Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Kenyataan tentang nyonya Rose


__ADS_3

Karena masih penasaran, Indah pun akhirnya memutuskan pergi ke sekitar rumah Aya tanpa sepengetahuan Aya.


"Kata Aya, nyonya Rose tinggal di sekitar komplek rumah orang tuanya kan!?" gumamnya, ia tampak mengemudikan mobilnya dengan begitu lambat sambil mengamati sekitar.


Ini masih jam tujuh pagi, pasti jika benar apa yang di katakan Aya, nyonya Rose belum berangkat kerja.


Karena gang semakin sempit, Indah pun memutuskan memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Ia memutuskan untuk jalan kaki menyusuri gang. Ia tahu persis gang seperti apa di sekitar rumah orang tua Aya.


Walaupun tidak sering, tapi ketika hari raya atau ketika ada acara di rumah Aya, Aya selalu mengajaknya ke rumah orang tuanya, walaupun itu tidak lama. Karena Aya tidak mau jika mereka menginap di sana.


Akhir-akhir ini, Indah baru tahu kalau Aya ternyata bukan berasal dari keluarga yang harmonis, ia berasal dari keluarga yang broken home dan ayahnya sudah menikah lagi dengan bibinya sendiri.


Beruntung Indah sudah mempersiapkan semuanya, ia tidak memakai sepatu hak tinggi tapi ia memakai sepatu sports untuk memudahkan gerakannya.


Ia menyusuri gang-gang kecil nan kumuh itu dengan berjalan kaki,


"Jika berdasarkan cerita Aya, kayaknya di sekitar sini sih rumahnya!?" gumamnya lagi mengamati tempat itu.


Dan benar aja, baru saja ia berjalan sekitar sepuluh meter, dari kejauhan ia bisa melihat wanita yang ia cari itu tengah menjemur pakaian lusuhnya di depan rumah.


"Itu benar, nyonya Rose!?"


Wanita yang tengah ia awasi, tiba-tiba menyadari keberadaannya. Tapi seseorang tiba-tiba membekap mulut Indah dan menarik tubuhnya untuk bersembunyi.


"Chef!?" gumam Indah begitu terkejut saat melihat siapa pemilik tangan itu, tapi chef Bram malah menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri tanda jika Indah harus diam, ia meminta Indah untuk kembali mengamati nyonya Rose tanpa bersuara.


Dan benar saja, nyonya Rose tampak celingukan mencari-cari seseorang.


"Sepertinya tadi ada yang mengawasi ku. Apa aku hanya salah lihat ya. Ahhh mungkin cuma perasaanku saja." gumamnya, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan nyonya Rose benar-benar masuk, akhirnya chef Bram pun melepaskan Indah,


"Chef disini?"


"Kamu juga di sini, ngapain?"


"Itu_!" Indah menunjuk ke arah rumah nyonya Rose yang begitu kecil, rumah reot itu hanya berukuran tiga kali tiga meter, dengan pintu yang jebol-jebol di sana sini.


"Baiklah, di ujung sama ada bubur yang enak banget, bagaimana kalau kita bicara sambil sarapan bubur di sana?"


"Baiklah!"


Akhirnya Indah hanya bisa pasrah, ia mengikuti chef Bram tapi dengan terus saja berpikir bagaimana chef Bram juga berada di sana.


Akhirnya mereka sampai juga di kedai yang di tunjuk oleh chef Bram, kedainya sederhana tapi pelanggannya begitu banyak hingga mereka antri untuk menunggu bubur.


"Tunggu di sini, biar aku yang pesan!"


"Baiklah!"


Indah pun akhirnya memilih duduk di salah satu kursi plastik yang ada di bawah pohon, sepertinya kursi itu sengaja penjual siapkan untuk para pelanggannya, sedangkan chef Bram tampak ikut berdiri antri di depan kedai dengan para pelanggan lainnya, beruntung hanya tinggal lima di depan chef Bram tapi masih banyak di belakangnya.


Hingga setelah menunggu hampir lima belas menit, kini giliran chef Bram di layani.


"Dua porsi spesial ya pak."


"Baik, mas!"


Kini dua mangkuk bubur sudah di tangan, chef Bram pun kembali mendekati Indah, Indah dengan sigap menyiapkan kursi kosong untuk chef Bram,


"Terimakasih!" ucap chef Bram sambil menyerahkan satu mangkuk bubur pada Indah.

__ADS_1


"Sama-sama."


Chef Bram pun duduk dan mereka mulai menikmati buburnya,


"Bagaimana rasanya?" tanya chef Bram.


"Ini enak banget, pantes aja ramai banget pengunjung."


"Kalau rumah makan bebek gantung kamu pengen banyak pelanggan, kamu juga harus membuat yang seperti ini."


"Maksudnya?"


"Jangan hanya tampilannya aja yang bagus, rasanya tetap harus nomor satu. Kemarin aku sudah sempat mampir, boleh aku kasih nilai?"


"Boleh!?"


"Penampilan memang 90 tapi kalau soal rasa kayaknya masih 60 deh."


"Ya ampun, jadi malu chef!?"


"Jangan malu, cukup sedikit di tambah bumbunya aja. Kayaknya lidah orang Indonesia paling suka sama bumbu yang berlimpah."


"Mengerti chef, baiklah nanti aku akan revisi rasanya."


Indah baru saja membuka rumah makan bebek gantung, ia membuka rumah makan di bekas butik yang dulu dikelola oleh nyonya Rose. Karena Indah tidak ada fashion tentang baju dan sebagainya, ia lebih memilih kuliner. Itulah kenapa ia mengubah butik itu menjadi rumah makan.


"Oh iya, chef. Tadi Indah belum sempat bertanya, bagaimana chef Bram ada di sini?"


"Kayaknya tujuan kita sama deh."


"Maksudnya?"


"Tante Rose."


"Hmmm."


"Kok bisa?"


"Aku sebenarnya ada tugas khusus dari Bima!"


"Mas Bima?" Indah benar-benar tidak mengerti maksud dari chef Bram.


"Iya, Bima minta tolong sama aku buat mengawasi mamanya. Walau bagaimana pun nyonya Rose, dia tetap wanita yang melahirkan Bima. Bima tidak bisa meninggalkan mamanya begitu saja."


"Jadi mas Bima juga tahu kalau nyonya Rose sudah menjual sahamnya di perusahaan?"


"Hmmm!" chef Bram menganggukkan kepalanya, "Awalnya aku yang hampir tersulut emosi, tapi Bima memintaku untuk membiarkan saja apapun yang di lakukan oleh mamanya asal tidak merugikan orang lain."


"Jadi mas Bima nggak ambil sedikitpun uang itu?"


"Iya, Bima sudah ikhlas melepaskan semuanya. Semua yang berurusan dengan masa lalunya."


"Tapi uang itu kan banyak, nyonya Rose bisa kan membeli rumah yang setidaknya lebih layak dari yang ia tinggali sekarang!"


"Tapi sayangnya enggak, Tante Rose tergiur investasi bodong. Selain gaya hidupnya yang suka berfoya-foya, sih."


"Jadi_?"


"Iya, Tante Rose kehilangan semua uangnya. Dan Bima masih terus merepotkan aku dengan mamanya yang tidak tahu diri itu. Untung aja Tante Rose tidak tahu di mana Bima sekarang tinggal."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Hmmm, karena Bima sendiri yang cerita."


"Ya ampun, kasihan sekali nyonya Rose!"


"Orang kayak gitu nggak usah di kasihani, biarin aja dia rasakan apa hasil dari kejahatannya."


"Ihhh chef Bram, tetap saja nyonya Rose juga manusia yang pernah khilaf."


"Dia mah bukan khilaf lagi, tapi hobi bikin susah orang."


Akhirnya mereka menyelesaikan sarapannya, chef Bram mengembalikan mangkuk kosongnya sambil melakukan pembayaran.


"Sekarang mau ke mana lagi?" tanya chef Bram sambil berjalan menuju ke mobil mereka.


"Mau ke kampus sih chef, hari ini mau ketemu dosen pembimbing buat revisi skripsi."


"Udah skripsi aja rupanya?"


"Ya udah kali chef, udah tambah besar nih saya."


"Baguslah, berarti bentar lagi lulus dong."


"Iya, begitulah."


Akhirnya mereka sampai juga di mobil mereka yang ternyata di parkir bersebelahan,


"Jadi ini tadi mobil kamu?"


"Iya chef!?"


"Udah jago aja nyetir, sudah bukan Indah yang dari kampung dong sekarang, tapi Indah si bos cantik."


"Ahhh, chef bisa aja. Ini tetap Indah yang dari kampung, hanya saja sedikit beruntung. Ya sudah, Indah pergi dulu ya chef."


"Tunggu!!"


"Hmmm?" Indah pun kembali menoleh pada chef Bram, ia menghentikan kakinya yang sudah mulai masuk ke dalam mobil.


"Nanti ketemu Aya kan?"


"Haaa?"


"Titip salam buat dia ya!"


Indah tersenyum melihat wajah bucin dari chef Bram, baru kali ini ia melihat pria itu bucin.


"Siap, pasti aku sampaikan, bye chef!?"


"Bye, hati-hati!" Chef Bram membantu Indah menutup pintu mobilnya saat Indah sudah benar-benar masuk ke dalam mobil.


Chef Bram menunggu hingga mobil Indah benar-benar menghilang di ujung jalan barulah ia berjalan menuju mobilnya,


"Bodoh banget Bima, melepaskan Indah demi Renata. Padahal kan dia sudah hafal bagaimana sifat Renata, masih juga di urusin. Aku mah ogah!" gumamnya sambil masuk ke dalam mobil.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2