
POV Indah
Aku tidak bisa memilih bagai mana aku akan hidup, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik yang bisa saya lakukan.
Hari ini sidang pertama perceraian kami, aku tidak lagi punya hak memikirkan bagaimana perasaan mas Bima, semenjak saat itu bahkan aku tidak ingin menemuinya lagi, bagiku sudah cukup waktu setengah tahun yang kami habiskan dalam sebuah ikatan pernikahan.
Banyak sekali hal yang bisa saya dapat, pelajarannya, sakitnya dan kuatnya menjadi seorang Indah.
Deg
Jantungku kembali berdetak saat sepasang suami istri mulai memasuki ruang pengadilan, seharusnya aku sudah tidak heran karena di sini akulah yang jadi orang ke tiga,
Mas Bima dengan Renata, kenapa hatiku masih terasa sakit?
Walaupun seharusnya aku tahu, mungkin aku hanya kurang tahu diri saja.
Giliran kami masih lama, masih ada beberapa nomor antrian sebelum kami. Aku kadang heran, apa mereka juga punya masalah yang sama sepertiku hingga memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya di sini?
Setiap harinya, tempat ini sepertinya tidak sepi pengunjung, selalu ada yang antre dengan kasus yang sama, sebuah perceraian.
Aku kembali duduk, memilih menundukkan kepalaku. Berharap tidak akan melihat mereka yang tengah bermesraan.
Hari ini Dava berniat menemaniku, tapi aku sengaja menolaknya. Sudah jelas, aku tidak mau terlalu menarik dia dalam masalahku. Sudah cukup dengan memberiku tempat tinggal, dan setelah ini aku ingin hidup dengan tenang, menjadi mahasiswa seperti teman-teman lainnya.
Pernikahan mudaku tidak berhasil, kelak jika ada jodoh lagi. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya dalam pernikahan suamiku.
Dava, apakah dia? Tapi dia terlalu baik, rasanya aku yang seorang janda tidak akan pantas bersanding dengan putra keluarga besar seperti Dava.
__ADS_1
"Indah!"
Panggilan seseorang seketika membuyarkan lamunanku, aku sejenak mengalihkan tatapanku dari layar ponsel yang tengah aku pegang.
Dia kenapa duduk di sampingku?
Sungguh tidak tahu malu, kenapa dia duduk di sampingku? Aku merasa tidak punya urusan dengannya.
"Aku ingin bicara! Maksudku kita harus bicara."
Renata tampak mencoba mencari perhatianku, sejenak aku melirik pria yang duduk cukup jauh dari kami. Dia tetap terlihat tenang,
"Bicaralah, aku akan mendengarkannya!" ucapku masih tetap tidak berniat menatap ke arahnya, aku memilih mencari objek yang menarik yang bisa aku lihat.
"Indah, bisakah kamu pikirkan lagi? Kita bisa menjadi satu keluarga, aku kamu dan Bima. Aku tidak akan mempermasalahkan kalau Bima mau menginap di rumah kamu lebih lama."
Aku berdecak lirih, tapi aku yakin Renata juga menyadarinya.
"Kenapa? Bukankah perceraian ini bagus untukmu? Kamu akan mendapatkan mas Bima seutuhnya!"
"Baiklah, katakan jika itu benar. Aku tidak munafik aku senang Bima menjadi milikku seutuhnya, tapi soal perusahaan_?" Renata sepertinya ragu mengatakan segalanya padaku, rupanya masih punya malu juga. Atau aku yang terlalu baik hingga menganggap itu hal yang wajah.
"Jangan khawatir, aku bukan orang yang begitu serakah hingga mengambil semuanya. Aku akan tetap memberikan bagian yang seharusnya menjadi milik keluarga mas Bima, anggap saja ini bentuk rasa terimakasih saya karena sudah menjaga perusahaan orang tuaku. Itu adil kan?"
"Tapi bima bos di perusahaan itu! Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan!" terdengar dari suaranya, Renata sepertinya mulai emosi. Memang itu yang ingin aku lihat, aku ingin melihat betapa congkaknya wanita di sampingku ini dengan segala keterbatasannya sekarang.
Atau bisa jadi dia adalah wanita bermuka dua, yang bisa saja tiba-tiba baik karena ada maunya.
__ADS_1
"Kamu salah, akulah bos nya dan Bima suami kamu itu hanyalah pelaksana! Jadi jangan memaksakan diri."
"Antrian nomor 035!" seorang petugas memanggil kami, membuat suara Renata yang hampir keluar harus tertahan karena aku sudah berdiri.
"Bim, aku ikut!" samar-samar aku dengar bisik di belakangku sebelum kami memasuki ruangan jaksa.
"Tidak!"
"Tapi_!"
Aku sudah bisa membayangkan bagaimana perdebatan di belakangku, tapi aku memilih untuk tidak peduli, aku segera masuk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Selang beberapa detik, mas Bima menyusulku duduk di bangku kosong di sebelahku. Di depan kami sudah ada tiga orang yang siap untuk mengintrogasi kami.
Para jaksa memberikan beberapa pertanyaan, dan aku yang mendominasi pertanyaan sedangkan mas Bima memilih menunduk dan sesekali menjawab iya, tidak ada penolakan sama sekali,
Entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini, sehingga ia dengan mudah menyetujui tuduhan yang aku lontarkan. Tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu saja menolak.
Ternyata hari ini hanya ada pengajuan, Minggu depan masih harus di adakan mediasi. Aku tahu prosesnya tidak akan mudah karena aku yang mengajukan gugatan. Butuh waktu yang panjang, dan aku harus siap dengan semuanya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...