
Rena uring-uringan di tempatnya mengetahui jika bima seharian ini bersama dengan Indah bahkan tidak menghubunginya.
"Kamu tega Bim, kamu tega sama aku!?"
Pyaakkkkkk
Rena melempar semua barang 6ang ada di atas nakasnya dan menjatuhkan bohongnya ke tempat tidur dengan kasar. Ia nyunggar rambutnya dengan jari-jarinya Hinga kulit kepalanya tertarik kebelakang.
Ia benar-benar frustasi,
"Aku salah apa sama kamu, hingga kamu setahap itu sama?"
Ia terus menangis sepanjang malam berharap Bima akan menelponnya dan meminta maaf padanya, tapi nyatanya tidak. Bahkan pesannya sama sekali tidak berniat ia baca dan balas.
"Kamu kerelaluan, Ahhhhh....!"
Entah sudah berapa kali ia berteriak hari ini, menumpahkan segala emosinya.
"Aku akan bikin perhitungan sama gadis itu, dia sudah berani rebut kamu dari aku!"
...***...
Bima keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan mandinya, ia tercengang hingga hampir menjatuhkan handuknya saat melihat posisi Indah yang tengah tertidur tanpa tertutup selimut.
"Lupakan!"
Bima segera menggelengkan kepalanya cepat dan berlalu ke depan untuk menjemur handuk.
Ia kembali masuk dan mematikan lampu agar tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana paha mulus Indah yang terekspose.
Bima segera ikut naik ke tempat tidur, tapi apa yang di pikirkan salah, di bawah temaram lampu semakin membuat Indah terlihat cantik.
Bima menatap wajah Indah, terlihat begitu cantik dengan anak rambut yang menghalangi wajahnya.
Tangan Bima segera terulur untuk menyisihkan anak rambut itu.
Dia cantik sekali ....
Ingin rasanya mengulang apa yang terjadi tadi di pantai, tapi bayangan rasa bersalah kembali muncul.
Bima mengabaikan perasaannya, ia memilih merebahkan dirinya begitu saja di samping indah.
Plekkkk
Tapi tiba-tiba tangan dan kaki Indah menimpa dada dan pangkal pahanya, hanya dengan sekali gesekan saja kaki Indah sudah bisa membangunkan yang tengah tertidur.
Bahkan saat ini Bima kesulitan untuk bernafas, ia tidak ingin ataupun bergerak agar tidak semakin membuat hasratnya muncul.
Jika bersama Rena ia bahkan tidak pernah merasakan gejolak yang seperti ini.
Tiba-tiba kaki Indah melakukan gerakan naik turun, menggesek juniornya. Kepala Indah sekarang juga sudah berada begitu dekat dengan dirinya.
"Indah?!"
Panggilnya berharap wanita itu akan bangun dan memindahkan kakinya. Tapi ternyata tidak ada respon.
Bahkan saat ini keringat dinginnya seakan berlomba-lomba untuk keluar meskipun udara begitu dingin.
Karena tidak ada respon dari Indah, Bima pun perlahan memindahkan kaki Indah. menggeser tubuhnya perlahan dan berlari kembali ke dalam kamar mandi. Ia segera menuntaskan apa yang belum sempat terjadi.
Setelah cukup lama di kamar mandi, Bima memutuskan untuk tidur di sofa, ia tidak mau kejadian tadi terulang kembali.
...***...
Indah sudah siap dengan baju yang ia kenakan kemarin,
"Kita langsung pulang mas?"
"Iya, maaf ya. Hari ini aku ada meeting. Kamu nggak pa pa kan?"
__ADS_1
"Nggak pa pa, lagi pula Indah juga ada kelas!"
"Bagus deh!"
Bima mengantar Indah ke apartemen,
"Turunlah, aku langsung ke kantor saja!"
"Nggak ganti baju mas?"
"Di kantor ada baju ganti!"
"Ohhh, ya udah Indah turun ya!"
"Iya!"
"Tunggu bentar, boleh hadap ke Indah bentar nggak?"
"Apa?" Bima menoleh menatap Indah.
Cup
Tiba-tiba bibir Indah sudah menempel di bibirnya membuat Bima terpaku.
Indah kembali menjauhkan bibirnya dan membuka pintu mobil,
"Sampai jumpa nanti malam, mas!"
"Sampai jumpa!"
Indah segera melambaikan tangannya setelah turun dari mobil.
Sebelum ke kampus, Indah lebih dulu mengganti bajunya dan memesan taksi online.
...***...
Sesampai di kantor, langsung di sambut oleh Rena, ia meminta penjelasan Bima tapi Bima memilih diam.
"Tolong untuk sementara ini kita jalan sendiri-sendiri dulu ya, aku sedang pusing dengan semua yang terjadi!"
"Aku nggak mungkin bisa jauh dari kamu!"
"Beri aku waktu sebentar saja, satu Minggu!"
"Baiklah, aku akan menunggumu!"
Bima yang merasa sedang terombang ambing sedang berusaha untuk menata diri. Ia sudah mengambil banyak keputusan dan saat ini ia juga harus mulai memikirkan langkah selanjutnya.
Tidak seharusnya ia membawa Indah ke dalam masalahnya saat ini, tapi semua sudah terlanjur. Benar apa yang di katakan Bram. Semua keputusan ada di tangannya.
...****...
Beberapa bulan berlalu, Bima menjadi sangat manis. Walaupun hubungan mereka sama sekali tidak berkembang tapi Bima tidak pernah pulang terlalu larut.
Indah dan Dava tetap melanjutkan sebagai pasangan kontrak dan akan berakhir saat keluar dari kampus.
Aya yang mengetahui status asli mereka, hanya bisa menggelengkan kepalanya setiap kali mereka bertengkar di balik layar alias saat tidak ada orang lain di antara mereka.
"Kalian benar-benar ya, seperti kucing sama anjing. Andai saja kalian pacaran beneran_!"
"Nggak!"
"Nggak!"
Dava dan Indah memangkas ucapan Aya dengan cepat.
"Woi, santai ....!?"
"Jangankan di dunia, dalam mimpi aja ogah pacaran sama dia!" Indah benar-benar bersikukuh.
__ADS_1
"Kamu nggak lihat semua cewek rela desak-desakan cuma buat bisa dekat sama aku, harusnya kamu tuh bersyukur!"
"Apanya yang di syukuri!? Musibah iya!"
...***...
"Nyonya memanggil saya?"
Dio sudah berada di sebuah ruangan yang begitu privat. Hanya ada mereka berdua saat ini.
"Iya, duduklah!"
Dio pun segera duduk, suasana di ruangan itu berubah dingin karena tatapan nyonya besar itu.
"Sekarang katakan sejujurnya pada saya!"
"Apa yang ingin nyonya ketahui dari saya?"
"Apa benar Bima dan wanita itu masih saling berhubungan?"
"Maksud nyonya?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, saya tahu kamu mengerti apa yang saya maksud! Saya di sini tidak akan memaksa kamu bicara, kamu hanya boleh mengatakan ya atau tidak!"
"Maafkan saya nyonya!"
"Saya yang akan berurusan dengan Bima jika dia marah padamu, apa benar mereka sudah menikah siri tanpa sepengetahuan kami?"
"Nyonya_!"
"Jawab iya, atau tidak!"
"Iya!"
"Apa benar Bima juga memperkerjakan dia di kantor?"
"Iya nyonya.Tapi semua karena _!"
"Cukup, kamu boleh pergi sekarang!"
Dio pun segera berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan,
"Selamat siang nyonya!"
Nyonya Rose belum beranjak dari tempatnya.
Ternyata nyonya Rose mengetahui jika Bima masih berhubungan dengan Rena. Beberapa hari ini ia yang mengirim mata-mata untuk mengecek perkembangan hubungan antara Indah dan Bima malah menemukan fakta lain.
"Bima benar-benar keterlaluan!?" gumamnya sambil mengepalkan tangannya,
"Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan wanita itu. Dia Tidka baik untuk Bima!"
"Indah, ya Indah! Kenapa aku tidak kepikiran untuk menggunakan Indah, jika Bima jatuh cinta sama Indah pasti dia akan bisa melupakan wanita itu."
Nyonya Rose mencari cara untuk merenggangkan hubungan antara Bima dan Rena.
"Aku harus menghubungi Indah sekarang!"
Nyonya Rose pun mengambil benda pipinya, mencari nomor Indah dan melakukan panggilan.
"Hallo ma!"
"Hallo Indah!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...