
Akhirnya kafe depan kampus menjadi tujuannya, sebenarnya ingin mengajak Aya. Tapi ternyata Aya sedang ada urusan lain, terpaksa Indah pun duduk sendiri di sana. Bukan hal yang buruk karena memang ia sedang ingin sendiri.
Apalagi sekarang di dukung dengan suasana hujan di luar, terlihat dari dinding kaca di sebelahnya, hujan lumayan lebat. Ia tidak punya kendaraan pribadi untuk menembus hujan. Uang yang di beri oleh Bima cukup banyak, tapi untuk membeli satu motor ia masih enggan memanfaatkan uang itu. Tapi mau bagaimana lagi, untuk hidup sehari-hari tetap saja ia harus memakainya.
Ini sudah satu minggu semenjak Bima pergi dari rumah, hampir setiap hari pria itu menanyakan kabarnya tapi Indah masih enggan menjawabnya. Ia hanya butuh waktu sampai suratnya jadi dan akan menyerahkan pada Bima untuk di tanda tangani dan sementara itu ia hanya harus menghindar dari Bima.
Hingga manik matanya menangkap sosok yang cukup ia kenal, sepertinya ia baru saja menembus hujan, terlihat bajunya yang sedikit basah.
Rasanya ingin sekali menghindar dan tidak usah bertemu dengan dia, tapi nyatanya wanita itu sudah lebih dulu melihatnya. Renata berjalan mendekati Indah, "boleh ikut duduk?"
Indah tidak punya alasan selain menerimanya, tanpa kata-kata ia hanya mengacungkan tangannya mempersilahkan Renata duduk.
Tanpa basa-basi Renata langsung memesan sebuah minuman hangat, mungkin sengaja ia lakukan untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin karena kehujanan.
Tampak tubuh Renata lebih kurus, mungkin karena efek ia baru saja keluar dari rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu, aku dengar kamu baru saja di rawat di rumah sakit?" Indah sengaja memancing pertanyaan, lagi pula baginya tidak ada urusan lain selain menanyakan kabar Renata. Ia sudah tidak punya hak untuk meminta pertanggung jawaban Renata atas kebohongan yang dilakukan Renata dan Bima, suaminya yang juga suami wanita di depannya itu.
__ADS_1
Renata terlihat tersenyum, "Aku tahu kamu sudah tahu semuanya, jadi lebih baik kita sekarang bicara sebagai sesama wanita! Aku adalah istri pertama Bima, Bima menikah denganmu karena aku yang meminta, semoga kamu juga tahu hal itu, jadi mulai sekarang kamu harus harus menjaga sikap. Biarkan Bima menghabiskan waktunya denganku juga, jangan serakah!"
Mendengar perkataan Renata, rasanya Indah ingin sekali tertawa begitu keras,
Dia yang bermain api, sekarang dia sendiri yang kesusahan untuk memadamkannya ...., aneh ....
"Apa aku salah bicara?"
"Tidak, kamu tidak salah, hanya saja!" Indah sengaja memberi jeda pada ucapannya agar wanita di depannya semakin penasaran, "Justru aku ingin mengembalikan mas Bima sama kamu, SEUTUHNYA!"
"Maksud kamu?"
Indah menatap ke luar, bersyukur hujan sudah reda. Ia pun segera berdiri dan menyambar tasnya yang ia letakkan di atas meja, "Hujan sudah reda, jadi maaf aku tidak bisa menemanimu menghabiskan kopimu. Sampai jumpa lain waktu!"
Akhirnya Indah benar-benar pergi, menembus gerimis. Ia sudah Tidka betah berlama-lama dengan Renata.
Wanita yang masih duduk itu tampak memperhatikan Indah yang sudah berlari dan kebetulan ada taksi kosong yang tengah melintas.
__ADS_1
"Tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi. Bagaimana kalau benar Indah dan Bima bercerai?"
"Itu artinya_!"
"Ahhhh tidak, tidak. Kalau Indah sudah menggugat Bima, lalu Bima tinggal di mana selama ini, ia tidak mungkin kan kembali ke rumah orang tuanya."
Renata tampak cemas, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selanjutnya jika sampai Bima dan Indah bercerai. Bukan hanya dirinya yang akan menderita tapi juga pastinya keluarga Bima.
"Ini nggak boleh di biarkan, aku harus memberitahukan hal ini pada Tante Rose."
Bersambung
Nb: Maaf ya soal kemarin, babnya Doble. Ada masalah jaringan soalnya, bab yang udah aku up tidak muncul di permukaan jadi aku up lagi tapi ternyata jadinya Doble 🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...