
Kini kehidupan Renata telah berubah, hanya dalam waktu satu bulan. Semua itu karena dua garis biru yang di tunjukkan gadis desa bernama Dewi. Ia bukan lagi seorang ratu di rumahnya, bahkan tempatnya sekarang tengah tersisih, wanita itu telah menjadi ratu. Meskipun ia merengek sepanjang hari, tetap saja suaminya tidak mengindahkan permohonannya.
"Pram, aku bisa punya anak juga. Jangan tidak adil dengan hidupku!"
"Kalau iya seperti itu, maka tunjukkan padaku!"
"Aku pernah punya anak!" ucap Renata sambil menundukkan kepalanya, pengakuan Renata bukan hal yang di iginkan oleh pria di depannya itu.
"Lantas apa hubungannya denganku? Aku juga akan menjadi seorang ayah sendiri. Ayah dari anakku sendiri, bukian ayah dari anak yang tidak jelas.!"
"Aku tahu, tapi bukankah itu artinya aku tidak mandul!"
"Chhhhh!" pria itu malah membuang muka, ia segera berlalu dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya,"Ini apa? Kamu pikir aku tidak tahu!"
Srekkkkk
Pria itu melempar berkas kasar yang berada di tangannya tepat ke wajah Renata hingga berkas-berkas itu berserakan di lantai.
Dengan sisa kekuatannya, Renata segera berjongkok dan mengambil satu per satu berkas itu. Mulai melihatnya.
Jadi dia sudah tahu ....
__ADS_1
Tangannya hampir saja meremas kertas-kertas itu, ia seperti tidak punya kekuatan lagi. Ia terbuang seperti sampah.
"Kamu pikir aku mau sama bekas yang rusak sepertimu? mama benar, kamu lebih pantas di buang seperti sampah."
kata-kata itu begitu menyakitkan, sama seperti saat ia membuang Bima begitu saja, Ia menganggap Bima hanya sampah yang tidak berharga. Tapi hari ini, ia merasakan hal yang sama.Suami barunya membuangnya seperti sampah, bahkan lebih terlihat menjinjikkan.
"Tapi Pram, kita menikah karena kita saling cinta!"
Pria itu memicingkan matanya, menatap Renata tidak percaya, "Benarkah seperti itu?"
Gelak tawa langsung terdengar dari bibir pria itu, tapi tawa itu terasa begitu memilukan bagi Renata, seluruh tulangnya seperti tertusuk oleh gema tawa itu. Rasanya begitu sakit.
"Kau benar-benar membuatku seperti orang bodoh, dasar wanita ******, tidak semestinya kamu tinggal di sini. Penyakitan dan tidak berguna, bisa apa selain menghabisakan uangku?"
"Baiklah!"
Mendengar kata itu, Renata segera mendongakkan kepalanya. Ia seperti sudah mendapatkan jaabannya, tapi benarkah seperti yang ia pikirkan?
"Jadi_?"
"Jadi aku tidak akan mengusirmu dari sini, Dewi akan segera menikah denganku. Kami butuh tenaga untuk merawat anak kami nanti, jadi aku akan membiarkanmu tinggal di sini, bukan sebagai nyonya melainkan sebagai pelayan rumah ini. Tugasmu adalah melayani semua keperluan Dewi!"
__ADS_1
"Pram_!" Renata begitu terkejut hinga ia bangkit dari tempatnya.
"terserah kamu, jika tidak sanggup maka kamu boleh angkat kaki dari sini. Surat cerai juga sudah aku siapkan tinggal di proses!"
Tidak ada pilihan lain selain menerima keadaan, ia butuh tempat tinggal dan juga uang untuk berobat, ternyata karena operasi pengangkatan rahim yang terlambat itu berimbas pada kesehatan organ dalamnya yang lain, terutama lambungnya yang semakin parah. Ia harus tetap melakukan pengobatan secara rutin.
"Baiklah aku setuju, tapi aku punya syarat!"
"Memang kamu masih berhak mengajukan syarat padaku?" Pramu menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Aku hanya meminta permintaan kecil, aku butuh uang untuk biaya berobatku!"
"Hahhhh, ternyata tetap saja. Tidak ada hal lain selain uang di otak kamu!"
Sekali lagi renata harus siap menerima penghinaan itu. Tidak ada pilihan lain, jika pun ia keluar dari rumah itu belum tentu ia akan mendapatkan pekerjaan yang layak, apalagi dengan kondisi kesehatannya yang seperti ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya, kasih vote juga ya, hadiahnya juga biar tambah semangat
Follow ig aku ya
__ADS_1
ig @tri.ani5249
Happy Reading