Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Gambeknya Indah


__ADS_3

Indah berjalan tidak bersemangat memasuki apartemennya, tidak seperti biasa. Ia hari ini begitu malas bertemu dengan pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Heehhhhh .....


Indah berdiri di depan pintu, tangannya enggan untuk membuka pintu hingga pintu terbuka dari dalam.


"Ndah, masuklah!" Bima yang hendak pergi mengurungkan niatnya. Indah tanpa berucap apapun berlalu begitu saja.


Bima menutup kembali pintunya dan mengikuti Indah dari belakang.


"Ndah, aku ingin bicara!"


Indah yang sudah mencapai pintu kamar kembali menoleh ke belakang dengan begitu malas.


"Jangan dulu ya mas, Indah capek. Mau istirahat dulu!" Indah segera masuk meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Indah tidak berniat untuk membersihkan diri atau mengganti bajunya, ia melempar asal tasnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Pikirannya kini sedang melayang-layang, untuk pertama kalinya ia mendapat masalah yang serius dalam hidup.


Aku harus apa sekarang, masak iya aku harus membayar denda sebanyak itu .....


Kalau iya aku jadi pacar kontraknya, bagaimana kalau mas Bima tahu. Dio sudah memperingatkan aku agar tidak dekat-dekat dengan Dava, ehhhh aku malah cari gara-gara sama dia .....


Lalu bayangan tangan Rena yang bertaut di tangan Bima kembali muncul,


Masak sih mereka hanya sebatas sekretaris dan bos? Memang ada sekretaris yang pegang tangan bos?


Dan parfum itu, itu jelas-jelas bukan punya chef Bram .....


Pintu kamar terbuka, Indah dengan cepat pura-pura tidur dengan memejamkan matanya.


Bima berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di sisi tempat tidur.


"Ndah, kamu sudah tidur ya?"


Walaupun mendengar, Indah yang pura-pura tidur tidak ingin menjawabnya.


"Baiklah tidurlah, kita bicara besok ya. Selamat malam!"


Bima ikut merebahkan tubuhnya, Indah masih berselancar dalam pikirannya.


Apa ini alasan mas Bima nggak pernah mau nyentuh aku? Kenapa sikapnya dingin? Usiaku sudah delapan belas tahun, sebentar lagi juga sembilan belas tahun, aku sudah bisa melakukannya, tidak terlalu kecil kan buat usia segitu .....


Bima yang juga tengah tidur memunggunginya, juga sedang berselancar dengan pemikirannya sendiri.


Apa Indah jatuh cinta pada putra group H, dia memang tampan tapi dia saingan papa ....


Bagaimana kalau iya, mereka memiliki hubungan spesial?


Hingga akhirnya mereka terlelap karena mengantuk.


...***...


Pagi-pagi sekali Indah sudah bersiap-siap, ia juga sudah memasak untuk suaminya.


Melihat Indah lebih dulu bersiap di banding dirinya, Bima pun segera menghampiri.


"Ndah, aku antar ya?"


"Nggak usah mas, lagi pula Indah juga sudah biasa berangkat sendiri! Sampai jumpa nanti mas!"


Bahkan Indah tidak meninggalkan kecupan di pipi suaminya seperti biasa.


Bima termenung di meja makan, Ia menatap makanan yang bahkan Indah tidak menyentuhnya.


"Indah marah kenapa?"


"Apa karena Rena?"


Biasanya suara cerewet Indah memenuhi ruangan itu tapi kini terasa sunyi.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering, ia menatap malas pada ponselnya. Untuk pertama kalinya ia merasa malas menerima telpon dari Rena. Ini sudah kesekian kalinya barulah Bima menerimanya.


"Sayang ada apa? Kenapa lama sekali angkat telponnya?"


"Tadi sedang di kamar mandi!" Bima beralasan.


"Jemput aku ya!"


"Mobil kamu kemana?"


"Biasanya juga nggak pernah nanya gitu, kenapa sekarang jadi gini sih? Ya udah kalau nggak mau jemput, nggak usah jemput. Aku bisa naik taksi atau bus!"


"Baiklah aku akan menjemputmu!"


Bima segera mematikan telponnya, ia mengambil tasnya dan bersiap untuk berangkat. Meninggalkan sarapannya begitu saja.


...***...


Indah kali ini memilih menunggu bus di halte tidak jauh dari apartemennya. Masih begitu pagi, jadi dia punya waktu banyak untuk sekedar melamun.


Tin tin


Tiba-tiba klakson mobil menyadarkannya dari lamunan, sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depannya. Pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya.


"Hai baby, mau berangkat ya?"


Indah tersenyum setelah mengenali siapa pemilik mobil itu,


"Chef Bram!"


"Masuklah, aku akan mengantarmu!" ucapnya sambil membuka pintu mobil.


"Nggak usah chef, Indah sengaja nunguin bus biar siangan!"


"Jangan sungkan, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Masuklah!"


Karena chef Bram memaksa, akhirnya Indah pun setuju. Ia masuk dan duduk di samping chef Bram.


"Chef mau bicara apa?"


"Aku sudah tahu hubungan kalian!?"


Indah begitu terkejut, "Maksudnya?"


"Ya, kami istri Bima dan Bima suami kamu!"


Indah menundukkan kepalanya merasa bersalah karena telah membohongi pria di sampingnya,


"Maafkan aku chef, aku sungguh tidak bermaksud membohongi chef!"


"Tenanglah, aku tahu semuanya bukan salah kamu, tapi Bima!"


Indah langsung melambaikan tangannya, "Bukan chef, ini memang di setujui kami berdua!"


"Kamu polos sekali, baik lagi. Beruntung banget Bima dapetin kamu!"


Indah tersenyum, "Indah yang beruntung dapetin mas Bima!"


"Baiklah, semoga keluarga kalian selalu bahagia dan jauh dari segala masalah yang rumit!"


"Aminnnn!"


Akhirnya mobil berhenti juga di depan kampus,


"Terimakasih ya chef, Indah turun dulu!"


"Sama-sama, sampai jumpa lagi!"


Indah melambaikan tangannya saat mobil itu berlalu. Tapi Indah tidak menyadari jauh di belakangnya, pria yang sedang sangat ingin ia hindari sedang bersandar di dinding pagar dan seperti biasa menekuk sebelah kakinya yang ia sandarkan ke tembok dengan tangan yang dilipat di atas dada.


Indah begitu terkejut saat membalik badannya, tapi ia berusaha untuk tidak menghiraukannya.

__ADS_1


"Jangan kira Lo bisa kabur dari gue!"


Perkataan pria itu berhasil menghentikan langkah Indah.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau!"


"Baiklah, lihat di sana!" Dava menunjuk pada sebuah mobil dengan kaca yang terbuka sebelah. Seorang pria dengan jas hitam dan kaca mata hitam tengah duduk di dalam mobil.


"Itu pengacara gue, baiklah karena Lo nggak setuju, akan gue panggil biar ke sini!"


"Jangan, jangan!!! Tadi aku hanya bercanda, aku mau kok, siapa juga yang nggak mau sama uang seratus juta!"


"Baguslah!"


"Ayo masuk dan bicarakan ini lebih lanjut!" Indah segera menarik tangan Dava.


Mereka duduk di sebuah bangku taman, di atas meja berbetuk lingkaran itu sudah ada sebuah surat perjanjian,


"Baiklah, aku harus mengajukan syarat!"


"Hanya pihak pertama yang boleh mengajukan syarat, pihak kedua cukup menyetujuinya!"


"Itu curang namanya!"


"Baiklah, aku akan memanggilnya!"


"Iya iya, aku setuju. Di mana harus tanda tangan?"


Dava menunjukkan tempat untuk membubuhkan tanda tangan.


"Anak pintar!"


Dia benar-benar memerasku, menggunakan kekuasaannya untuk menindas yang lemah ...., benar-benar .....


"Baiklah mulai sekarang, di kelas, di kantin, di manapun kamu akan bersama ku, dan kontrak berakhir saat keluar dari kampus kecuali jika aku membutuhkanmu untuk urusan yang urgen!"


"Terserah!"


Indah segera berdiri tapi tangannya langsung di tahan oleh Dava,


"Apa lagi?"


"Mau ke mana?"


"Ke kelas lah!"


"Mulai sekarang kita akan berjalan bersama ke kelas!"


Dava segera berdiri menyimpan surat perjanjiannya dan merangkul bahu Indah.


Walaupun kesal tapi tetap saja Indah tidak bisa menolaknya, bayangan membayar denda sebanyak dua ratus juta sudah membuatnya takut.


Mereka menjadi pusat perhatian banyak mata,


Ini keterlaluan ....


"Tersenyum yang paling manis!" bisik Dava.


"Iya!"


Indah pun jadi tersenyum walaupun dengan penuh keterpaksaan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2