Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Perasaan Dava


__ADS_3

Walaupun ragu, tapi akhirnya Indah bersedia masuk. Dan mobil kembali melaju.


Sebelum Indah bicara, Bima sudah lebih dulu membuka suara.


"Ndah, maafkan aku ya, aku ketiduran semalam!"


"Di?"


"Di? Di kantor!"


Maafkan aku udah bohong sama kamu lagi ....


Bima menyadari jika kebohongan akan selalu di tutupi dengan kebohongan yang lainnya lagi. Tapi untuk saat ini ia juga tidak Nisa berbuat apa-apa. Hatinya ingin memilih tapi nyatanya tidak bisa semudah itu.


Setiap kali melihat air mata Rena, ia selalu luluh. Begitupun dan Indah, setiap melihat kepolosan Indah. Tiba-tiba rasa bersalah itu muncul.


"Nggak yakin gitu mas jawabnya?"


"Maksudnya?"


"Ya keliatan ragu aja!"


Belum sampai Indah mengajukan argumennya lagi. Mobil sudah berhenti tepat di depan kamus.


"Sudah sampai, masuklah!"


Indah menoleh ke arah kampus, padahal masih banyak yang ingin ia bicarakan pada sang suami.


Ya sudahlah ....


"Aku ke kampus dulu ya mas!"


Tangan Indah sudah hampir menarik handle pintu,


"Nggak ngerasa ada yang ketinggalan?"


Pertanyaan dari Bima mengurungkan niatnya,


"Apa?"


"Ya apa gitu!" Bima mendekatkan bibirnya.


Indah tahu apa yang di maksud oleh suaminya, tapi rasanya masih kesal.


"Baiklah!"


Cup


Indah mencium bibir suaminya, membuat pria itu tersenyum.


"Sampai jumpa nanti malam!"


"Hmmm!"


Indah sekarang benar-benar turun, ia segera melambaikan tangannya hingga mobil itu melaju meninggalkan kampus.


Srekkkk


Tapi tiba-tiba tangan Indah di tarik seseorang. Orang itu adalah Dava, ia mengungkung tubuhnya di tembok samping kampus. Jalan yang jarang di lalui oleh mahasiswa.


"Dava, apa-apaan sih, lepasin!"


Kini wajah Dava begitu dekat hingga Indah bisa merasakan hembusan nafas pria itu,


"Apa hubungan kamu sama pria itu?"


"Bukan urusan kamu!"


"Akan jadi urusan aku karena kamu masih terikat kontrak denganku!"


"Apaan sih!?"


"Kamu yang apaan, kenapa ciuman di depan kampus?"

__ADS_1


"Ya terserah aku dong, lepasin aku sekarang!"


"Nggak, sebelum kamu jujur dan mengatakan siapa dia!"


Indah benar-benar kesal sekarang,


"Dia suami aku, puas? Sekarang lepaskan!"


Mendengar ucapan Indah, Dava seketika melepaskan Indah. Indah dengan cepat berlari meninggalkan Dava yang masih terdiam di tempatnya.


Tiba-tiba Dava terduduk di tanah, ia mensedekukan kakinya, seakan hatinya telah hancur. Cinta yang baru tumbuh akhirnya terurai begitu saja bersamaan dengan pernyataan Indah.


Setelah kejadian itu, sikap Dava berubah dingin kembali. Ia sama sekali tidak menyapa Indah padahal perjanjian kontrak mereka masih tiga bulan lagi.


"Dava kenapa?"


Aya menyenggol bahu Indah, dua hari ini ia tidak lagi menyapa Indah apa lagi menggangunya.


"Biarin, lagian malah bagus kalau begini!"


Bahkan saat berpapasan Dava sama sekali tidak menyapanya saat Indah ingin menyapa, Dava pura-pura tidak mendengarnya.


...***...


Indah sudah jarang pergi kursus karena mama mertuanya yang minta.


Hampir setiap hari Indah berkunjung ke kantor dan membawakan makan siang untuk Bima.


"Kamu nggak kursus?"


"Beberapa materi Indah sudah selesai mas, jadi chef Bram kasih kelonggaran!"


"Bagus deh, aku jadi seneng makan kalau kamu yang bawakan begini!"


"Sini biar aku suapin!"


Indah mengambil alih sendok Bima dan menyuapinya.


"Bima, ini_!"


Ia terdiam saat Melihat betapa mesranya saat Indah menyuapi Bima.


"Rena!?"


"Maaf aku kembali nanti saja!"


"Nggak perlu, sekarang saja. Ada apa?"


"Ini beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani!"


"Letakkan saja di meja!"


Rena pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Bima. Ia meletakkan berkas-berkas itu di atas meja kerja Bima lalu keluar begitu saja.


"Rena ada apa?"


Dio yang hampir di tabrak Rena segera.menanyainya saat melihat Rena sedang menangis,


"Bukan apa-apa!"


Rena berlalu begitu saja, ia memutuskan ke kamar mandi dan menumpahkan air matanya di sama.


"Bima, kamu sudah benar-benar berubah, aku seperti nggak kenal kamu lagi. Bahkan meskipun bersamaku kamu sama sekali tidak mau menyentuhku!"


Walaupun Bima menemani Rena, tapi mereka tidak melakukan apapun, walaupun Rena menggodanya dengan berbagai cara, tapi Bima tetap tidak merespon.


Rena begitu cemburu melihat kemesraan yang di lakukan Indah dan Bima.


...***...


"Tidurlah, aku akan melanjutkan pekerjaanku!"


Bima selalu menghindar setiap kali harus berdekatan dengan Indah. Ia ingin memastikan jika apa yang ia rasakan saat ini adalah kebenaran.

__ADS_1


"Ini sudah malam loh mas, mas Bima mah ngapain?"


"Ada pekerjaan sedikit!"


"Biar Indah temenin ya?"


Bima mengusap kedua pipi Indah lalu meninggalkan kecupan di kening Indah,


"Tidurlah, aku tidak akan lama!"


Bima pun keluar dari kamar, ia menuju ke ruang kerja. Bukan pekerjaan yang ia lakukan tapi sedang termenung.


Beberapa hari ini adalah hari yang cukup sulit baginya,


Hingga akhirnya ia menghubungi seseorang yang mungkin bisa memberinya masukan.


"Bram, besok Lo libur kan?"


"Iya ada apa?"


"Kita ketemu ya?"


"Tumben, ada angin apa nih?"


"Ada yang pengen gue omongin! Kita ketemu di tempat biasa!"


"Siap!"


Bima mematikan sambungan telponnya. Ia merasa sudah tidak sanggup memikirkan semuanya sendiri, ia butuh seseorang untuk di ajak bicara.


...***...


"Mas Bima mau ke mana?"


Indah tengah menyiapkan makanan di dapur sedangkan Bima Sudan berpakaian lengkap celana dan kaos olah raga lengkap dengan sepatu dan handuk kecil yang melingkar di lehernya.


"Aku joging bentar nggak pa pa kan, sekalian mau ketemu sama Bram di tempat gym!"


"Lama nggak?"


"Nggak kok, kalau nanti kamu Sudan lapar, sarapan dulu nggak pa pa! Bye, sampai jumpa nanti!"


Bima sudah hampir mencapai pintu, tapi ia kembali.


"Oh iya, aku lupa mengatakan kalau aku dapat undangan peresmian nanti malam, kamu bisa ikut kan!"


"Tapi_!"


"Jangan khawatir gaunnya, mama pasti udah siapin buat kamu!"


"Iya!"


Bima kali ini benar-benar pergi. Ia lari pagi lanjut ke tempat gym biasanya dirinya dan Bram datangi. Memang tempatnya tidak jauh dari apartemen Bima karena memang rumah Bram juga tidak jauh dari sana.


Bima melakukan gym dengan beberapa alat barulah Bram datang.


"Wisss rajin banget, jam segini udah di sini aja!" sapa Bram yang sudah berdiri di samping Bima Dangan alat olah raga yang sama. Mereka sedang melakukan sit up.


"Ada hal yang penting banget yang pengen gue omongin sama.lo!"


"Galau banget keliatannya, istri udah dua masih aja galau!"


Plekkk


Tiba-tiba handuk Bima melayang begitu saja mengenai wajah Bram.


"Hoe ..., santai bro!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2