Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Memilih pergi


__ADS_3

Setelah semuanya kembali tenang mas Bima kembali melanjutkan ucapannya.


"Pak Hadi, silahkan anda bicara sekarang!" perintah mas Bima, aku tahu sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pak Hadi berdiri, ia membuka berkas yang ia bawa, aku tahu berkas itu sudah pernah beliau tunjukkan padaku.


"Saya sebagai perwalian dari almarhum pak Wira berkewajiban untuk menyampaikan ini, ini adalah surat wasiat yang di tinggalkan oleh pak Wira untuk putrinya."


Pak Hadi mulai membacakan isi surat wasiat itu dan sesuai dengan prediksiku, beberapa diantara mereka akan mendukung kubu yang berbeda, banyak yang memihak nyonya Rose karena mereka tahu aku dan mas Bima sedang dalam proses cerai.


Mungkin itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi mereka, bagaimana seorang gadis yang berasal dari kampung tiba-tiba memimpin sebuah perusahaan.


"Untuk itu, saya akan menyerahkan kekuasaan perusahaan sepenuhnya pada Indah!"


"Tidak bisa seperti itu, pak Bima!" protes salah satu dari mereka yang sedari tadi terlihat mendominasi perdebatan. Aku juga bisa melihat senyum sinis dari mama Rose, sepertinya dia meras menang karena mendapat dukungan.


"Keputusan saya sudah bulat, kalah ada yang tidak setuju, Minggu depan setelah acara pertemuan lusa, kita bisa melakukan voting untuk menentukan suara terbanyak! Meeting hari ini selesai sampai di sini."


Terlihat beberapa wajah kecewa yang keluar dari ruangan itu, tapi beberapa dari mereka juga menyempatkan diri untuk menghampiriku untuk memberi semangat.


Mas Bima sepertinya menungguku, hingga ia memilih keluar belakangan. Tapi dengan cepat aku keluar, mas Bima menahan tanganku,


"Kita harus bicara!"


"Maaf, saya harus ke kamar mandi!"


Akhirnya dengan alasan itu, mas Bima melepas genggaman tanganku. Aku pun berlalu ke kamar mandi.


Walaupun hanya sebuah alasan untuk menghindari mas Bima, tapi aku juga ingin segera mencuci wajahku agar lebih segar.


Aku menatap pantulan wajahku di cermin besar di depanku, wajahku yang basah karena air.

__ADS_1


Seandainya ada Dava, seandainya aku tidak menyakitinya pasti hari ini dia akan menemaniku ....


Aku selalu saja teringat dia di masa sulit seperti ini, tempat yang baru saja aku tinggalkan terasa asing dan menyesakkan. Rasanya ingin segera berlari keluar tapi logikaku menahannya.


"Apa sekarang Dava sudah memaafkanku ya? Mungkin aku harus menghubunginya!"


Aku merogoh tas sampingku, tapi aku tidak menemukan benda pipih itu, terakhir kali aku ingat aku mengeluarkannya di ruangan tadi tapi sepertinya aku lupa memasukkannya lagi.


Aku pun segera mengusap wajahku agar kering, bergegas kembali ke ruangan itu. Tapi baru saja sampai di depan ruangan itu, dari pintu yang sedikit terbuka itu aku bisa mendengar perdebatan dua orang di dalam.


Demi mengobati rasa penasaranku, aku memilih menguping perdebatan mereka. Rupanya mereka adalah mas Bima dan mama Rose.


"Kamu benar-benar sudah gila, Bima!"


"Mama yang sudah gila, setalah menumbalkan papa dan sekarang Bima, apa mama bahagia? Hahhh, papa menikah dengan orang lain karena mama, karena ambisi mama dan sekarang Bima harus menikah dengan Indah juga karena ambisi mama!"


"Tapi kamu kan cinta sama Indah, kenapa harus mempermasalahkan hal ini? Mama benar-benar tidak habis pikir denganmu!"


"Bima memang mencintai Indah, tapi rasa cinta Bima tidak akan membuat Indah menderita dan terbelenggu dalam ambisi mama, cukup Bima dan papa, tidak Indah atau siapapun lagi. Sudah cukup ma!"


"Jika ini yang harus Bima tanggung karena sudah menyakiti Indah, Bima rela."


"Dasar bodoh! Kamu bodoh Bima! Mama benar-benar menyesal telah mempercayakan semuanya padamu!"


Terdengar langkah sepatu, sepertinya mama Rose hendak meninggalkan ruangan. Aku pun segera memilih bersembunyi di balik dinding yang ada di ruangan itu.


Dan benar saja, mama Rose keluar seorang diri dari ruangan itu, aku kembali mengintip ke dalam. Ku lihat mas Bima tengah duduk di salah satu kursi sambil memegangi kepalanya, wajahnya tampak frustasi.


...Hatiku kenapa tiba-tiba goyah? Melihat mas Bima seperti itu, rasanya tidak tega ......


Berkali-kali aku menepis perasaan yang sering kali tiba-tiba muncul dan meminta pertanggungjawaban dariku, tapi aku sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana. Benarkah masih begitu dalam rasa itu pada mas Bima? Atau ini hanya rasa simpati karena akhirnya aku tahu dia hanya di manfaatkan oleh orang-orang yang serakah?

__ADS_1


Entahlah, kembali aku teringat dengan ponselku, mau tidak mau aku harus tetap masuk dan mengambilnya.


Tok tok tok


Perlahan aku ketuk pintu ruangan itu dan mas Bima tampak mendongakkan kepalanya.


"Indah!?"


"Maaf, ponselku ketinggalan!" Aku berjalan cepat mengambil ponsel yang masih tergeletak dia atas meja,


"Aku pergi dulu!"


"Indah!"


Panggilan mas Bima berhasil membuat langkahku kembali terhenti, tapi tetap aku dengan keteguhan hati tidak akan berbalik.


Sebenarnya aku hanya takut jika sampai berbalik, maka hatiku akan kembali goyah.


"Indah, aku benar mencintaimu. Tapi jika melepasmu akan membuatmu bahagia, aku akan mencoba untuk iklas."


"Terimakasih atas apa yang mas Bima lakukan hari ini, tapi apapun itu tidak akan pernah merubah keputusan indah, mas! Maaf!"


Aku pun benar-benar memilih berlalu, kembali menoleh ke belakang akan menjadi kesalahan karena hatiku masih sangat rapuh.


Aku berjalan cepat agar tidak bisa melihat mas Bima lagi, tidak ingin melihatnya lagi, cukup hatiku yang ragu tapi tubuh ini jangan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...


__ADS_2