakin ia mencari, semakin ia terluka.
Cintanya pada Bima? Atau rasa egoisnya untuk memiliki Dava?
Hehhhhh ...
Indah menghela nafas panjang, seakan tengah ingin memulai semuanya.
Ia menatap kakinya yang sejajar, kembali menatap ke depan. Ke tempat orang-orang yang duduk di balik meja tinggi itu.
Baiklah Indah, lakukan apapun yang kamu bisa. Hasilnya nanti biarkan Tuhan yang menentukan.
Langkahnya pasti, ia memilih menuju ke pihak resepsionis,
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita dengan pakaian rapi dan rambut yang di ikat satu di belakang,
"Indah!?"
Belum sampai Indah bertanya, seseorang sudah memanggilnya dari belakang,
"Dava!?" Indah pun langsung tersenyum dan berbalik padanya. "Syukurlah kita bertemu di sini!" Indah berjalan mendekat pada pria dengan penampilan resmi itu, dia benar-benar beda jika di kantor.
Saat di kampus, ia nampak casual dengan baju khas anak muda, tapi jika di kantor ia tampak begitu dewasa dengan setelah kemeja lengkap dengan jasnya.
"Ada apa?" tanya Dava tanpa mengubah ekspresi wajahnya, wajahnya tampak lebih dingin dari biasanya. Tapi tidak bisa di pungkiri saat ini ia tengah berusaha tersenyum di depan Indah.
"Aku sengaja mencarimu!" ucap Indah lagi dengan sedikit mendongakkan kepalanya karena tinggi indah hanya sebatas bahu Dava.
"Baiklah,"
"Baiklah? Baiklah, maksudnya?" Indah suka tidak faham dengan kata-kata singkat yang sering keluar dari mulut Dava.
"Baiklah kita bicara!"
"Di sini?" tanya Indah lagi saat memperhatikan sekitar, banyak orang lalu lalang dan jelas ini tidak akan nyaman untuk bicara.
"Sebaiknya kita cari makan, belum makan kan?" tanya Dava dan Indah pun mengangukkan kepalanya, ia memang belum makan sedari pagi. Ia sibuk memikirkan Dava dan kemudian Renata membuatnya melupakan perutnya.
Dava tahu, karena baru setengah jam lalu Aya datang menemuinya, Aya sudah tahu tentang rencananya untuk pergi. Itulah kenapa ia menemui Dava, ia juga menceritakan tentang Indah yang sepanjang hari memikirkannya karena ia sengaja menghindar darinya.
"Tidak keberatan kan?" tanya Dava lagi untuk memastikan.
"Hmmm!" Indah mengangukkan kepalanya.
Akhirnya Dava mengajak Indah ke sebuah restauran terdekat dari kantornya.
Dava memesankan banyak makanan untuk Indah, dan semuanya adalah makanan kesukaan Indah.
"Ini banyak sekali!"
"Tidak pa pa, aku hanya ingin melihatmu makan yang banyak hari ini."
"Baiklah!" Indah pun mengambil sendok dan garpunya, mulai melahap makanan di depannya tapi pria itu hanya sibuk melihatnya makan tanpa berniat menyentuh makanannya,
"Kenapa menatapku seperti itu, kamu tidak makan?"
"Tidak, aku hanya akan melihatmu makan!"
"Ya ampun!? Kamu ini, baiklah lain kali aku akan mentraktir mu, kamu tahu sekarang aku sudah punya penghasilan."
"Benarkah?" Dava pura-pura tidak tahu, ia juga tidak perlu memberitahu tentang apa yang ia lakukan untuk mengambil hak Indah dari pihak yang serakah itu, yang penting sekarang saat ia memutuskan untuk pergi, setidaknya hidup Indah akan terjamin.
__ADS_1
"Iya, aku...!" Indah pun menceritakan semuanya dengan begitu semangat pada Dava, semua yang ia dapat dari hasil saham yang ia punya di perusahaan.
Mungkin nanti, ini yang paling aku rindukan dari kamu, Ndah ..
Tiba-tiba tangan Dava terulur dan mengusap sudut bibir Indah yang ada sausnya membuat Indah terdiam,
"Ada apa?"
"Ada saus tadi, lanjutkan ceritanya!"
"Sudah!?"
"Ohhhh!"
"Ahhhh, akhirnya kenyang!?" bersama Dava, seolah-olah ia selalu bisa melupakan masalahnya. Dava tersenyum tipis, tapi nyaris tidak terlihat.
"Dava!?" Indah baru teringat dengan tujuannya menemui Dava.
"Ada apa?" tanya Dava saat ia telah menyesap minumannya.
"Aku dengar dari kak Devi_!" belum sampai Indah menyelesaikan ucapannya, Dava langsung memotongnya.
"Sudah ku duga, dia benar-benar tidak bisa jaga rahasia." gerutu Dava membuat Indah mengerutkan keningnya,
"Jadi itu benar?"
"Hmmm!" Dava menganggukkan kepalanya.
"Dava, ada apa?" Indah bingung harus mulai bertanya dari mana, "Maksudku, kenapa harus pergi?"
"Ada tawaran bagus di sana, cukup bagus untuk mengembangkan perusahaan!" ucap Dava, itu memang benar tapi alasan yang sebenarnya bukan itu.
"Tapi lima tahun_?" Indah tidak bisa membayangkan harus berpisah dengan Dava selama lima tahun, tiba-tiba air matanya pecah,
"Itu bukan waktu yang singkat!"
Dava dengan sigap mengusap air mata indah sebelum benar-benar jatuh,
"Tapi Dava, kamu tahu lima tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana dengan aku tanpa kamu?"
" Indah dengarkan aku!" Dava menggengam tangan Indah, menatapnya lekat,
"Tidak pa pa, kamu pasti baik-baik saja tanpa aku!"
"Kenapa kamu begitu yakin?"
Ada Bima, dia pasti menjagamu Indah ...., batin Dava dengan perasaan yang begitu sakit.
"Aku hanya ingin melihat kamu nanti setelah lima tahun berlalu. Jadilah Indah yang kuat, istri yang baik untuk suami kamu dan yang pasti pemimpin yang baik untuk perusahaan kamu sendiri."
"Maksud kamu apa?"
"Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu. Setelah ini, mungkin aku tidak akan bisa membantumu lagi, kamu harus jadi wanita yang kuat dan mampu berdiri di atas kaki kamu sendiri. Belajar yang rajin, buktikan pada orang-orang yang telah meremehkan mu, bahwa kamu bisa."
"Tapi aku_!?"
Lagi-lagi Dava memotong ucapannya.
"Kamu pasti bisa, Indah! Percaya!" genggaman tangan Dava semakin kuat di tangannya.
Sekarang Indah hanya bisa pasrah, ia tidak ada pilihan lain selain menerimanya.
"Jangan lupakan aku!" ucap Indah sebagai penutup katanya.
"Pasti. Aku besok akan berangkat, tidak usah mengantarku!"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin melihatmu menangis!"
"Mana bisa!?"
__ADS_1
"Harus bisa. Hapus air matamu dan setelah ini aku akan mengantarmu pulang."
Indah pun hanya bisa menuruti perkataan Dava. Walaupun berat, tapi ia juga tidak bisa meminta Dava untuk tetap bertahan untuknya. Ia tidak punya apapun untuk ia janjikan .
Kini Dava dan Indah sudah berada di dalam mobil, tidak ada percakapan lagi di antara mereka, mereka tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Seandainya kamu bilang untuk jangan pergi, mungkin aku akan merubah keputusanku, Indah ..., Dava tidak bisa memungkiri jika saat ini ia ingin sekali bersama dengan Indah,
Aku tidak bisa mencegahmu Dava, tapi aku juga berat untuk melepasmu, apa aku bisa? Indah pun memikirkan hal yang sama tapi mereka sama-sama tidak saling terucap.
Hingga kini mereka sampai juga di depan kontrakan Indah,
"Sampai jumpa lima tahun lagi, Indah!"
"Kamu yakin mengatakan ini?" Indah benar-benar tidak bisa mengatakan pada Dava untuk jangan pergi, meskipun dia ingin.
"Iya, aku yakin ini yang terbaik untuk kita. Untuk aku, kamu dan Bima pastinya! Kamu harus tetap baik-baik saja, mengerti!"
"Hmmm!?"
"Aku pergi!?"
"Hmmm!?" bahkan saat ini air mata Indah tidak mampu untuk ia bendung melepas kepergian Dava, lima tahun lagi.
Tapi apa kita bisa bersama setelah lima tahun lagi,? Jika kamu takdirku, masihkan kita bertemu lagi nanti?
Indah tidak punya pilihan lain selain melepas Dava, ia tidak punya hak untuk mencegahnya pergi meskipun ia ingin.
Indah hanya bisa menatap kepagian Dava, ada hal yang ingin ia beritahukan pada Dava tapi ia tidak tahu apa itu.
"Indah! Dava nggak ikut masuk?" tanya Aya yang baru saja dari dalam, walaupun ia tahu semuanya tapi ia tidak ingin membuat Indah semakin terluka.
"Enggak!" ucap Indah sambil menggelengkan kepalanya.
Melihat wajah Indah yang seperti itu, ia yakin pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa?"
Indah tiba-tiba berhambur memeluk Aya dan meluapkan semua air matanya.
"Kita masuk dulu ya!" Aya pun menuntun Indah untuk masuk ke dalam rumah.
"Duduklah!" ia juga membimbing Indah agar duduk.
Mereka pun duduk, Aya menunggu hingga Indah benar-benar siap untuk bercerita.
"Hari ini entah apa yang membuat hatiku terasa penuh, dadaku sesak Aya. Rasanya sakit, tapi aku tidak tahu kenapa?"
"Katakan semuanya, siapa tahu dengan kamu bercerita bisa mengurangi rasa sesak di dada kamu!"
Indah pun menceritakan semuanya, mulai dari Renata yang hamil hingga kepergian Dava.
"Sabar Indah, aku yakin semua ini pasti ada hikmahnya. Benar kata Dava, mulai sekarang kamu harus bangkit. Kamu harus bisa berdiri di atas kaki kamu sendiri. Aku dan Dava percaya padamu!"
"Tapi aku butuh seseorang untuk itu Aya!"
"Aku. Aku akan selalu ada buat kamu, jangan takut. Dunia ini memang keras, tapi percayalah tekat kamu lebih keras dari ini."
"Aya, terimakasih!" Indah kembali memeluk Aya, "Kamu benar-benar sahabat aku, mulai sekarang aku tidak akan pernah takut sama apapun!"
"Bagus!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1