
"Di sini kamu bebas melakukan apa aja, kamu nyonya di rumah ini, nanti setiap dua hari sekali akan ada orang yang datang untuk mengambil baju kotor. Pagi hari setelah rumah kosong akan ada orang yang datang untuk bersih-bersih jadi kamu nggak perlu bersih-bersih dan untuk makanan_!"
"Husssttt!" Indah segara meletakan jari lentiknya di depan bibir sang suami agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Untuk makanan, biarkan aku yang masak! Aku mau suamiku makan dari masakan aku sendiri,. Dan untuk kebersihan rumah ini, kalau aku di rumah aku akan membersihkan rumah ini sendiri, bagaimana?"
Bima tercengang, ternyata istri yang ia anggap polos itu ternyata bisa mengajukan argumennya sendiri.
"Kok malah bengong sih mas?"
"Enggak! Aku kira kamu akan menerima apa saja yang aku ucapkan! Ini sungguh surprize!"
Indah tersenyum dan menakup kedua pipi sang suami, "Ini baru permulaan mas, Indah mu ini tidak akan pernah membuatmu kecewa! Baiklah kalau begitu bagaimana jika aku memasak untuk Mas Bima sekarang?"
"Ide yang bagus!"
Indah pun hampir beranjak dari tempatnya tapi segera di tahan oleh Bima,
"Ada apa lagi mas?"
"Selama aku tidak tinggal di sini, aku jarang mengisi lemari pendingin!"
"Jarang, itu berarti masih ada kan?"
"Ya! Tapi aku nggak yakin bisa di masak!"
"Coba aku lihat deh kalau begitu!"
Indah pun benar-benar membuka lemari pendingin, dan benar saja lemari pendingin yang besar itu hampir tidak ada isinya.
Di sana hanya ada dua butir telur, sawi yang sudah hampir layu dan daging.
Ia pun mulai memikirkan makanan apa yang bisa ia buat dengan bahan seadanya itu.
Berbekal keahliannya memasak, akhirnya dengan bahan seadanya itu ia bisa menciptakan masakan baru.
"Taraaaaa ...., makanan sudah siap!"
Bima yang baru saja mandi dan berganti baju pun segera menghampiri sang istri di dapur dan ia begitu antusias dengan masakan yang di buat sang istri.
"Ini apa namanya?"
"Apa ya namanya? Kayaknya belum ada nama yang tepat deh untuk masakan ini!"
"Bagaimana kalau ....., egg funny?"
Ha ha ha
Indah tertawa mendengarkan usulan sang suami, "Itu cute banget mas namanya!"
"Sama kayak kamu!" Bima menowel hidung Indah hingga pemiliknya tersenyum malu.
"Sudah ah mas, jangan muji terus! Lebih baik segera di coba aja!"
"Baiklah, aku akan mencobanya!"
__ADS_1
Bima pun segera memakan masakan sang istri. Ini untuk pertama kalinya ia merasakan masakan sang istri,
"Gimana mas?" Indah terlihat khawatir melihat ekspresi suaminya.
"Ini sungguh luar biasa, kamu seorang chef ya?"
"Apaan sih mas, mas menghina Indah ya?"
"Suami muji kok di bilang hina sih, mas serius! Ini benar-benar enak!"
"Indah cuma belajar dari YouTube mas!"
"Aku rasa saran Bram tidak salah!"
"Jadi Indah boleh nih mas kursus memasak?" Indah tidak menyangka dengan apa yang di katakan suaminya.
"Iya, tapi...!"
"Tapi apa mas?"
"Tapi kamu harus janji, nilai kuliahmu bagus dan kamu bisa mengurus rumah dengan baik!"
"Siap bos!" Indah meletakkan telapak tangannya di pelipis persis seperti memberi hormat. Hal itu membuat Bima semakin gemas hingga membuatnya mencubit hidung sang istri.
"Aughhhh, sakit mas!"
"Siapa suruh kamu menggemaskan begitu!"
"Sudah dari sananya mas!"
"Oh iya, segera selesaikan makannya, aku akan tunjukan sesuatu untukmu!"
Indah pun segera menghabiskan makanannya. Setelah selesai makan malam, indah segera membersihkan piring kotor dan menyusul suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke ruang kerja.
Indah baru tahu kalau di tempat tinggal barunya ini, juga ada ruang kerja dan kerennya lagi Bima sengaja membagi ruangan itu untuk ruang belajar Indah dan ruang kerjanya.
"Mas!"
"Masuklah!"
Indah melihat Bima sedang duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu, ia juga memegang benda pipih di depannya. Tampak layarnya masih menyala, itu artinya dia baru saja melakukan pekerjaan.
"Duduklah!" Bima menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya. Perlahan Indah pun duduk tapi masih ada jarak di antara mereka.
"Bisa nggak dekatan sini?" Bima kembali menepuk tepat di sampingnya dan indah pun menggeser tubuhnya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
Srekkkk
Bima segera melingkarkan lengannya di pinggang ramping Indah, ia juga menyusupkan wajahnya ke cekuk leher Indah, walaupun geli Indah berusaha keras untuk menahannya.
"Katanya mas Bima punya sesuatu untuk Indah, apa?"
"Sebentar, mas sedang ingin berada di posisi ini sejenak saja!"
Mas Bima manja sekali ternyata .....
__ADS_1
Indah pun memilih membiarkan apa saja yang di lakukan oleh sang suami hingga pria itu puas. Cukup lama Bima dalam posisi itu hingga akhirnya Bima melepaskan pelukannya.
"Terimakasih ya, sebenarnya tadi ada sedikit masalah, tapi sekarang masalahnya sudah hilang!"
"Serius ya mas masalahnya?"
Bima menggelengkan kepalanya, "Hanya sedikit masalah di pekerjaan! Oh iya!"
Bima pun meletakkan beda tipis yang tadi ada di pangkuannya dan kini mengambil benda pipih yang lain di atas meja, benda berwarna pink, begitu manis dengan gambar hati di beberapa bagian atasnya.
"Ini untukmu!"
"Hahhhh!!! Ini serius mas?"
"Memang wajahku tampak becanda?"
Indah menggelengkan kepalanya cepat, "Enggak, tapi ini?"
"Ini bisa membantu kamu buat mengerjakan tugas kuliah kamu!"
Ya ampun mas, kamu baik sekali!" Indah dengan cepat berhambur memeluk sang suami.
"Kalau begitu aku akan meminta imbalan!" Bima mendekatkan wajahnya ke wajah Indah membuat Indah tercengang.
Indah dengan cepat mencubit pinggang sang suami,
"Aughhhh, sakit! Kenapa malah di cubit sih?"
"Abis mas Bima gitu!"
Bima tersenyum dan mengusap pipi Indah, "Becanda, tidurlah! Besok kamu harus bangun pagi, jangan sampai di hari pertama kamu kuliah kamu malah telat!"
"Mas?"
"Aku lanjutkan pekerjaanku dulu, tidurlah!"
"Baiklah, selamat malam mas Bima!"
"Selamat malam!"
Indah pun terpaksa meninggalkan suaminya terlebih dulu.
Sesampai di kamar, ia sengaja menunggu suaminya. Tapi hingga larut sang suami masih tetap belum kembali ke kamarnya. Walaupun tidak akan melakukan apa-apa, tapi tidur di samping suaminya sudah membuatnya nyaman.
"Masak sampai jam segini mas Bima belum selesai sih kerjanya!?" gumamnya pelan sambil memandangi jam yang tergantung di dinding, jarum pendek sudah mengarah ke angka dua belas.
Karena Bima tidak juga kembali, rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan membuat Indah terbuai ke dunia mimpi.
Ini sudah hampir dua minggu mereka menikah tapi suaminya tidak juga berniat untuk menyentuhnya, padahal seharusnya hubungan mereka sedang hangat-hangatnya sebagai pengantin baru.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...