Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Masuk rumah sakit


__ADS_3

Ini hari libur, tidak seperti biasanya yang menghabiskan waktu.liburnya di rumah saja. Indah kali ini lebih tertarik untuk pergi jalan-jalan.


Ia tidak bisa mengajak Aya karena tiba-tiba Aya ada acara dengan chef Bram.


"Mereka pasti kencan, tega sekali meninggalkan aku sendiri." gumam Indah kesal sambil menenteng dua buah paperbag di tangannya.


Tapi saat hendak keluar dari pusat perbelanjaan itu, langkahnya terhenti karena ia melihat seseorang keluar dari dalam taksi,


"Itu Renata!" gumamnya pelan.


Dari pada berhubungan dengan wanita itu, Indah memilih bersembunyi danemginyipnya dari balik papan pengumuman produk yang terdiri di depannya.


"Males berurusan sama dia." gumamnya lagi.


"Ke salon udah, spa udah, sekarang tinggal belanja." ucap wanita dengan perut besar itu, tapi baru saja ingin melangkahkan kakinya memasuki pusat perbelanjaan tiba-tiba seseorang berlari ke arahnya dan menarik tasnya begitu kuat.


Tapi Renata yang tidak ingin kehilangan tasnya pun berusaha untuk mempertahankan tasnya.


"Tolong, tolong!?" teriak Renata dan kebetulan sekali depan pusat perbelanjaan itu sepi, sepertinya satpam pun tengah istirahat makan siang karena ini benar-benar siang bolong.


"Aku harus bagaimana sekarang?" karena ikut panik, Indah malah bingung apa yang harus ia lakukan. Kemudian selagi Renata dan pria dengan topi yang sedikit menutupi wajahnya itu saling berebut tas, Indah mencari benda tumpul yang bisa ia gunakan untuk memukul pria itu.


Hingga akhirnya ia menemukan sebuah tongkat satpam yang berada di sudut pintu masuk.


Beberapa orang juga terlihat hendak mendekati Renata, tapi karena jarak Meraka jauh cukup membutuhkan banyak waktu.


Baru saja Indah keluar dari pintu masuk, pria itu sudah lebih dulu menendang perut Renata hingga membuat Renata terjatuh ke belakang dan pria itu membawa lari tas Renata.


"Hei, tunggu!?" teriak Indah yang sudah berlari beberapa langkah,


Sebenarnya Indah hendak mengejar tapi ia kembali menoleh ke belakang, melihat Renata yang tersungkur di lantai dengan darah yang sudah mengalir dari balik rok pendeknya membuat Indah ragu


"Ahhh sudahlah!?"


Indah kembali berbalik dan mendekati Renata, selain Indah beberapa pengunjung lainnya juga sudah mulai berkerumun.


Satpam ternyata harus aja dari kamar mandi pun segera mengejar pria tadi,


"Tolong, tolong bantu Panggil ambulan atau apa?!" Indah begitu panik sedangkan Renata tengah menahan sakit sambil memegangi perutnya dengan darah segar yang terus mengalir semakin banyak.


Hingga akhirnya ambulan yang di miliki pusat perbelanjaan itu datang, Indah di bantu oleh petugas kesehatan dan juga pengunjung lain memasukkan ke dalam ambulan.


"Anda siapa?" tanya salah satu petugas medis.


"Saya_, saya!" Indah bingung harus menjawab apa tapi tanganya kini tengah di genggam oleh Renata.


Melihat keadaan Renata yang seperti itu, ia tidak setega itu.


"Saya temannya!?"


"Baiklah, berarti anda harus ikut dan sementara menjadi penanggung jawab."

__ADS_1


"Baik!"


Akhirnya dengan terpaksa Indah ikut mobil ambulan itu ke rumah sakit.


Renata sudah di masukkan ke ruang gawat darurat, sedangkan Indah mondar mandir di depan ruangan itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


Tapi kemudian ia teringat dengan Aya, Ia pun terpaksa menghubungi sahabatnya itu.


Dan benar saja, setelah lima belas menit Aya datang dengan chef Bram,


"Indah!?"


Indah pun segera berhambur memeluk Aya,


"Duduklah dulu!" ajak Aya dan mereka pun duduk di kursi tunggu yang sama sedangkan chef Bram duduk di bangku lain yang terpisah dari mereka.


Indah pun akhirnya menceritakan semuanya pada Aya dan chef Bram.


"Kamu sudah kasih tahu Bima belum?" tanya Aya dan Indah pun menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik kamu kasih tahu dia deh, dari pada nanti kamu yang repot!?"


"Gitu ya?"


"Hmmm!"


"Tapi aku sudah lama nggak berhubungan sama mas Bima!"


Akhirnya Indah pun menuruti permintaan Aya, ia juga tidak mau berurusan terlalu banyak dengan Renata apalagi keadaan Renata yang seperti itu.


Indah pun memalukan panggilan beberapa kali, tapi tidak juga di angkat.


"Nggak di angkat!?"


"Mungkin masih sibuk dia, coba bentar lagi."


Dan benar aku, setelah setengah jam Indah kembali menghubungi Bima dan akhirnya di angkat.


"Hallo Indah!?"


"Hallo mas Bima!"


"Apa ada masalah?"


"Iya, ini tentang Renata!"


"Kenapa lagi Renata? Apa dia membuat masalah denganmu lagi?"


"Tidak, tapi Renata sekarang sedang ada di rumah sakit. Tadi ada sedikit insiden."


"Dengan kamu?"

__ADS_1


"Bukan! Dengan pencopet!?"


"Bagaimana keadaannya sekarang? Maksudku bayiku?"


"Renata masih dalam.penanganan, aku akan mengirimkan lokasi rumah sakitnya!"


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama, aku tutup ya mas!"


Akhirnya Indah benar-benar menutup sambungan telponnya.


"Bagaimana?" tanya Aya yang penasaran.


"Mas Bima akan datang!"


"Baguslah, kita bisa.segera pergi!?"


Sedangkan pria yang biasanya banyak bicara itu hanya terdiam. Ia berada di posisi yang serba salah.


Mau bagaimanapun Bima dan Renata adalah sahabatnya sedangkan Aya, dia telah menjadi kekasihnya sekarang.


Ceklek


Tiba-tiba pintu itu terbuka, membuat mereka berdiri dan menghampiri seseorang yang keluar dari ruangan itu,


"Bagaimana keadaannya suster?" tanya chef Bram.


"Apa anda suaminya?"


"Bukan!?" dengan cepat chef Bram mengibaskan tangannya.


"Lalu dimana suaminya? Kami butuh persetujuannya cepat untuk segera melakukan tindakan!"


"Suaminya akan segera datang!"


"Baiklah, jika suaminya sudah datang. Segera minta dia untuk menemui kami!"


"Baik!?"


Suster itu pun kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan masih menyisakan kebingungan ketiga orang itu, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2